Wawancara Top 99 Inovasi Pelayanan Publik, salah satunya program Kami Datang Penglihatan Terang merupakan kegiatan skrining dan operasi katarak yang dilaksanakan di Mobile Eye Clinic (MEC) atau bus operasi mata di Puskesmas atau di desa. Layanan diberikan bagi seluruh masyarakat yang tersebar di Pulau Bali, Pulau Penida, dan Pulau Lembongan. Foto: humas PANRB

Kami Datang Penglihatan Terang merupakan kegiatan skrining dan operasi katarak yang dilaksanakan di Mobile Eye Clinic (MEC) atau bus operasi mata di Puskesmas atau di desa. Layanan diberikan bagi seluruh masyarakat yang tersebar di Pulau Bali, Pulau Penida, dan Pulau Lembongan.

semarak.co– Akses layanan kesehatan mata khususnya dalam hal penanganan kebutaan yang disebabkan oleh katarak jadi semakin mudah dijangkau masyarakat Bali. Kami Datang Penglihatan Terang melibatkan mahasiswa, anak sekolah, kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Lalu Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan masyarakat dalam upaya screening mandiri dan pelaporan kasus. Layanan diperuntukkan bagi masyarakat umum, khususnya masyarakat miskin, lansia, dan masyarakat yang tinggal di daerah terpencil.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengatakan, inovasi yang bertujuan mempercepat, mempermudah, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dalam penanganan penyakit mata, khususnya katarak.

“Ini inovasi yang kami lakukan sejak tahun 2007 dan dari tahun ke tahun kami kembangkan,” jelas Ardana saat wawancara Top 99 Inovasi Pelayanan Publik di Kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), beberapa waktu lalu seperti dirilis Humas PANRB melalui WA Group JURNALIS PANRB, Senin (3/8/2020).

Inovasi ini lahir karena kesadaran akan tingginya angka prevalensi kebutaan di Indonesia sebesar 0,9 persen yang merupakan prevalensi tertinggi di Asia Tenggara dan angka tersebut lebih tinggi dari prevalensi global sebesar 0,7 persen.

Selain itu, lanjut Ardana, angka prevalensi kebutaan di Provinsi Bali lebih tinggi dibandingkan di Indonesia, yaitu sebesar 1 persen yang mayoritas disebabkan oleh katarak senilis sebesar 80%.

Hasilnya adalah penurunan angka kebutaan di Provinsi Bali sebanyak 0,7%. “Angka sebelumnya 1%, kemudian setelah dilakukan inovasi angka kebutaanya hanya 0,3 persen,” terang pria yang juga dikenal sebagai Cok Ace ini.

Keberhasilan inovasi layanan jemput bola ini terbukti dengan adanya replikasi dan modifikasi inovasi yang diterapkan di daerah lain. Sistem programnya telah diadopsi Kabupaten Badung dengan melakukan modifikasi inovasi yaitu Bus Mangupura Woman Services (MAWAS) yang mendekatkan pelayanan deteksi dini kanker cervix dan mammae.

Sementara Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan juga melaksanakan program pelayanan operasi katarak bagi masyarakat bernama inovasi Empek Ikan Belida (EIB). Sebagai inovasi yang masuk dalam kelompok khusus membuat keberlanjutan akan inovasi Kami Datang Penglihatan Terang senantiasa dijaga.

Contohnya dengan adanya tambahan kegiatan screening bagi anak sekolah dasar, pemberian kacamata gratis bagi orang tua, pengobatan penyakit mata, dan screening retina dan glaukoma.

“Kami sepakat untuk meneruskan inovasi ini, meningkatkan (kualitas) sesuai tuntutan masyarakat dan kemajuan zaman. Mungkin ada metode dan teknologi baru yang perlu kami adopsi dimasa yang akan datang,” tutupnya. (clr/smr)

LEAVE A REPLY