Di Taheren, Ketua Parlemen (DPR) Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan Republik Islam Iran sukses membuat musuh kalang kabut dan memukul mundur kendatipun memiliki sumber daya keuangan dan material yang lebih unggul dengan menerapkan strategi perang asimetris.
Semarak.co – Qalibaf menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara televisi yang ditayangkan pada Sabtu malam. “Kami berperang secara asimetris sedemikian rupa sehingga kami berhasil memukul mundur musuh,” katanya.
Inilah 5 Keunggulan Strategi Perang Asimetris Iran yang Mampu Kalahkan AS dan Israel
1. Memanfaatkan Kekurangan Musuh
Menurut anggota parlemen terkemuka dan negosiator utama tersebut, kekurangan musuh bukanlah pada sumber daya tetapi pada strategi. “Musuh memiliki uang dan sumber daya, tetapi mereka tidak bertindak dengan benar dalam hal desain,” kata Qalibaf.
Dilansir SindoNews.com dari Press TV (20/4/2026). “Mereka melakukan kesalahan strategis. Mereka salah perhitungan mengenai rakyat kita, sama seperti mereka salah perhitungan dalam desain militer mereka sendiri,” kata Qalibaf.
Qalibaf mengatakan AS memiliki kekuatan militer, pengalaman dan sumber daya yang lebih unggul, tetapi Republik Iran muncul sebagai pemenang dalam perang baru-baru ini lewat perang asimetris dan memukul mundur musuh melalui perencanaan dan persiapan yang cermat.
“Kita tidak lebih kuat dari Amerika Serikat dalam kekuatan militer,” katanya. “Jelas bahwa mereka memiliki lebih banyak uang, peralatan dan sumber daya, dan karena mereka telah melakukan begitu banyak agresi di seluruh dunia, pengalaman mereka juga lebih besar daripada kita,” tambahnya.
Namun, ia menekankan bahwa keunggulan materiil tidak menjamin kemenangan. “Tentu saja, peralatan, sumber daya dan uang efektif dalam perang dan kemenangan, tetapi tidak selalu demikian,” kata Qalibaf retoris.
2. Mengutamakan Kecerdasan Strategis
Qalibaf mengaitkan keberhasilan militer Iran dengan kecerdasan strategis. “Kita melakukan perang asimetris sedemikian rupa sehingga kita memukul mundur musuh melalui perencanaan dan persiapan kita sendiri,” katanya bangga.
“Musuh memiliki uang dan sumber daya, tetapi mereka tidak bertindak dengan benar dalam hal perencanaan,” ucapnya. Ia juga mengecam pemerintahan Donald Trump karena mengutamakan Israel daripada Amerika Serikat sendiri.
“Pemerintah AS mengklaim bahwa ‘Amerika’ penting bagi mereka, tetapi dalam praktiknya, mereka telah menunjukkan bahwa Israel lebih diutamakan bagi mereka, karena mereka membuat keputusan berdasarkan informasi palsu dari Israel.”
Ia menegaskan bahwa Iran menerima gencatan senjata karena AS menerima tuntutannya. “Memerkuat hak-hak bangsa harus menjadi tujuan utama kita. Dan yakinlah, tidak akan ada penyerahan diri di bidang diplomasi,” kata Qalibaf.
Ia mengatakan bahwa ketika musuh tidak dapat memaksakan tuntutannya kepada bangsa Iran melalui kekuatan militer, tidak dapat memengaruhi kita dengan ultimatumnya, dan melihat bahwa angkatan bersenjata Iran berdiri teguh di medan perang.
3. Siap Merespons saat Musuh Melakukan Kesalahan
Qalibaf menyatakan, Iran tetap teguh di medan perang dan siap merespons saat musuh melakukan kesalahan, menekankan angkatan bersenjata sepenuhnya siap bahkan saat negosiasi diplomatik. Ia menguraikan pendekatan jalur ganda Iran, yaitu kesiapan militer dan keterlibatan diplomatik.
“Selama kita mengejar masalah di medan perang dan secara militer, kita tetap teguh, dan hari ini kita juga tetap teguh,” katanya. “Saat musuh melakukan kesalahan, kita siap. Apapun yang mereka inginkan dengan strategi apa kami ladeni.”
