Jangan Diam saat Ada Kezaliman

Grafis sebagai ilustrasi kita tidak boleh diam ketika melihat ada kezaliman. foto: wagroup

Oleh Anonym *)

Semarak.co – Kezaliman yang dibiarkan akan menjadi luka kolektif umat, sedangkan kepedulian adalah tanda hidupnya iman dalam dada seorang mukmin. Di tengah hiruk pikuk dunia, Islam memanggil kita untuk tidak sekadar menjadi penonton penderitaan, melainkan hadir sebagai penolong.

Bacaan Lainnya

Narasi ini mengajak kita merenungi tanggung jawab spiritual dan sosial, bahwa membela yang lemah adalah ibadah yang nyata. Dalam perjalanan hidup yang sering dipenuhi ambisi dunia, manusia kerap terjebak dalam lingkaran kesibukan yang membuatnya lupa pada jeritan sesama.

Kita sibuk membangun karier, mengejar kenyamanan, dan memperindah kehidupan pribadi, tetapi pada saat yang sama, ada saudara kita yang tertindas, terpinggirkan, dan kehilangan harapan. Islam tidak membiarkan keadaan ini berlalu tanpa teguran. Sebab iman bukan hanya urusan hati dan ibadah ritual, melainkan juga keberpihakan nyata terhadap keadilan.

Allah ﷻ menegur dengan sangat tegas dalam firman-Nya:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا

“Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” (QS. An-Nisa: 75).

Ayat ini bukan sekadar seruan perang dalam makna fisik, tetapi panggilan universal untuk membela keadilan dan melindungi mereka yang tidak memiliki daya. Mustadh’afin adalah mereka yang tertindas oleh sistem, oleh kekuasaan, oleh keadaan, bahkan oleh kelalaian kita sendiri.

Ketika kita memilih diam, sesungguhnya kita sedang mengabaikan amanah besar yang Allah titipkan dalam iman kita. Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya kepedulian sosial dalam sabdanya:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menggambarkan bahwa keimanan sejati melahirkan sensitivitas. Tidak mungkin seorang mukmin yang hatinya hidup akan tenang melihat kezaliman tanpa berbuat apa-apa. Jika ia tidak mampu bertindak dengan kekuatan, maka ia bergerak dengan lisan.

Jika tidak mampu dengan lisan, maka dengan doa yang tulus. Namun jika semuanya ditinggalkan, maka itu pertanda rapuhnya iman dalam dada. Kepedulian sosial dalam Islam bukan sekadar empati pasif, melainkan aksi nyata yang berakar dari kesadaran tauhid.

Ketika kita menolong sesama, sejatinya kita sedang menegakkan nilai-nilai yang Allah cintai. Bahkan dalam kondisi terbatas, doa menjadi senjata yang tidak boleh diremehkan. Doa adalah jembatan antara kelemahan manusia dan kekuasaan Allah yang tak terbatas.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

“Barang siapa yang tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Thabrani).

Hadis ini mengandung peringatan yang sangat keras. Kepedulian bukan pilihan tambahan dalam Islam, melainkan bagian dari identitas seorang muslim. Ketika kita menutup mata dari penderitaan orang lain, kita sedang menjauh dari ruh persaudaraan yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.

Maka, jangan pernah merasa kecil jika hanya mampu berdoa. Jangan merasa tidak berarti jika belum mampu membantu dengan materi. Sebab Allah melihat keikhlasan dan kesungguhan hati.

Setiap doa yang dipanjatkan dengan tulus akan sampai kepada-Nya, dan bisa menjadi sebab datangnya pertolongan yang tak terduga. Di tengah dunia yang sering kali keras dan penuh ketidakadilan, jadilah pribadi yang lembut namun tegas dalam membela kebenaran.

Jadilah mata yang peka melihat penderitaan, telinga yang mau mendengar keluhan, dan tangan yang siap membantu sebisanya. Sebab pada akhirnya, kita akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya atas apa yang kita lakukan, tetapi juga atas apa yang kita biarkan terjadi.

*) penulis asli belum ditemukan sampai berita ini ditayangkan, jika kelak ditemukan siapa penulisnya otomatis dilakukan koreksi. Redaksi

 

Sumber: WAGroup AMAR MARUF NAHI MUNKAR (postSenin20/4/2026/)

Pos terkait