Rumah Politik Donald Trump Terancam Retak dari Dalam: Perang Iran Guncang Amerika

Rumah politik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terancam retak dari dalam. Dan perang negara Paman Sam didukung Zionis Israel melawan Republik Islam Iran sangat mengguncang Amerika Serikat hari-hari ini.

Semarak.co Menyimak laporan investigatif dan artikel opini yang diterbitkan oleh New York Times, Guardian, dan Majalah Newsweek yang menyebut bahwa AS tengah mengalami krisis kepemimpinan yang mendalam serta perpecahan internal yang tajam.

Bacaan Lainnya

Seperti dilansir Arrahmah.id pada 12/4/2026 lalu, hal ini tentu kini mulai berdampak langsung pada keputusan perang dan perdamaian di tingkat internasional, khususnya setelah dampak konfrontasi militer terbaru dengan Republik Iran.

Sumber-sumber tersebut menegaskan, lanskap politik Amerika tidak lagi sekadar kompetisi antarpartai, melainkan telah berubah menjadi pertarungan eksistensial antara institusi negara tradisional dan gerakan “MAGA”.

Sebuah gerakan konflik yang kini mengancam persatuan di tubuh Partai Republik AS serta konsistensi kebijakan luar negeri Washington. Ketergantungan pada Figur Presiden terlalu berlebihan dan di luar logika politik AS yang dikenal mengandalkan sistem politik ketimbang figur.

Dalam wawancara yang dilakukan oleh jurnalis New York Times, John Ghida dengan ahli strategi Partai Republik Liam Donovan, Presiden lembaga “Targeted Victory”, diungkapkan berbagai kekhawatiran yang melanda tubuh Partai Republik.

Surat kabar berpengaruh di Amerika, New York Times, tersebut menilai bahwa partai sedang berada pada fase krusial dalam mengevaluasi hasil konfrontasi militer dalam perang Iran serta dampaknya terhadap basis pemilih mereka.

Laporan itu menambahkan bahwa Partai Republik kini berada dalam kondisi sangat bergantung pada figur Presiden Donald Trump, di mana upaya para pemimpin partai untuk mengambil jarak darinya gagal, meskipun popularitasnya menurun dalam jajak pendapat publik pasca perang Iran.

Surat kabar tersebut juga menyoroti bahwa Trump berhasil membangun “ikatan mendalam” dengan basis pemilihnya, sehingga anggota Kongres dari partai tersebut lebih berperan sebagai pelaksana kehendaknya daripada sebagai wakil rakyat yang memiliki penilaian politik independen.

Menurut laporan itu, Partai Republik tengah mengalami “erosi internal” yang sebelumnya tertutupi oleh kemenangan pemilu 2024, namun kini mulai terlihat jelas dengan absennya Trump dari surat suara dalam pemilu paruh waktu tahun 2026.

Presiden Donald Trump berhasil mengubah anggota Partai Republik di Kongres menjadi sekadar “perwakilan” yang menjalankan kehendaknya, menurut para analis seperti dikutip Kantor Berita Britania Raya, Reuters.

Koran New York Times menunjukkan, perang Iran telah mengungkap retakan besar di dalam kubu Partai Republik, di mana pendukung pendekatan “America First” yang menolak keterlibatan militer jangka panjang, berbenturan dengan kelompok neokonservatif yang mendorong penyelesaian militer secara tegas.

Surat kabar New York Times juga menegaskan bahwa Trump tidak sepenuhnya berkomitmen pada salah satu dari dua pendekatan itu, melainkan kerap beralih di antara keduanya sesuai kondisi, sehingga menciptakan kebingungan strategis.

Menurut analisis tersebut, titik penentu identitas Partai Republik akan terjadi pada tahun 2028, ketika partai harus memilih antara melanjutkan pendekatan Trump melalui Wakil Presiden JD Vance atau memasuki konflik terbuka dalam perebutan kepemimpinan.

Sementara itu, majalah Newsweek mengungkap, telah terjadi apa yang disebut sebagai “perang saudara” di dalam gerakan MAGA sendiri, menyusul ancaman Trump melalui platform “Truth Social” untuk menghancurkan “sebuah peradaban” di Iran jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz.

Antara Loyalitas dan Prinsip

Dalam laporan yang ditulis oleh editor politiknya, Mandy Taheri, Newsweek menyebut, perang yang dilancarkan Trump ke Iran telah memicu perpecahan tajam dalam gerakan MAGA, serta membuka jurang besar antara loyalitas pribadi kepada Trump dan prinsip politik gerakan “America First”.

Majalah tersebut mencatat bahwa retorika ekstrem Trump terhadap Iran telah menimbulkan perpecahan luas, di mana sejumlah tokoh konservatif terkemuka seperti Tucker Carlson dan Megyn Kelly secara terbuka mengecam sikap presiden.

Dengan mereka menilai bahwa penargetan infrastruktur sipil dan penghinaan terhadap keyakinan agama tertentu, sangat bertentangan dengan prinsip “America First” yang mereka pegang dan pedomani bersama di tengah konstelasi politik.