Ketua parlemen dan negosiator utama menekankan bahwa Teheran tidak memercayai musuh-musuhnya, memeringatkan bahwa respons Iran akan cepat terhadap setiap tindakan agresi musuh. “Karena kita tidak mempercayai musuh,” kata Qalibaf.
“Bahkan saat ini, saat kita duduk di sini, perang bisa pecah. Angkatan bersenjata sepenuhnya siap di lapangan.” Ia menolak anggapan bahwa negosiasi yang sedang berlangsung dapat menyebabkan rasa puas diri terkait masalah pertahanan nasional,” katanya.
“Bukan berarti kita berpikir hanya karena kita sedang bernegosiasi, angkatan bersenjata tidak siap. Sebaliknya, sama seperti rakyat berada di jalanan, angkatan bersenjata kita juga siap,” kata Ketua Parlemen Iran tersebut.
Qalibaf menekankan bahwa baginya, tidak ada perbedaan yang menyolok antara medan perang dengan pembicaraan di meja perundingan. Dan ia siap mengorbankan nyawanya “untuk mengamankan hak-hak rakyat (berdaulat)”.
4. Struktur Politik Iran yang Kuat
Dalam pernyataan lain, Qalibaf mengatakan struktur politik dan militer negara tersebut membuktikan kekuatan dan ketahanannya setelah gugurnya Pemimpin Revolusi Islam Iran dan para komandan yang berpangkat tinggi.
Ia mencatat bahwa rakyat Iran sendiri bangkit untuk mengisi kekosongan tersebut. Ia juga berbicara tentang kemunafikan AS selama negosiasi dua kali dalam setahun terakhir, merujuk pada perang pada Juni tahun lalu dan konflik pada akhir Februari tahun ini.
Qalibaf membandingkan waktu respons Iran antara perang sebelumnya dan perang terbaru. “Dalam perang pertama, kami mengalami keterlambatan 14 hingga 15 jam dalam merespons dan menyerang,” kata Qalibaf kepada media.
Tetapi dalam perang ini, meskipun panglima tertinggi, kepala staf umum, dan komandan IRGC telah gugur, yang dapat menyebabkan gangguan, kami melihat bahwa reaksi terjadi dalam waktu sesingkat mungkin,” lanjutnya.
Menghubungkan kecepatan tersebut dengan “struktur yang kuat.” Mengacu pada warisan Imam Khomeini, pendiri Republik Islam dan Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam yang gugur, Qalibaf mengatakan mereka percaya, revolusi tidak bergantung pada individu tetapi pada institusi.
5. Sistem Pertahanan Udara yang Maksimal
Qalibaf mengatakan pasukan pertahanan udara Iran berhasil menyerang sekitar 180 drone dalam perang ini — kemampuan yang tidak ada selama konflik sebelumnya — dan menegaskan, serangan terhadap jet tempur F-35 AS mengirimkan pesan yang jelas kepada musuh.
Ia menyoroti kemajuan teknis yang signifikan dalam sistem pertahanan udara Iran, terutama setelah perang 12 hari pada Juni tahun lalu. Ia membahas insiden spesifik yang melibatkan jet tempur F-35 AS, dan menggambarkannya sebagai bukti kecanggihan teknis Iran yang kian meningkat.
“Menyerang F-35 bukanlah kebetulan; ini adalah operasi yang melibatkan berbagai dimensi teknis dan desain,” katanya. Menurut ketua parlemen, kedekatan ledakan rudal dengan pesawat berfungsi sebagai sinyal pencegahan.
“Rudal yang meledak di dekat F-35 membuat musuh memahami kemampuan apa yang kita miliki dan ke arah mana kita bergerak,” tambah Qalibaf. Ia juga memuji rakyat yang setiap hari turun ke jalan sebagai bentuk solidaritas dengan angkatan bersenjata negara.
“Kami meraih kesuksesan yang baik di medan perang yang sengit dan orang-orang di jalanan adalah mitra kami dalam hal itu. Untuk konsolidasi kesuksesan ini, orang-orang yang hadir di jalanan juga sangat efektif,” ungkapnya. (net/snc/ptv/kim/smr)





