Dua pria memegangi karton yang ditulisi saat mereka turun ke jalan bersama ratusan demonstran lainnya di gedung kapitol di Olympia, Washington, Minggu (19/4/2020). Mereka memprotes perintah "di rumah saja", yang diberlakukan pemerintah negara bagian untuk menghadang penyebaran penyakit virus corona COVID-19. Foto: indopos.co.id

Angka kematian akibat virus corona jenis baru, Covid-19, di seluruh Amerika Serikat (AS) telah menembus angka 40 ribu, menurut penghitungan Reuters pada Minggu (19/4/2020). Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatatkan 37.202 kematian, termasuk 1.759 kematian baru pada Sabtu (18/4/2020).

semarak.co -Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi di dunia dan hampir dua kali lipat dari jumlah kematian di Italia, negara berikutnya dengan angka kematian tertinggi.

AS menghabiskan 38 hari, dari laporan pertama kematian pada 29 Februari, untuk mencapai jumlah kematian sebesar 10 ribu, pada 6 April 2020. Kemudian, negara itu hanya butuh waktu lima hari lagi untuk mencatatkan angka kematian menjadi 20 ribu, menurut penghitungan Reuters.

Jumlah total orang yang meninggal di AS meningkat dari 30 ribu menjadi 40 ribu dalam empat hari, termasuk kematian orang-orang di New York City yang tidak sempat diuji COVID-19 namun kemungkinan meninggal karena penyakit itu.

AS sejauh ini merupakan negara di dunia yang memiliki jumlah tertinggi pengidap virus corona, yakni lebih dari 744.000 orang. Kasus baru pada Sabtu (18/4) meningkat sebanyak hampir 29.000, peningkatan paling rendah dalam tiga hari terakhir.

Lebih dari 22 juta warga Amerika dalam sebulan belakangan ini telah mengajukan permintaan bantuan bagi pengangguran akibat penutupan kegiatan usaha dan sekolah. Larangan keras menyangkut perjalanan juga telah memukul ekonomi masyarakat.

BACA JUGA :  Dapat Kekuatan Baru Pemilih Latin, Trump Ungguli 7 Negara Bagian, Meski Hilang Pendukung Lansia

Para gubernur negara-negara bagian AS, yang terdampak paling parah oleh virus corona, berdebat dengan Presiden AS Donald Trump soal pernyataan Trump bahwa mereka sudah melakukan tes corona cukup banyak dan perlu cepat menjalankan kembali kegiatan ekonomi.

Sementara itu, makin banyak aksi protes direncanakan akan digelar menyangkut perpanjangan perintah di rumah saja. Daerah-daerah seperti Maryland, Virginia dan Washington D.C. masih menghadapi peningkatan kasus COVID-19.

New Jersey pada Minggu melaporkan bahwa jumlah kasus baru di negara bagian itu bertambah sebesar hampir 3.900, tertinggi dalam dua pekan terakhir ini. Kota Boston dan Chicago juga beranjak menjadi pusat penyebaran seiring dengan kenaikan jumlah orang yang mengidap corona dan meninggal akibat virus itu.

Pemerintah beberapa negara bagian, termasuk Ohio, Texas dan Florida, sudah menyatakan akan membuka kembali beberapa jenis kegiatan ekonomi, mungkin mulai 1 Mei atau bahkan lebih cepat dari itu. Kendati demikian, mereka tampaknya masih akan tetap bersikap waspada.

Selain itu, CDC mengungkapkan ada 720.630 kasus virus corona, yaitu penambahan sebanyak 29.916 kasus dari jumlah sebelumnya. Penghitungan CDC mengenai kasus penyakit pernapasan itu dilaporkan pada Sabtu pukul 16.00 EDT atau Minggu (19/4/2020), pukul 03.00 WIB.

