Kementerian Transmigrasi menyoroti kisah almarhum Abdul Rohid, anggota Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2025, dalam prosesi wisuda di Gedung Grha Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Rohid meninggal di Kawasan Transmigrasi Bahari Tomini Raya, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
Semarak.co – Rohid memilih menunda wisuda untuk bergabung dalam program Transmigrasi Patriot. Ia turun langsung bekerja bersama masyarakat di kawasan transmigrasi yang kini berkembang sebagai salah satu sentra produksi durian nasional dan telah menembus pasar ekspor.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyampaikan bahwa keputusan tersebut mencerminkan pilihan hidup yang tidak banyak diambil generasi muda. Rohid dinilai tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga berkontribusi nyata dalam pembangunan kawasan.
“Beliau seharusnya wisuda September tahun lalu, namun memilih menunda. Rohid memilih bergabung dalam program Transmigrasi Patriot. Ia memilih turun ke lapangan, mengabdi. Itu tentu bukanlah keputusan biasa. Itu adalah keputusan hidup,” ucapnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup ForWatrans, Minggu malam (19/4/2026).
Di lapangan, kontribusi Rohid menjadi bagian dari kerja kolektif yang mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kawasan. Kawasan Bahari Tomini Raya sendiri saat ini berperan penting dalam produksi durian di wilayah Sulawesi Tengah, termasuk dalam rantai pasok komoditas ekspor.
“Transmigrasi hari ini menyumbang 80% produksi durian di Parigi Moutong, dengan nilai ratusan miliar per tahun. Dan di tempat itulah almarhum pernah bertugas. Artinya, apa yang hari ini kita lihat sebagai keberhasilan, sebagai produk yang menembus pasar dunia, di sana ada jejak langkah almarhum,” kata Mentrans.
Rohid dikenal menjalani hidup sederhana dan mandiri. Ia memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga dan bercita-cita memberangkatkan orang tuanya umrah dan ingin adiknya, Aprilia Nur Intan Saputri, menjadi sarjana.
“Kementerian Transmigrasi akan menyerahkan bantuan beasiswa kepada adiknya hingga lulus SMA. Dan kami mengapresiasi komitmen ITS yang akan ikut menjembatani agar adiknya dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” ucap Mentrans.
Selain itu, momen menjadi penuh makna ketika inovasi karya almarhum Abdul Rohid berupa sebuah air purifier resmi diserahkan kepada ITS, sebagai wujud kontribusi nyata yang diharapkan dapat terus dikembangkan hingga memberi manfaat luas bagi masyarakat.
“Hari ini juga diserahkan hasil inovasi saudara Abdul Rohid berupa air purifier yang diberikan kepada ITS dan kami insyaallah akan mencoba melihat apa air purifier yang diberikan dan kami akan mengembangkan agar menjadi lebih baik lagi,” ucap Rektor ITS Bambang Pramujati.
Peristiwa ini menjadi gambaran bahwa program Transmigrasi Patriot tidak hanya berfokus pada mobilitas tenaga muda, tetapi juga pada pembentukan sumber daya manusia unggul yang terlibat langsung dalam pembangunan kawasan. Keterlibatan generasi muda dinilai menjadi faktor penting mendorong transformasi ekonomi.
Kementerian Transmigrasi menyatakan bahwa pengalaman dan kontribusi Rohid menjadi bagian dari proses tersebut, sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan kawasan membutuhkan kehadiran langsung sumber daya manusia yang siap bekerja dan mengabdi.
“Almarhum Abdul Rohid tidak hanya menyelesaikan studinya, tetapi ia telah menyelesaikan tugas hidupnya sebagai anak yang berbakti, manusia yang berguna, dan patriot bagi bangsanya,” kata Mentrans.
“Selamat jalan Abdul Rohid. Kami akan melanjutkan mimpimu dan jalan pengabdian yang telah engkau bukakan, agar hidup ini benar-benar bermakna,” lanjutnya menutup sambutan. (HLV/SMR)





