Saat Iran tengah menikmati jeda perang dampak dari gencatan senjata yang disepakati Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran, situasi di Lebanon justru berbanding terbalik 90 derajat. Yang pasti, kawasan Timur Tengah terbangun dalam situasi kontradiktif pada Rabu (8/4/2026).
Semarak.co – Di satu sisi, Iran mulai merasakan jeda dari pengeboman hebat menyusul gencatan senjata dengan Amerika Serikat. Namun di sisi lain, Lebanon justru dihantam lebih dari 100 serangan udara Israel hanya dalam hitungan menit, menewaskan sedikitnya 254 orang.
Situasi ini menjadi ujian krusial bagi konsep Kesatuan Front (Unity of Fields), doktrin strategis pemerintah Republik Iran yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu sekutu adalah juga merupakan serangan terhadap seluruh aliansi. Demikian dilansir Arrahmah.id pada 8/4/2026.
Para analis melihat bahwa kampanye udara masif Israel di Lebanon bukan sekadar operasi militer biasa, melainkan upaya strategis para penyerang yang berupaya untuk memisahkan jalinan antara Teheran dan sekutu regionalnya.
Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, secara eksplisit menyatakan bahwa Israel bersikeras memisahkan perang dengan Iran dari pertempuran di Lebanon. Hal ini bertujuan untuk menghancurkan infrastruktur Hizbullah secara mandiri tanpa terikat oleh perjanjian diplomatik AS-Iran.
Perdana Menteri Zionis Israel Benjamin Netanyahu pun terus mendorong terciptanya satu zona yaitu pembentukan zona penyangga sejauh 10 kilometer untuk memutus ketergantungan jalur militer antar-negara tersebut.
Perpecahan Narasi: AS vs Pakistan
Ketidakpastian menyelimuti cakupan gencatan senjata ini akibat perbedaan pernyataan antara mediator dan aktor utama. Presiden AS Donald Trump menyebut perang di Lebanon sebagai bentrokan terpisah yang tidak termasuk dalam kesepakatan karena keterlibatan Hizbullah.
Wakil Presiden JD Vance bahkan menyebut keyakinan Iran bahwa Lebanon termasuk dalam gencatan senjata adalah sebuah salah paham. Sementara, sebagai mediator utama, PM Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan, kesepakatan mencakup Lebanon dan wilayah lainnya dengan efek segera.
Menteri Perencanaan Pakistan, Ahsan Iqbal Chaudhary, memeringatkan bahwa pengeboman Israel atas Beirut merusak semangat proses perdamaian. Teheran menghadapi dilema besar; membiarkan Lebanon diserang sendirian berarti keruntuhan prinsip Kesatuan Front.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan negosiasi tidak berguna jika Israel melanggar gencatan senjata di Lebanon. Menlu Abbas Araghchi bahkan memberi pilihan kepada Washington: “Gencatan senjata total atau perang berlanjut melalui Israel.”
Sementara itu, Hizbullah mengambil taktik mengejutkan dengan melakukan keheningan lapangan. Sejak gencatan senjata diumumkan, tidak ada roket yang diluncurkan dari pihak mereka. Pakar militer Kolonel Nidal Abu Zaid menilai ini adalah langkah terukur untuk menggagalkan rencana pemisahan Israel;
Yakni dengan tetap tenang, Hizbullah menunjukkan mereka tetap seirama dengan Teheran dan tidak bisa diadu domba. Media Rusia, melalui analis Alexander Perendzhiev, memeringatkan, gencatan senjata ini bisa jadi merupakan gencatan senjata taktis dari AS.
Tujuannya adalah memindahkan pusat kekerasan dari tanah Iran ke Lebanon guna menguras energi Hizbullah tanpa memicu perang langsung dengan Teheran, yang pada akhirnya akan menghancurkan konsep kesatuan front tersebut.
Kini, perhatian tertuju pada perundingan Jumat (10/4) di Islamabad. Apakah nasib Lebanon akan menjadi poin utama dalam meja perundingan, ataukah Lebanon akan dibiarkan menjadi medan tempur sendirian sementara Iran tetap dalam gencatan senjata? (net/aid/afp/kim/smr)





