Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah merevitalisasi Satuan Pendidikan 2025 bagi 16.167 satuan pendidikan. Khusus NTT, pada 2025 revitalisasi menyasar 576 satuan pendidikan, 43 PAUD, 234 SD, 174 SMP, 64 SMA, 44 SMK, 9 SLB, dan 8 SKB dengan total anggaran lebih dari Rp589 miliar.
Semarak.co – Saat ini, pemerintah telah menetapkan SD Negeri Tando, Kabupaten Manggarai Barat mendapat prioritas untuk menerima program Revitalisasi Satuan Pendidikan 2026. Hal ini bertujuan untuk memastikan seluruh murid di Indonesia memperoleh ruang belajar yang layak.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, menjelaskan bahwa revitalisasi akan mencakup pembangunan dan perbaikan sarana prasarana secara komprehensif.
”Revitalisasi difokuskan pada pembangunan 4 ruang kelas baru (RKB) beserta peralatannya, 1 ruang UKS, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang administrasi, pembangunan 1 unit toilet beserta sanitasinya,” ujar Gogot, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Senin (13/4/2026).
Saat ini Direktorat Sekolah Dasar telah menyusun tahapan implementasi yang terstruktur dan terukur. Pada minggu kedua April 2026, dilakukan verifikasi dan validasi (verval) lapangan serta pemutakhiran data untuk memastikan kesiapan teknis dan administratif.
Pada minggu ketiga April 2026, penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai dasar penyaluran bantuan pemerintah. Pada minggu keempat April 2026, bantuan mulai disalurkan langsung kepada sekolah. Pada minggu pertama Mei 2026, pekerjaan fisik revitalisasi dimulai.
Tahapan ini dirancang untuk memastikan proses penyaluran bantuan berlangsung cepat, tepat sasaran, dan akuntabel, sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan oleh murid dan sekolah.
Dirjen Gogot mengajak agar seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah daerah, masyarakat sekitar, dan media bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan di berbagai pelosok wilayah Indonesia khususnya di NTT.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai Barat, Johanis Hani, menyampaikan apresiasi dan terima kasih. Menurutnya, respons cepat ini menunjukkan komitmen nyata pemerintah dalam menjawab kebutuhan di lapangan, terutama terkait percepatan perbaikan fasilitas pendidikan.
“Kami berharap upaya ini dapat terus berjalan dengan baik, sehingga anak-anak, khususnya di SD Negeri Tando dapat segera menikmati fasilitas gedung sekolah yang lebih layak, nyaman, dan mendukung proses pembelajaran secara optimal,” ujar Johanis.
Kepala SD Negeri Tando Fransiskus Jenala berharapan revitalisasi dapat memotivasi warga sekolah untuk menjalankan proses belajar mengajar. Sebab, kondisi fasilitas yang ada saat ini masih jauh dari memadai dengan ruang belajar yang terbatas serta sarana pendukung yang belum optimal.
“Kami sangat berharap adanya penambahan empat ruang kelas baru, pembangunan fasilitas toilet yang layak, serta penyediaan sarana perpustakaan atau ruang belajar yang memadai agar proses pendidikan dapat berlangsung lebih baik, nyaman, dan mendukung peningkatan kualitas belajar siswa ke depan,” harap Fransiskus.
Warga Sekolah Apresiasi IFP
Warga sekolah menyampaikan deretan pengalaman positif perihal penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital. Pelaksana tugas (Plt) Kepala SMP Negeri 8 Pati Rusmi, mengungkapkan pengalamannya menggunakan IFP di sekolah yang menambah suasana kolaboratif antar sesama guru.
“Guru didorong untuk belajar bersama dalam pemanfaatan IFP dan menggunakannya secara bergantian. Meskipun masih terbatas, perangkat ini telah memberikan dampak signifikan terhadap keaktifan dan pemahaman siswa,” jelasnya di SMP Negeri 8 Pati, Minggu (12/4).
Ada juga, Guru TIK SMP Negeri 8 Pati, Mukhibatul Baroroh yang menjelaskan lebih detail bagaimana IFP mampu membuka ruang pembelajaran menjadi lebih interaktif dan partisipatif.
“Melalui fitur seperti multi-touch, touch screen, mirroring, hingga akses internet dan multimedia, pembelajaran dapat dikemas lebih interaktif. Siswa menjadi lebih aktif, antusias, dan lebih mudah memahami materi,” terangnya.
Baroroh menilai IFP terbukti nyata memperkuat kompetensi guru terhadap teknologi di ruang belajar. “Sekolah telah menyelenggarakan lokakarya terkait kecerdasan artifisial dan penggunaan IFP. Selain itu, melalui komunitas belajar, kami saling bertukar pengalaman sehingga ide pembelajaran menjadi lebih variatif,” jelasnya.
Namun di sisi lain, ia juga menyampaikan agar pemerintah dapat meningkatkan kualitas konektivitas guna menunjang pemanfaatan IFP supaya lebih optimal.
“Tantangan yang sering dihadapi adalah konektivitas jaringan yang belum stabil serta keterbatasan perangkat. Selain itu, perawatan IFP juga perlu dilakukan secara rutin,” ungkapnya.
Di masa mendatang, Baroroh berharap dukungan program digitalisasi dapat terus diperkuat. “Kami berharap adanya penguatan pelatihan digital, penyediaan konten pembelajaran, dukungan jaringan, serta penambahan unit IFP agar pemanfaatannya dapat lebih optimal,” tambahnya.
Pengalaman penggunaan IFP juga dirasakan langsung oleh para siswa. Di antaranya, siswa kelas IX, Amira Oktaviana, menyampaikan bahwa pembelajaran menjadi lebih mudah dan menarik.
“Menurut saya, menggunakan IFP lebih memudahkan dalam pembelajaran dibandingkan papan tulis biasa. Materi jadi lebih mudah dipahami dan lebih menarik untuk diikuti,” ujarnya.
Amira menambahkan bahwa penggunaan IFP membantunya saat presentasi di kelas. “Saat presentasi, IFP sangat membantu karena bisa menampilkan gambar dengan jelas sehingga memudahkan saya menjelaskan materi,” tambahnya. (hms/smr)





