Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang mengatakan bahwa akibat perang Iran melawan AS-Israel sekarang ini sistem Pertahanan Iran sudah lumpuh, malah dibantah keras oleh sejumlah Intelijen dan militer AS Sendiri.
Semarak.co – Seperti yang sudah tersebar di media belakangan ini, AS (Trump dan Hegseth) mengklaim Pertahanan Iran sudah lumpuh akibat perangnya melawan Paman Sam dan Israel. Namun, klaim itu justru dibantah oleh laporan intelijen yang berkata lain.
Dilansir Kompas.com dari New York Times (19/4/2026), sejumlah pejabat intelijen dan militer AS mengungkap, Iran masih memertahankan mayoritas kekuatan persenjataan militernya. Temuan ini berbanding terbalik klaim yang kerap dilontarkan Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Keduanya berulang kali menyatakan bahwa pertahanan Iran telah hancur dan lumpuh total akibat gempuran AS serta Israel selama berminggu-minggu. Dikutip dari New York Times, Sabtu, laporan penilaian intelijen menunjukkan bahwa Iran masih memiliki sekitar 40% dari total armada drone pra-perangnya.
Tak hanya itu, Teheran disebut masih memegang kendali atas lebih dari 60% sistem peluncur rudalnya. Para pejabat menyebutkan, lebih dari 100 sistem peluncur yang disembunyikan di dalam gua dan bungker telah ditemukan sejak gencatan senjata dua minggu dimulai pada 8 April lalu.
Temuan ini menjadi indikasi kuat bahwa Iran tengah bergerak aktif memulihkan kapasitas operasional militernya. Mereka menambahkan, Iran juga berupaya untuk mengambil rudal yang terkubur di bawah reruntuhan setelah serangan terhadap gudang dan fasilitas bawah tanah.
Diperkirakan, Republik Islam Iran akan dapat merebut kembali sebanyak 70% dari persenjataan sebelum perangnya setelah upaya pemulihan selesai. Meskipun infrastruktur manufaktur senjatanya mengalami kerusakan parah.
Namun para pejabat pemerintah negara Paman Sam meyakini bahwa Republik Islam Iran masih memiliki lebih dari cukup simpanan persenjataan untuk bisa menyandera kapal-kapal di Selat Hormuz di masa-masa mendatang.
Pergeseran Strategi Pertahanan
Para analis mengatakan, strategi pencegahan Teheran semakin bergantung pada geografi dan kemampuan asimetris. “Sekarang semua orang tahu bahwa jika terjadi konflik di masa depan, menutup selat itu akan menjadi hal pertama yang ada dalam rencana Iran,” kata Danny Citrinowicz.
Mantan pejabat tinggi intelijen militer negara Zionis Israel tersebut menambahkan, kendati pun kapal perang AS mampu mencegat ancaman yang datang, para pejabat mencatat bahwa kapal tanker komersial memiliki sedikit pertahanan.
Menurut sebuah laporan, Rusia juga telah memberikan tanggapannya mengenai implikasi strategisnya. “Satu hal yang pasti, Iran telah menguji ‘senjata nuklirnya’. Itu disebut Selat Hormuz. Potensinya tak terbatas,” kata wakil kepala Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev.
Sejauh ini, negara Persia yang melahirkan para Mullah itu telah menahan diri untuk tidak melakukan eskalasi langsung terhadap tindakan angkatan laut AS, termasuk blokade yang telah mengganggu perdagangan maritim.
Para pejabat mencatat, perdagangan maritim menyumbang sekitar 90% dari aktivitas ekonomi Iran yang diperkirakan mencapai sebesar 340 juta dolar AS per hari. Namun, sebagian besar telah terhenti dalam beberapa hari terakhir. (net/kpc/nyt/kim/smr)





