Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador berbicara pada konferensi pers, di National Palace di Kota Meksiko, Meksiko, Selasa (21/5/2019). Foto: internet

Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador mengecam negara-negara Eropa, seperti Prancis dan Jerman yang kembali lockdown dalam membendung penyebaran virus corona. Ia tampaknya menganggap penguncian ketat itu sebagai tindakan sewenang-wenang.

semarak.co-seperti diketahui, Jerman dan Prancis mengumumkan serangkaian pembatasan yang mendekati tingkat lockdown pada musim semi, ketika kematian akibat COVID-19 di seluruh Eropa melonjak, pada Rabu (28/10/2020).

Otoritas nasional ataupun lokal di beberapa negara Eropa, termasuk Prancis, Spanyol, Italia, dan Republik Ceko telah memberlakukan jam malam. Ketika berbicara pada konferensi pers berkala, Lopez Obrador menyayangkan tindakan yang diambil negara-negara Eropa.

Ia mendesak para pemerintah di Eropa agar menunjukkan lebih banyak kepercayaan terhadap penduduk mereka. “Apa yang diperlihatkan adalah tindakan otoriter oleh pihak berwenang, oleh pemerintah, dengan segala hormat, di pihak mereka yang memilih langkah ini,” kecam Presiden Meksiko seperti dilansir Reuters.

Ia menjawab pertanyaan apakah Meksiko kemungkinan akan mengambil tindakan lebih keras untuk menghentikan peningkatan kasus virus corona. “Jam malam bukanlah tanda kepercayaan pada orang-orang,” ungkapnya seperti dikutip Reuters, Kamis (29/10/2020).

Tindakan ini, nilai Lopez, menempatkan diri Anda di atas sebagai otoritas dan memandang warga negara sebagai anak-anak, seolah mereka tidak mengerti. Bahkan di saat-saat terburuknya, Eropa tidak pernah memberlakukan jam malam dan semua tindakan ini.

Meksiko secara resmi sudah melaporkan lebih dari 901.000 kasus virus corona dan 89.800 kematian, meskipun pihak berwenang mengakui bahwa jumlah kasus dan kematian kemungkinan jauh lebih tinggi.

Pemerintah telah memperingatkan bahwa penularan meningkat di beberapa bagian Meksiko. Masyarakat diminta mematuhi norma-norma pembatasan sosial serta menghindari kerumunan besar pada saat berbagai perayaan tradisional, yang setiap tahun menarik perhatian ratusan ribu orang, sudah dekat.

BACA JUGA :  BNI Syariah Peringati Hari Batik dengan Bagikan Masker dan Hand Sanitizer pada Pengunjung ke KCP

Akhir pekan lalu, negara bagian di perbatasan utara, Chihuahua, kembali ke fase siaga tertinggi virus corona. Lopez Obrador meminta masyarakat Meksiko untuk menjalankan tata cara kebersihan pribadi, menjaga jarak fisik, dan bertindak secara bertanggung jawab. “Dan tidak menggunakan paksaan… penyelesaiannya tidak dengan cara itu,” katanya.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel, Rabu (28/10/2020) memerintahkan karantina wilayah (lockdown) kembali diberlakukan di negara mereka, saat Eropa terancam dilanda gelombang besar kedua penularan virus corona sebelum musim dingin.

“Saya telah memutuskan bahwa kita perlu kembali ke penguncian untuk menghentikan virus. Virus itu beredar dengan kecepatan yang bahkan tidak diantisipasi oleh perkiraan yang paling pesimistis. Seperti semua tetangga kita, kita tenggelam oleh percepatan virus yang tiba-tiba,” ujar Presiden Macron dalam pidato yang disiarkan televisi.

Ditambah presiden muda usia ini, “Kita semua berada di posisi yang sama: dibanjiri gelombang kedua yang kita tahu akan lebih sulit, lebih mematikan daripada gelombang pertama.

Di bawah aturan baru Prancis yang mulai berlaku pada Jumat besok (30/10/2020), warga diwajibkan tinggal di rumah. Pengecualian akan diberikan bagi mereka yang perlu membeli barang-barang penting, mendapatkan layanan medis, atau berolahraga hingga satu jam sehari.

