Implementasi Surat Edaran (SE) Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) tentang Pelaksanaan Gerakan Mengambil Rapor Bersama Ayah (GEMAR) mulai terlihat di sejumlah sekolah.
Semarak.co – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Perwakilan BKKBN Provinsi Kepri melakukan peninjauan langsung pelaksanaan pengambilan rapor bersama ayah di beberapa sekolah di Kota Batam, Jumat (19/12/2025).
Kepala Perwakilan BKKBN Kepri Rohina mengatakan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari SE Gubernur Kepri yang mendukung penguatan peran ayah dalam pendidikan dan pengasuhan anak, sejalan arahan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN melalui program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).
“Kehadiran ayah sangat penting karena mereka bisa mengetahui secara detail perkembangan, prestasi, serta kekurangan anak melalui penjelasan wali kelas,” ujar Rohina saat meninjau pelaksanaan pengambilan rapor di SMP Negeri 12 Batam dan SMK Negeri 5 Batam.
Menurutnya, keterlibatan ayah dalam momen pengambilan rapor dapat menumbuhkan motivasi belajar yang lebih kuat pada anak. Kementerian kami terus mendorong agar ayah terlibat aktif dalam pendidikan anak. Tidak hanya saat pengambilan rapor, tetapi juga dalam pendampingan sehari-hari.
“Termasuk mengantar anak ke sekolah pada hari pertama masuk sekolah nanti dan memberikan motivasi secara berkelanjutan,” imbuh Rohina dirilis humas Kemendukbangga/BKKBN usai acara melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Sabtu (20/12/2025).
Rohina yang pada Sabtu (20/12/2025) juga berkunjung ke SD An Nadhah dan SMA Negeri 20, menegaskan bahwa gerakan ini bersifat inklusif. Bagi anak yang tidak memiliki ayah kandung karena alasan tertentu, peran tersebut dapat diambil oleh sosok pengganti: paman, kakek, kakak laki-laki, termasuk ibu atau wali.
Salah seorang wali murid, Nendry, mengaku sangat mendukung kebijakan GEMAR. Ia rela meluangkan waktu dan meminta izin dari tempat kerja demi hadir mendampingi anaknya. “Anak itu inspirasinya dari ayahnya. Kehadiran ayah bisa menjadi penyemangat besar bagi anak untuk lebih maju dalam belajar,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari pihak sekolah. Kepala SMP Al Kaffah Batam, Yuliati Pratiwi, MM, menyatakan bahwa gerakan ini menjadi bukti nyata komitmen bersama antara sekolah dan orang tua dalam membentuk masa depan anak.
Di bagian lain dirilis humas Kemendukbangga/BKKBN sebelumnya, Jumat (19/12/2025), suasana ruang kelas di hari pembagian rapor biasanya didominasi para ibu yang berbincang hangat. Namun Jumat pagi (19/12/2025), ketika rintik-rintik hujan membasahi SDN Pondok Bambu 11 dan SMAN 61 Jakarta, terlihat pemandangan berbeda.
Deretan para ayah yang telah menerjang hujan dan mungkin sebagian izin meninggalkan pekerjaannya duduk di bangku kecil milik anak-anak mereka, menunggu giliran berkonsultasi dengan wali kelas.
Mereka tengah mengikuti Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR) yang dianjurkan Kemendukbangga/BKKBN melalui Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN No. 14 Tahun 2025.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihadji mengatakan, kehadiran sosok ayah dalam momen krusial sekolah, seperti pengambilan rapor, bukan sekadar urusan administratif. Kehadiran ayah penting untuk masa depan anaknya.
“GEMAR menjadi simbol pesan penting bahwa ayah dibutuhkan oleh anak tidak hanya urusan finansial. Ini semangat kita untuk memperbaiki anak-anak kita lima hingga 10 tahun ke depan sebagai generasi penerus bangsa,” ungkap
Diketahui Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihadji hadir langsung di kedua sekolah itu. Berdasarkan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) tahun 2025, didapati satu dari empat atau 25,8% keluarga yang memiliki anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless.
“Prinsipnya, GEMAR mencoba menjawab isu 25,8% anak-anak kita kehilangan sosok ayah. Maka, saya minta para ayah minimal dua kali setahun mengambil rapor anak dan mengantar anak sekolah di hari pertama. Ini membuat senang hati anak,” imbuh Mendukbangga Wihadji.
Bagi anak yang tidak memiliki ayah, Mendukbangga Wihaji mengatakan, ada solusinya. Ada sosok ayah pengganti. Mereka adalah pakde (paman), bude (tante), mbah (kakek), atau kakak (laki-laki). Sejatinya, keterlibatan ayah di ranah pendidikan dapat memperkuat komunikasi antara orang tua dan pihak sekolah dalam memantau proses belajar.
“Ayah yang terlibat dalam pendidikan anak dan remaja membantu meningkatkan motivasi dan hasil belajar. Keterlibatan aktif ayah dalam pendidikan memiliki dampak psikologis yang masif bagi tumbuh kembang anak,” imbuh Mendukbangga Wihadji dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Sabtu (20/12/2025).
Seorang ayah yang mengambil rapor anaknya di SDN 11 Pondok Bambu, Jakarta, berterima kasih atas adanya program GEMAR yang diinisiasi oleh Kemendukbangga/BKKBN. Ia mengaku telah menerapkan apa saja yang menjadi anjuran untuk mengatasi fatherless.
Termasuk soal gawai yang ia khawatirkan akan menjadi pengganti sosok ayah. “Sampai hari ini anak saya tidak setiap hari pegang gawai. Karena kami menanamkan dia hanya boleh melihat pengetahuan di gawai dan laptop. Dan itu hanya di hari Jumat hingga Minggu,” jelasnya seraya bergegas meninggalkan halaman sekolah. (hms/smr)





