Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz. Namun Iran merespons dengan keras dan menyatakan pasukan AS akan terperangkap dalam pusaran maut di selat tersebut.
Semarak.co – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Republik Iran menegaskan, pasukan keamanan Iran menguasai Selat Hormuz sepenuhnya. Mereka memeringatkan, kesalahan perhitungan AS akan mengakibatkan pasukan Washington terperangkap dalam “pusaran maut” di sana.
Komando Angkatan Laut IRGC membuat pernyataan tersebut dalam unggahan berbahasa Persia di media sosial X pada hari Minggu (12/4/2026). Itu sebagai respons atas perintah Donald Trump untuk memblokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz.
“Semua lalu lintas berada di bawah kendali penuh angkatan bersenjata (kami),” bunyi unggahan komando tersebut. “Dan musuh akan terperangkap dalam pusaran maut di Selat (Hormuz) jika (mereka) melakukan kesalahan.”
Trump mengumumkan pada hari Minggu, Angkatan Laut AS akan segera memulai blokade untuk mencegah kapal memasuki atau meninggalkan Selat Hormuz. Langkah ini diambil setelah pembicaraan damai AS-Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.
Iran telah menuntut hak untuk memungut bea dari kapal yang melewati selat tersebut. Donald Trump menjawab bahwa tidak seorang pun yang membayar bea tersebut akan “mendapatkan perjalanan aman di laut lepas”.
Paman Sam dan Iran telah mengadakan pembicaraan tatap muka selama 21 jam di Islamabad pada hari Sabtu (11/4) hingga Minggu (12/4). Negosiasi berakhir tanpa kesepakatan, sehingga status gencatan senjata dua minggu yang rapuh menjadi tidak pasti.
“Faktanya adalah kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mencari senjata nuklir dan mereka tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai senjata nuklir,” kata Wakil Presiden AS JD Vance.
Konflik, yang kini memasuki minggu ketujuh, telah menewaskan ribuan orang dan memengaruhi pasar global. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan dalam penghitungan korban harian bahwa 252 wanita, 165 anak-anak dan 87 petugas medis termasuk di antara yang tewas.
Jumlah itu dengan 6.588 lainnya terluka karena Israel terus membombardir negara tersebut. Delegasi AS, yang dipimpin oleh Vance dan delegasi Iran, yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, telah membahas cara-cara untuk memajukan gencatan senjata.
Pembicaraan tersebut diperumit oleh perbedaan pendapat yang mendalam dan serangan Israel yang terus berlanjut terhadap Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Demikian dilansir SindoNews.com dan media Barat pada 13/4/2026.
Donald Trump mengatakan kepada media Barat, Fox News bahwa ancaman yang dilontarkannya untuk mengenakan tarif 50% pada barang-barang dari negara-negara yang menjual senjata ke Iran ditujukan kepada negeri tirai bambu China.
Dia mengatakan telah mendengar laporan tentang China yang memasok “rudal bahu” anti-pesawat ke Iran. Trump meremehkan kemungkinan tersebut tetapi memeringatkan bahwa pasokan semacam itu akan memicu pengenaan tarif.
“Saya ragu mereka akan melakukan itu, karena saya memiliki hubungan dan saya pikir mereka tidak akan melakukan itu, tetapi mungkin mereka sedikit melakukannya di awal,” kata Trump dalam unggahannya di media sosial.
“Tetapi jika kita menangkap mereka melakukan itu, mereka akan dikenakan tarif 50%,” kata Trump. Pada Selasa pekan lalu, Trump memposting di Truth Social: “Seluruh peradaban akan mati malam ini, tidak akan pernah dihidupkan kembali.”
Dalam wawancara dengan media Barat Fox News, dia mengatakan bahwa ancaman sebelumnya tersebut telah membawa Iran ke meja perundingan. Dia juga menyinggung pernyataan-pernyataan dari Republik Islam Iran.’
Pernyataan tersebut termasuk “Matilah Amerika. Matilah Israel. Amerika adalah Setan.” Trump mengeluarkan peringatan baru bahwa Amerika Serikat akan menyerang infrastruktur sipil Iran jika para pemimpinnya tidak setuju untuk meninggalkan program nuklirnya.
“Dalam setengah hari, mereka tidak akan memiliki satu jembatan pun yang berdiri, mereka tidak akan memiliki satu pembangkit listrik pun yang berdiri, dan mereka akan kembali ke zaman batu (zaman jahiliyah),” kata Donald Trump.
Membela blokade yang direncanakan, Trump mengatakan Iran tidak dapat memutuskan kapal mana yang dapat melewati Selat Hormuz. “Kita tidak akan membiarkan Iran menghasilkan uang dengan menjual minyak kepada orang-orang yang mereka sukai,” katanya.
kepada Fox News, Senin (13/4/2026). “Ini akan menjadi semuanya atau tidak sama sekali, dan begitulah adanya,” katanya. Dia membandingkan operasi tersebut dengan blokade AS terhadap Venezuela, meskipun dalam skala yang lebih besar. (net/snc/fn/kim/smr)