Warga akan diizinkan pergi bekerja jika majikan mereka menganggap pekerjaan tidak bisa dilakukan dari rumah. Seperti pada hari-hari paling kelabu selama musim semi, siapa pun di negara itu yang meninggalkan rumah harus membawa dokumen, yang menguatkan alasan seseorang untuk berada di luar rumah.

BACA JUGA :  Akibat Wabah Covid-19, Menara Eiffel Paris Bakal Dibuka Lagi 25 Juni Nanti

Jerman akan menutup semua bar, restoran, dan teater pada 2-30 November berdasarkan langkah-langkah yang disepakati antara Merkel dan para kepala pemerintah daerah.  Sekolah-sekolah akan tetap buka, dan toko-toko akan diizinkan beroperasi dengan batasan ketat pada jumlah orang yang berada di dalam toko.

“Kita perlu mengambil tindakan sekarang. Sistem kesehatan kita masih dapat mengatasi tantangan itu hari ini, tetapi pada kecepatan infeksi ini sistem akan mencapai batas kemampuannya dalam beberapa minggu,” ujar kanselir Jerman Merkel.

Menteri Keuangan Jerman Olaf Scholz menulis di Twitter, “November akan menjadi bukti. Peningkatan jumlah infeksi memaksa kita untuk mengambil tindakan pencegahan yang keras untuk mematahkan gelombang kedua.”

Prancis setiap hari telah dilanda lonjakan sebanyak 36.000 kasus baru COVID-19. Jerman, yang tidak terlalu terpukul dibandingkan sejumlah negara tetangganya di Eropa awal tahun ini, mengalami peningkatan kasus secara berlipat. “Kalau kita menunggu sampai unit perawatan intensif penuh, itu akan terlambat,” kata Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn.

Jerman sudah mulai menerima pasien-pasien dari Belanda, negara tetangga yang kapasitas rumah sakitnya sudah mencapai batas. Wakil Perdana Menteri Rusia Tatiana Golikova mengatakan pada Rabu bahwa ketersediaan ranjang-ranjang rumah sakit sudah terisi 90 persen di 16 wilayah negara itu.

Beberapa pejabat telah memperingatkan bahwa bahkan sistem kesehatan yang dilengkapi dengan baik, seperti yang ada di Prancis dan Swiss, dapat mencapai titik puncak dalam beberapa hari.

BACA JUGA :  Jutaan Perempuan Kehilangan Akses Kontrasepsi, BKKBN Sarankan Pasangan Muda Tunda Kehamilan

Sementara itu, harapan bahwa pengobatan baru dapat mengekang penyebaran virus corona terhambat ketika kepala satuan tugas pengadaan vaksin Inggris mengatakan bahwa vaksin yang sepenuhnya efektif mungkin tidak akan pernah dikembangkan dan versi-versi awal kemungkinan besar tidak sempurna.

Menurut angka terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia pada Selasa (27/10), Eropa melaporkan 1,3 juta kasus baru dalam tujuh hari terakhir. Jumlah tersebut hampir setengah dari sekitar 2,9 juta yang dilaporkan di seluruh dunia.

Eropa dalam sepekan terakhir mencatat lebih dari 11.700 kematian, yang merupakan lonjakan sebesar 37 persen dari minggu sebelumnya. Sejauh ini di seluruh dunia, kasus COVID-19 tercatat lebih dari 42 juta dan sedikitnya 1,1 juta orang meninggal akibat penyakit virus tersebut, yang pertama kali dilaporkan muncul di Kota Wuhan, China, pada akhir tahun lalu.

Pemerintah di seluruh Eropa telah mendapat kecaman karena kurangnya koordinasi dan dianggap gagal menggunakan jeda kasus selama musim panas untuk meningkatkan penanganan, sehingga membuat rumah-rumah sakit tidak siap.

Di Amerika Serikat, gelombang baru infeksi telah mencatat serangkaian rekor, enam hari menjelang pemilihan presiden. Presiden Donald Trump telah meremehkan virus corona dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan membatalkan kampanye.

Para pendukungnya sering menolak menggunakan masker atau menjaga jarak yang aman saat menghadiri kampanye. (net/smr)

LEAVE A REPLY