Tuntaskan Krisis Cs-137, BPOM Lepas Ekspor Rempah Raksasa ke Amerika Serikat

BPOM melepas ekspor rempah raksasa ke Amerika Serikat.

Untuk pertama kalinya, BPOM bertindak sebagai Certifying Entity resmi US FDA dalam memastikan seluruh rempah Indonesia yang masuk ke Negeri Paman Sam Amerika Serikat (AS) bebas cemaran radioaktif.

Semarak.co – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menyatakan, penunjukan ini lahir dari krisis, tetapi menjelma menjadi momentum diplomasi kepercayaan yang memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global.

Bacaan Lainnya

“Dengan bersinergi, kita menjaga integritas kualitas dan keamanan produk sekaligus memulihkan dan menguatkan kepercayaan mitra dagang internasional,” ujar Taruna  saat melepas ekspor cengkeh dan kayu manis ke AS, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis Kemenag, Selasa (16/12/2025).

Semuanya bermula ketika US FDA menerbitkan Import Alert 99-51 dan 99-52, setelah menemukan kontaminasi Cesium-137 pada produk udang beku dan cengkeh dari Indonesia pada 2025. Sejak 31 Oktober, Negeri Paman Sam memberlakukan persyaratan sertifikasi impor untuk udang dan rempah dari Jawa dan Lampung.

Dalam sistem US FDA, komoditas bisa jatuh ke Red List atau Yellow List bila dianggap berisiko, dan hanya negara yang mampu membuktikan standar pengawasan tertinggi yang boleh kembali menyuplai pangan ke Amerika.

Maka ketika US FDA secara resmi menunjuk BPOM sebagai lembaga sertifikasi — itu adalah pengakuan internasional bahwa Indonesia dipercaya untuk menjaga integritas pangan ekspornya.

Pemulihan ekspor rempah ini tidak terjadi dalam semalam. Sejak November, BPOM menggerakkan operasi teknis nasional—dari pabrik hingga dermaga. Di balik acara seremoni hari ini, terdapat kerja sunyi para food inspector, laboran, dan petugas teknis.

BPOM juga mempercepat penyusunan lima pedoman teknis nasional—dari protokol pemindaian hingga skema sertifikasi—yang hari ini secara resmi diluncurkan dan diserahkan kepada para pelaku usaha.

Pada periode November–Desember 2025, terdapat 125 shipment yang siap ekspor, dan hingga 12 Desember, 82% telah selesai di-scan dan diuji, dengan 37 sertifikat SSC telah diterbitkan.

Taruna Ikrar menyebut penunjukan Indonesia oleh US FDA sebagai bentuk “trust diplomacy”. Di tengah tekanan global terhadap keamanan pangan, pengakuan ini menunjukkan bahwa sistem pengawasan Indonesia memiliki kredibilitas yang layak di mata regulator paling ketat di dunia.

Keberhasilan ini merupakan hasil sinergi lintas lembaga: BAPETEN, BRIN, Bea Cukai, Kemenko Bidang Pangan, Karantina, Pelindo, hingga Kedutaan Besar AS. Pada momen ketika ekspor terancam tersendat, seluruh instansi memilih bergandengan tangan demi menjaga nama baik Indonesia.

“Dengan bersinergi, kita menjaga integritas kualitas dan keamanan produk sekaligus memulihkan dan menguatkan kepercayaan mitra dagang internasional,” ujar Prof. Taruna dalam pidatonya.

Di hadapan para pelaku usaha dan perwakilan instansi, pelepasan delapan kontainer itu bukan hanya prosesi simbolik. Ia adalah pernyataan politik dan ekonomi: Indonesia sudah siap kembali mengisi rak-rak supermarket Amerika dengan produk yang aman, berkualitas, dan diawasi dengan standar internasional. (hms/smr)

 

Pos terkait