Wakil Direktur Utama 2 PT BSI Abdullah Firman Wibowo saat memaparkan materi terkait perbedaan perbankan syariah dan konvensional serta peran treasury dan bank internasional kepada mahasiwa dalam acara Kuliah Umum program SSBM secara virtual, Rabu (13/10/2021). Foto: humas BSI

PT Bank Syariah Indonesia (BSI) berkomitmen meningkatkan literasi keuangan syariah di kalangan generasi milenial khususnya mahasiswa melalui program Strategic Sharia Banking Management (SSBM). Sepanjang tahun ini sudah tercatat sebanyak 1.123 mahasiswa dari lima universitas terkemuka mengikuti program SSBM ini.

semarak.co-SSBM merupakan program kolaborasi BSI dengan Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjajaran (Unpad), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Brawijaya, dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Adapun jumlah peserta terbanyak program SSBM sepanjang 2021 dari UI.

Dalam program ini, pengajar dari praktisi keuangan syariah BSI. Proses literasi dilakukan dengan metode pembelajaran secara online digital learning, studi kasus, dan tugas kelompok. Hadir dalam Kuliah Umum SSBM Wakil Direktur Utama 2 BSI Abdullah Firman Wibowo yang memberikan materi tentang pengelolaan kas syariah dan bank internasional.

Dalam paparannya di hadapan para mahasiswa yang dilakukan secara daring dari Jakarta, Firman menjabarkan perbedaan perbankan syariah dan konvensional. Dia menjelaskan dasar bisnis perbankan melalui tiga kegiatan yang dilakukan yaitu, menghimpun, menyalurkan, dan memberikan jasa perbankan.

Hal yang membedakan antara bank syariah dan konvensional adalah akad. Yang lebih penting, kata Firman, sumber dana dan penghimpunan dana melalui prinsip syariah dengan akad yang disepakati antara bank dengan pemilik dana.

“Dari hasil penghimpunan tersebut, treasury mengelola sumber dana yang masuk dan menggunakan dana itu dengan tepat,” imbuh Firman seperti dirilis humas melalui WAGroup Media BSI dan Jurnalis Syariah, Rabu (13/10/2021).

Dalam penjelasannya Firman pun menekankan treasury bertujuan menjaga kelangsungan bisnis bank melalui kecukupan likuiditas, peningkatan yield atas dana idle, serta dukungan lainnya pada bisnis pembiayaan dan transaksi.

“Bisnis Internasional pun mendukung kinerja melalui perluasan hubungan strategis dengan counterpart, penetapan credit limit, serta membangun bisnis secara reciprocal. Sinergi treasury dan bank internasional diperlukan dalam pengembangan bisnis global melalui capacity building baik SDM, teknologi, dan permodalan serta membangun reputasi perusahaan,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Program Strategic Sharia Banking Management ini diinisiasi sejak 2020 dengan berkolaborasi bersama IPB. Respon dan antusiasme mahasiswa untuk mengikuti program ini cukup baik dengan pendaftar atau mahasiswa terdaftar mencapai 122 mahasiswa dengan rata – rata kehadiran setiap pertemuan mencapai 95%. (smr)