Wamentrans Viva Yoga: Desa Telang Rejo Buktikan Kawasan Transmigrasi Bisa Jadi Sentra Lumbung Pangan Nasional

Wamentrans Viva Yoga, saat panen raya padi di Desa Telang Rejo, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin. (Foto: Humas Kementerian Transmigrasi/ Rajif Nugraha)

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengucapkan selamat kepada Kabupaten Banyuasin yang meraih Satya Lencana Wirakarya Pembangunan Pertanian Tahun 2026 yang diberikan langsung Presiden Prabowo Subianto saat Panen Raya di Karawang.

Semarak.co – Sebagai produsen beras terbesar seperti Indramayu, Viva Yoga menyebut di Banyuasin ada perubahan yang sangat besar dalam pembangunan. Dengan kerja keras, konsolidasi, dan kekompakan, menjadikan Banyuasin sebagai produsen beras dan lumbung pangan nasional nomor satu di Indonesia.

Bacaan Lainnya

“Ini perlu dipertahankan. Untuk mempertahankan sebagai lumbung pangan nasional maka hari ini Saya datang ke sini,” ujar Viva Yoga, saat panen raya padi di Desa Telang Rejo, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, dirilis humas usai acara melalui WAGroup ForWaTrans, Jumat (23/1/2026).

Dia menyatakan, Menjadikan kawasan transmigrasi sebagai lumbung pangan atau sentra tanaman pangan menurutnya merupakan amanat presiden dalam Asta Cita. “Dari Telang inilah membuktikan kawasan transmigrasi mampu menjadi sentra tanaman pangan atau lumbung pangan nasional,” tuturnya.

Membangun kawasan transmigrasi seperti Telang menurutnya perlu kerja keras, kesabaran, dan ketelatenan. Transmigran yang datang dari luar, awalnya menempati kawasan hutan yang tak berpenghuni, sunyi, sepi, dan jauh dari keramaian kota.

Untuk mencapai tujuan lokasi penempatan pun mereka harus melalui Sungai Musi sebagai salah satu sungai terbesar di Indonesia. Mereka gigih menanam padi yang lahannya awalnya berupa rawa.

Kegigihan dalam menjalani perjalanan hidup sebagai transmigran mampu mengubah nasib hidup mereka. Dengan reforma agraria yang memberikan tanah seluas satu hingga dua Ha, mereka menjadikan lahan sebagai sumber kehidupan yang mensejahterakan.

Menjadi sejahtera lewat transmigrasi dibenarkan oleh Sukarman. Diceritakan pada usia 10 tahun, ayahnya bersama 79 kepala keluarga lainnya, tahun 1979, menjadi transmigran ditempatkan di Telang.

Kali pertama di sana, kawasan itu disebut sebagai hutan belantara. Namun berkat kegigihan orangtuanya yang berasal dari Blitar, Jawa Timur, menggarap lahan, hidup keluarganya berubah. “Orangtua saya dulu diberi lahan seluas 2 Ha”, ujarnya.

Saat ini Sukarman sebagai generasi kedua. Sebagai transmigran, ia mempunyai tiga anak. Tiga anak itu dua berada di Yogyakarta, satunya di Banyuwangi. “Anak saya yang pertama dulu kuliah di Universitas Sriwijawa, selanjutnya melanjutkan S2 dan S3 di Universitas Negeri Yogyakarta,” ujarnya.

Anak kedua menjadi pengajar di Pondok Pesantren Darussalam di Banyuwangi dan yang ketiga berada di salah satu pondok pesantren di Yogyakarta. “Semua berkat keuletan menjadi transmigran”, ujarnya saat juga ikut dalam acara panen raya itu. (ARW/SMR)

Pos terkait