Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mendorong para peserta didik untuk menjadi Anak Indonesia Hebat dengan membangun pertemanan yang baik dan lingkungan sosial yang positif.
Semarak.co – Generasi hebat dan berkarakter lahir dari seseorang yang terus melakukan dan menanamkan sebuah kebiasaan yang baik. Kemendikdasmen memiliki program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang bertujuan menjadikan generasi muda berkarakter kuat dan berdaya saing global.
Mu’ti menjelaskan, memiliki banyak teman sangat membantu murid dalam memberikan rasa aman, percaya diri, serta berkembang di lingkungan sosial. Ia menyebut, komunikasi dan peranan teman sebaya adalah salah satu cara menggantikan peran gawai yang dominan di era terkini.
“Di samping peran teman sebaya, terdapat peran orang tua dan guru. Oleh karena itu, proses karakter anak sangat ditentukan dengan siapa mereka berinteraksi, pengembangan potensi, dan aktivitas yang membangun kreativitas,” ujarnya, saat membuka Boothcamp Anak Indonesia Hebat di Jakarta, dirilis humas melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Selasa (16/12/2025).
Keseruan dimulai saat Mendikdasmen, di sela-sela sambutannya dalam Bootcamp Anak Indonesia Hebat, melakukan interaksi ringan dengan peserta. Matanya tertuju pada barisan anak-anak SD. Ia memanggil seorang anak laki-laki dengan kemeja rapi. Radit namanya, ia adalah siswa SDN 05 Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Dengan lugas Radit yang masih kelas 4 SD bercerita tentang kesukaannya pada pelajaran IPA dan ingin kuliah di Universitas Airlangga (UNAIR), Jurusan Informatika dan Teknologi.
Selepas berinteraksi dengan Radit. Mu’ti meminta anak-anak membuat pantun bertema buah-buahan. Tak berapa lama, seorang anak bernama Denas maju ke mimbar, diiringi tepuk tangan meriah. “Siapa namanya. Dari sekolah mana?” tanya Menteri Mu’ti penasaran. Anak itu menjawab dengan semangat, “Denas!”
Dengan penuh percaya diri, dua baris kalimat pembuka meluncur dari Denas.
“Beli buah ke pasar…”
“Tidak lupa menemui Radit.”
Di sinilah keseruan dimulai. Setelah menyebut nama Radit, Denas terdiam. Matanya menatap ke atas, mencari diksi rima yang pas untuk melanjutkan bait tersebut. Radit yang dimaksud Denas adalah teman sekelasnya—seorang anak yang berani maju ke depan karena bercita-cita menjadi profesor dan dosen.
Denas, si pembuat pantun, kini terjebak di tengah panggung. Melihat Denas kesulitan, Menteri Mu’ti segera mengambil alih mikrofon. “Siapa temannya Denas yang bisa bantu? Kita bikin pantun kolaborasi!” serunya.
Tiba-tiba, dari barisan belakang, seorang siswa SMA bernama Waldan maju ke depan. Waldan dengan tenang, mengambil alih panggung dan melengkapi pantun Denas dengan rima yang jenaka dan relevan. “Beli Buah ke Pasar, jangan lupa bertemu Radit. Rajinlah kita belajar, kalau besar dapat duit,” tutur Waldan.
Pantun kolaborasi siswa SD dan SMA ini berhasil memecahkan suasana tegang yang seketika berubah menjadi hangat dengan gelak tawa. Menteri Mu’ti pun tak kuasa menahan senyum dan tepuk tangan meriah.
Waldan berhasil mengubah tantangan Denas menjadi pesan motivasi yang kocak dan mudah dicerna yakni merangkum esensi pendidikan bahwa dengan belajar keras berujung pada kemakmuran. (hms/smr)