Majalah Newsweek juga mengutip pernyataan dari Carlson yang mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump “telah tersesat” dan tidak lagi mewakili gerakan yang pernah ia bangun sebelum itu, bahkan dari para koleganya.

Perpecahan yang Belum Pernah Terjadi

Newsweek menegaskan, tingkat perpecahan telah mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan munculnya seruan terbuka dari dalam kubu kanan, yang dipimpin oleh Alex Jones dan mantan anggota Kongres Marjorie Taylor Greene.

Seruan untuk mengaktifkan Amandemen ke-25 guna mencopot Trump dengan alasan “ketidakstabilan mental”. Menurut laporan itu, para sekutu lama menilai, ancaman Trump terkait genosida dan penggunaan senjata nuklir mencerminkan “kegilaan” yang membahayakan keamanan nasional AS.

Trump menanggapi perpecahan ini dengan serangan keras, menyebut para penentangnya sebagai “orang bodoh dan pecundang” yang mencari popularitas murahan, serta menegaskan bahwa gerakannya tetap memberikan dukungan penuh kepadanya.

Kemunduran Nilai

Dalam analisisnya, The Guardian menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memasuki fase “distopia politik”, di mana realitas politik mulai menyerupai gambaran fiksi yang memeringatkan tentang transformasi demokrasi liberal menjadi sistem otoriter atau teokratis.

Surat kabar ternama di Eropa, The Guardian juga menilai bahwa kebijakan terhadap imigran dan perang luar negeri tersebut telah mencerminkan kemunduran nilai-nilai kemanusiaan, yang digantikan oleh nasionalisme ekstrem.

Guardian juga menyoroti bahwa wacana politik di Washington kini semakin bergantung pada intimidasi dan penyangkalan, yang menciptakan jurang besar antara kekuasaan dan realitas di lapangan, dalam apa yang disebutnya sebagai “pergeseran menuju otoritarianisme”.

Bahaya Absennya Trump

Laporan juga membahas dampak ekonomi dan sosial dari perpecahan ini. New York Times menyebut Partai Republik kini bertaruh pada “kemenangan legislatif” seperti perpanjangan pemotongan pajak, mengalihkan perhatian pemilih dari kegagalan dalam menangani inflasi dan pengelolaan perang.

Namun, strategi ini dinilai sangat bergantung pada mobilisasi “pemilih berpartisipasi rendah” yang hanya datang ke TPS ketika Trump terlibat langsung, sehingga menempatkan masa depan partai dalam risiko serius jika ia tidak lagi berada di panggung politik.

Kondisi politik semacam ini lebih diperparah lagi oleh krisis yang juga melanda partai lawannya (Partai Republik), yakni Partai Demokrat, yang juga masih belum mampu menawarkan alternatif yang kuat yang bisa dijalankan.

Melemahnya Kredibilitas Washington

Majalah Amerika Serikat, Newsweek menilai bahwa kontradiksi antara retorika presiden dan langkah diplomasi yang signifikan dan efektif telah amat sangat melemahkan kredibilitas Washington di mata sekutu maupun lawan.

Meningkatnya jumlah korban sipil di Iran dan Lebanon — yang mencapai ribuan menurut organisasi hak asasi manusia — telah menempatkan pemerintahan AS dalam posisi sulit secara moral dan hukum, sekaligus memicu gelombang protes di dalam negeri.

Menuju Titik Balik Sejarah

Ketiga laporan tersebut menyimpulkan bahwa AS tengah menghadapi momen penentu dalam sejarah politiknya, di mana dua pendekatan saling berhadapan: pendekatan institusional yang berusaha memertahankan aliansi tradisional.

Lalu pendekatan MAGA yang ingin merombak peran Amerika di dunia berdasarkan visi nasionalis dan isolasionis. Guardian memeringatkan bahwa konflik ini akan berujung pada melemahnya pengaruh global Amerika.

Sementara surat kabar berpengaruh New York Times menilai bahwa Partai Republik bisa mengalami restrukturisasi besar pada 2028 — yang dapat mengakhiri dominasi Trump atau justru memerkuatnya untuk jangka panjang.

Terbuka pada Segala Kemungkinan

Laporan-laporan tersebut juga menunjukkan bahwa pemilu paruh waktu mendatang akan menjadi ujian nyata, bukan hanya bagi kinerja Trump, tetapi juga bagi ketahanan sistem politik Amerika dalam menghadapi polarisasi yang semakin tajam.

Newsweek memeringatkan bahwa kegagalan mengendalikan krisis kepemimpinan saat ini dapat mendorong penggunaan mekanisme konstitusional luar biasa, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran di kalangan Pentagon dan Departemen Luar Negeri.

Kekhawatiran itu terutama terhadap keputusan presiden yang dianggap impulsif dan berisiko menyeret negara ke konflik nuklir. Dengan demikian, panggung politik AS kini terbuka pada berbagai skenario, di tengah ketiadaan rencana alternatif yang jelas dari institusi politik tradisional. (net/aid/nwk/tg/nyt/rts/kim/smr)

Pos terkait