Peta kekuatan di Timur Tengah kembali bergerak. Di tengah konflik berkepanjangan dan ketegangan yang terus meningkat, terutama pecahnya perang Iran lawan Amerika Serikat (AS) – Israel, muncul wacana terbentuknya poros baru yang disebut-sebut sebagai Poros Sunni.
Semarak.co – Yang melibatkan negara-negara seperti Arab Saudi, Turki, Mesir dan Pakistan. Wacana Poros Sunni ini bukan sekadar spekulasi melainkan refleksi dari dinamika strategis yang sedang berubah di kawasan.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melihat perkembangan ini dengan kewaspadaan super tinggi. Selama ini, fokus utama Israel adalah menghadapi pengaruh Iran yang memimpin apa yang sering disebut sebagai Poros Syiah. Namun kini, kekhawatiran tampaknya melebar.
Bukan hanya Iran yang dianggap sebagai tantangan, tetapi juga potensi konsolidasi kekuatan negara-negara Sunni yang selama ini cenderung berjalan sendiri-sendiri. Dalam konteks itu, muncul upaya Israel membangun jejaring aliansi yang lebih luas dengan melibatkan negara-negara di luar Timur Tengah.
Seperti India, Yunani, dan Siprus, serta sejumlah mitra di kawasan Arab dan Afrika, yaitu Uni Emirat Arab (UEA), Somaliland, dan Uganda. Sering disebut sebagai Aliansi Enam. Tujuannya jelas: menciptakan keseimbangan baru yang dapat mengimbangi potensi blok-blok regional yang berkembang.
Namun yang lebih menarik justru perubahan arah di dalam dunia Arab sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan luar negeri Arab Saudi menunjukkan fleksibilitas yang semakin tinggi.
Ketegangan dengan UEA, khususnya dalam konteks konflik Yaman dan persaingan pengaruh di kawasan Laut Merah dan Tanduk Afrika, menjadi salah satu faktor yang mendorong Riyadh meninjau ulang strategi lamanya.
Jika sebelumnya pendekatan Saudi cenderung konfrontatif terhadap kelompok atau aktor tertentu seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir, Suriah, Sudan dan Yaman, kini terlihat kecenderungan untuk membangun kembali komunikasi dan bahkan rekonsiliasi dengan pihak-pihak yang dulu dianggap lawan.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Dalam lanskap geopolitik yang semakin kompleks, menjaga kepentingan nasional sering kali menuntut fleksibilitas, bahkan jika itu berarti mengubah posisi lama secara signifikan.
Dalam dinamika yang sama, Turki muncul sebagai pemain kunci. Di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdoğan, Ankara semakin aktif memperluas pengaruhnya, baik secara diplomatik maupun ekonomi.
Sebagian kalangan di Israel bahkan mulai melihat Turki sebagai tantangan strategis baru, bukan hanya karena posisinya di kawasan, tetapi juga karena potensinya membangun kerja sama lebih erat dengan negara-negara lain, termasuk Pakistan yang memiliki kapasitas militer signifikan.
Perubahan ini juga tidak bisa dilepaskan dari perkembangan di Suriah. Tumbangnya rezim lama dan munculnya kekuatan baru di lapangan menciptakan ruang bagi aktor-aktor regional untuk mengisi kekosongan.
Dalam situasi ini, koordinasi antara Turki dan Arab Saudi menjadi semakin relevan, terutama dalam upaya menstabilkan kawasan tanpa terlalu bergantung pada intervensi kekuatan global.
Selain dimensi politik dan militer, persaingan juga terjadi di bidang ekonomi. Proyek koridor ekonomi yang menghubungkan India dengan Eropa melalui Timur Tengah, yang dikenal sebagai IMEC (India Middle East Corridor), menghadapi tantangan serius di tengah konflik yang terus berlangsung.
Sebagai alternatif, muncul gagasan jalur pembangunan baru yang melibatkan Irak, Teluk, dan Turki sebagai penghubung strategis menuju Eropa. Persaingan proyek ini menunjukkan bahwa pertarungan di kawasan bukan hanya soal keamanan, tetapi juga tentang siapa yang menguasai jalur perdagangan masa depan.
Namun, wacana tentang poros Sunni tidak boleh dibaca secara sederhana. Realitasnya, dunia Muslim sendiri tidak homogen. Perbedaan kepentingan, rivalitas lama, dan dinamika domestik masing-masing negara tetap menjadi faktor penentu.
Uni Emirat Arab, misalnya, seperti dilansir republika.co.id melalui laman berita msn.com, Sabtu (18/4/2026), sering dipandang memiliki agenda yang tidak selalu sejalan dengan negara-negara lain di kawasan, sehingga menyulitkan terbentuknya konsensus yang solid.
Pada akhirnya, perubahan sikap para pemimpin di kawasan menunjukkan satu hal yang konsisten dalam politik internasional: kepentingan nasional sering kali lebih menentukan daripada ideologi. Apa yang hari ini dianggap ancaman, besok bisa menjadi mitra, tergantung pada bagaimana peta kekuatan berubah.
Posisi politik pemimpin bisa berubah drastis demi kelangsungan kekuasaan dan kepentingan nasional. Contohnya adalah perubahan sikap Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) terhadap Qatar, Turki, dan kelompok Islamis (baca: IM) yang kini dipandang sebagai sekutu potensial untuk melindungi keamanan regional.
Pertanyaannya kemudian, apakah benar sebuah poros baru sedang terbentuk? Ataukah ini hanya fase sementara dari penyesuaian strategi di tengah tekanan global? Yang jelas, Timur Tengah sedang memasuki babak baru.
Bukan lagi sekadar pertarungan antara dua kutub lama, tetapi arena di mana berbagai aktor mencoba mendefinisikan ulang posisi mereka. Dalam proses ini, aliansi bisa terbentuk, tetapi juga bisa berubah dengan cepat. Bagi pengamat, situasi ini mengingatkan bahwa geopolitik bukanlah permainan hitam-putih.
Ia adalah ruang abu-abu yang terus bergerak, di mana kepentingan, ancaman, dan peluang saling berkelindan. Dan di tengah perubahan itu, yang paling menentukan bukan hanya siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling mampu beradaptasi. (net/rep/msn/smr)





