Sambut Investasi China, Wamentrans Viva Yoga Dukung Industrialisasi Bambu di Kawasan Transmigrasi

Wamentrans Viva Yoga Mauladi menyambut kedatangan delegasi Promosi Perdagangan Indonesia-Guangdong (PPIG) yang dipimpin Indonesia Executive Chairman Sim dan Director of The Economic Diplomacy Office Jay Yu.

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menyambut kedatangan delegasi Promosi Perdagangan Indonesia-Guangdong (PPIG) yang dipimpin Indonesia Executive Chairman Sim dan Director of The Economic Diplomacy Office Jay Yu di Kantor Kementrans.

Semarak.co – PPIG mempresentasikan investasi pengembangan bambu varietas reed (reed bamboo) di kawasan transmigrasi. Bambu jenis ini memiliki banyak kelebihan dan nilai ekonomi yang tinggi. Pohon yang saat ini dikembangkan di China dan Malaysia bisa diolah menjadi fiber bamboo (serat bambu).

Bacaan Lainnya

Serat bambu bisa digunakan menjadi berbagai bahan pakaian dan aksesorisnya seperti kaos, jaket, kaos kaki, penutup kepala, dan jenis baju lainnya. Pakaian yang terbuat dari serat bambu dikatakan memiliki kelebihan dibanding bahan yang lain.

“Reed bambu tak hanya bisa diolah menjadi serat namun daunnya bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak. Reed bamboo juga bisa mereduksi karbon dioksida sehingga rumpun bambu itu bisa dimanfaatkan sebagai pasar karbon yang bernilai tinggi,” ujar Jay Yu, dirilis humas usai acara melalui WAGroup ForWaTrans, Jumat (19/12/2025).

Untuk mengembangkan reed bamboo, tak sulit. Pohon ini bisa bertahan selama 15 tahun tanpa pupuk dan rekayasa budidaya lainnya. Dengan lahan seluas, 0.27 Ha, petani bisa mengembangkan bambu ini. Dalam setahun dari menanam reed bamboo di luas lahan 1 Ha mampu menghasilkan keuntungan 12.750 US$. Harga bibit dari bambu ini hanya 0,6 US$.

PPIG ingin memproduksi serat bambu di Indonesia. Pihaknya ingin investasi di Indonesia dengan harapan menjadikan negeri ini sebagai produsen serat bambu terbesar di Asia Tenggara. “Di Malaysia sudah kami kembangkan namun volumenya kecil,” ujarnya.

Viva Yoga menyambut gembira keinginan tersebut. Menurutnya masyarakat dari Sabang sampai Merauke sudah tidak asing lagi dengan pohon bambu. “Banyak lahan yang ditanami bambu baik budidaya maupun tumbuh alami”, ujarnya.

Mengembangkan bambu di kawasan transmigrasi merupakan salah satu program Kementrans. Dia  beberapa waktu lalu berkunjung ke Yayasan Bambu Indonesia di Cibinong Bogor. Di sana ada 161 varietas. “Kami memilih varietas apa yang cocok dikembangkan di kawasan transmigrasi,” ujarnya.

Dalam soal kerja sama dengan pihak lain dalam menanam pohon bambu, menurut Viva Yoga pernah dilakukan di Kawasan Transmigrasi Ponu Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Program itu dilakukan untuk membuat biomassa sebagai energi listrik.

“Kementrans bekerja sama dengan salah satu anak perusahaan dari BUMN besar di Indonesia. Proyek itu saat ini masih dalam proses”, tambahnya.  (ARW/SMR)

Pos terkait