Data CDC tersebut tidak mewakili jumlah kasus yang dilaporkan oleh masing-masing negara bagian. Penghitungan yang dilaporkan selama akhir pekan tersebut merupakan jumlah awal dan akan diperbarui pada Senin.

BACA JUGA :  Skandal Jiwasraya, Siapa Aktor-Aktor Hebat Dibalik Skandal Tersebut??

Sementara itu ada sekitar 2.500 orang berunjuk rasa di ibu kota Negara Bagian Washington pada Minggu (19/4/2020) untuk memprotes perintah tinggal di rumah, yang diberlakukan Gubernur Demokrat Jay Inslee guna membatasi penyebaran virus corona.

Para demonstran menentang larangan pertemuan 50 orang atau lebih. Meskipun ada permintaan dari penyelenggara unjuk rasa tersebut agar para peserta mengenakan penutup wajah atau masker, banyak yang tidak menggunakan.

Polisi memperkirakan kerumunan itu berjumlah sekitar 2.500 orang, menjadikannya salah satu protes terbesar selama seminggu terakhir di negara-negara bagian Amerika Serikat terhadap pembatasan.

Di Olympia, ratusan orang berkumpul di tangga dekat gedung kapitol dan di sekitar air mancur. Mereka melanggar pedoman kesehatan negara bagian dan federal selama pandemi virus corona. Para pengunjuk rasa mengendarai kendaraan ke ibu kota negara bagian, membunyikan klakson dan memblokir jalan.

Penyelenggara aksi, Tyler Miller, insinyur berusia 39 tahun dari Bremerton, Washington, serta seorang petugas kepolisian dari Partai Republik mengatakan kepada Reuters bahwa menutup kegiatan ekonomi dengan memilah-milah kategori penting dan tidak penting adalah pelanggaran konstitusi negara bagian dan federal.

Sangat Berisiko

“Tidak ada keraguan bahwa membela kebebasan artinya adalah mempertaruhkan semua bahaya,” kata Miller, mengutip kutipan John Adams. “Revolusi Amerika terjadi pada puncak epidemi cacar. Para pendiri kita sangat menyadari risiko semacam ini.”

BACA JUGA :  Kapal Perang AS Berlayar Lewat Selat Taiwan Saat Peringatan Tragedi Tiananmen, Amerika Desak China Hormati HAM

Kerumunan itu bertahan di kompleks kapitol setelah jadwal aksi unjuk rasa selesai, tetapi polisi Negara Bagian Washington tidak mengeluarkan surat pelanggaran, kata juru bicara Chris Loftis.

Trump pada Jumat mencuit dukungan bagi aksi protes serupa di Michigan, Minnesota dan Virginia untuk “membebaskan” mereka dari aturan pembatasan sosial. Walaupun tidak menggambarkan demonstrasi sebagai upaya untuk membebaskan Washington,  Miller mengatakan, “Itu memberi saya kenyamanan bahwa dia mendukung saya.”

Sebelumnya pada Minggu, Inslee mengatakan anggota parlemen Republik negara bagian mendukung penentangan terhadap aturan jarak sosial yang telah menutup sebagian besar kegiatan ekonomi.

“Komentar dalam berita oleh beberapa legislator Republik menyerukan ‘pemberontakan terbuka,’ mengklaim plot ‘negara dalam’ dan pernyataan radikal lainnya yang tidak bertanggung jawab dan dapat menyebabkan lebih banyak orang jatuh sakit,” kata Inslee, seorang tokoh Demokrat, dalam sebuah pernyataan.

“Saya mendukung kebebasan berbicara. Tetapi kerumunan orang atau pidato tidak akan menentukan jalan kita. Ini bukan tentang politik. Itu hanya mengenai melakukan apa yang terbaik untuk kesehatan semua warga Washington.”

Negara bagian Washington memiliki kasus virus corona terkonfirmasi pertama di negara itu pada akhir Januari dan klaster maut pertama terdapat di panti jompo di luar Seattle. (net/lin)

LEAVE A REPLY