Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (keempat dari kanan) saat ikut selfi dari panitia peresmian gedung GKI Puri Indah, Taman Permata Buana, Jakarta Barat, Minggu, (7/11/2021). Foto: Media Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan kembali jadi sasaran tembak menyusul penangkapan Ustad Farid Ahmad Okbah (FAO) oleh Densus 88 pekan lalu dengan tuduhan teroris. Dikaitkan dengan Anies lantaran dua hari sebelum ditangkap, sempat bertemu Anies di rumah duka.

semarak.co-Fakta terungkap bahwa pertemuan Anies dengan Okbah tidak terkait dengan terorisme. Saat itu, Anies menemani ibunya melayat ke rumah ibu mertua Okbah yang meninggal dunia. Ibu mertua Okbah dan ibunya Anies berteman sudah lama. Di sanalah pertemuan itu.

Lawan politik Anies pun mengunggah foto itu menyusul penangkapan tiga ulama berinisial ZAN, AH, dan FAO sendiri. Lawan-lawan Anies pun bersorak seolah mendapat amunisi untuk melakukan bully mantan Mendikbud RI tersebut.

Namun buzzerrp tetap buzzerrp. Dapat ruang tembak, langsung hamburkan peluru. Media pun ramai mengutip serangan buzzerp itu. Judulnya mengerikan: Anies di Pusaran Teroris.

Geisz Chalifah, orang dekat Anies menjawab tuduhan itu dengan santai. Geisz bahkan berterima kasih karena Anies mendapat iklan gratis untuk 2024 yang berpotensi menang pilpres. Menurut Geisz, Anies diserang karena takut Anies menjadi calon presiden (capres) 2024 dan menang.

Padahal, Anies tak punya partai, tak punya uang kecuali prestasi. Hal tersebut diungkapkan Geisz di channel podcast Hersubeno Arief melalui akun Youtube Hersubeno, Senin (22/11/2021) seperti yang dilansir tilik.id/2021/11/24/.

Menurut aktivis sosial ini, begitulah kelakuan buzzerp yang tidak ada diada-adakan akhirnya ramai di media sosial (medsos). Sementara Hersubeno menilai, cara yang dilakukan saat ini terhadap Anies adalah cara lama yang direproduksi kembali. Ingat pada Pilkada DKI Anies disebut menggunakan politik aliran untuk menang.

Stigma yang dilekatkan pada Anies terus diulang-ulang padahal orang sudah tahu tujuannya. “Mereka melakukan itu kan tidak ada cara lain ya? Saya berdiskusi dengan Immanuel Ebenezer, dia mengkampanyekan Ganjar sambil mengangkat berita-berita negatif soal Anies,” kata Geisz di siaran Youtube Hersubeno Arief, Senin (22/11/2021).

“Ini dua hal yang sama, sama-sama mendukung orang, tapi dengan cara yang berbeda. Dia membutuhkan itu untuk menjelek-jelekkan lawan, sedang saya tidak membutuhkan itu. Untuk menceritakan prestasi Anies tidak cukup waktunya. Jadi kita tak punya waktu lagi yang negatif untuk orang lain.

Kemudian Anies dikait-kaitkan dengan radikalisme, menurut Geisz sudah berkali-kali kita pertanyakan, pernahkah Anies diskriminatif dan intoleran? “Yang terjadi malah pemuka agama Hindu mengucapkan dengan lantang bahwa dari 10 gubernur, baru kali inilah yang care kepada mereka. Yaitu Anies Baswedan,” kutip Geisz.

Yang kedua pemuka agama Hindu Tamil menyatakan dari jaman merdeka, mereka meminta ada rumah ibadah Hindu Tamil, sampai kemarin-kemarin tidak pernah mendapat izin. Tapi di jaman Anies diijinkan.

“Yang ketiga, ini menarik buat saya. Christmas Carrol salama ini tidak pernah ada dan siapa juga yang berani bikin di Jakarta. Tapi di masa Anies, ini tahun ketiga. Setiap menjelang natal, kita bergembira bersama-sama ada paduan suara Christmas Carol. Itu menarik sekali,” ujar Geisz.

Itu semua saat Anies jadi gubernur. Namun buzzerp ngeles bahwa politik identitas itu terjadi sebelum Anies jadi gubernur, di mana dituduh memainkan isu agama. Faktanya salah. Diceritakan Geisz, Anies dicalonkan menjadi calon gubernur pada 23 September 2016.

Hari terakhir pencalonan tanggal 23 September. Kapan isu agama dimainkan? Jauh hari. “Akhir 2015 atau awal 2016 sudah dimainkan. Apa kalimat mereka? ‘Lebih baik dipimpin kafir daripada muslim tapi koruptor,” kata Geisz yang komisaris Ancol.

Dari sini, beber Geisz, siapa sebenarnya yang memainkan isu agama? Ya, nereka. Siapa yang teriak menyebut kalimat itu? Guntur Romli dan kawan-kawan. Apakah Anies terlibat? Tidak, Anies masih jadi menteri waktu itu.