Jika Ekonomi Terguncang Akibat Perang Iran, Negara Sekutu ini Minta Ganti Rugi ke AS

Perpanjangan masa gencatan senjata Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran hingga ulah Zionis Israel merilis peta pendudukan di Lebanon Selatan menjadi sorotan dunia internasional. Akibat perang Iran, salah satu negara sekutu di Timur Tengah, pun meminta ganti rugi AS.

Semarak.coSalah satu negara sekutu negara Paman Sam di Timur Tengah, Uni Emirat Arab (UEA) berencana meminta kompensasi uang ke Amerika Serikat apabila ekonomi Abu Dhabi terguncang imbas perang AS-Israel melawan Iran.

Bacaan Lainnya

Gubernur Bank Sentral UEA, Khaled Mohamed Balama, dikabarkan mengemukakan gagasan itu kepada Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan para pejabat Federal Reserve agar Washington menyediakan skema pertukaran mata uang (currency swap line/CSL) dengan Abu Dhabi.

Skema tersebut jika terjadi dampak ekonomi signifikan buntut perang Timur Tengah. Currency Swap Line (CSL) adalah kesepakatan antara dua bank sentral untuk menukar mata uang domestik dengan nilai tukar yang telah disepakati.

Fungsi CSL tersebut, memungkinkan bank-bank sentral asing untuk memeroleh dolar Amerika Serikat dengan konversi harga yang lebih rendah saat terjadi krisis keuangan (domestik dan regional) atau ketidakpastian pasar meningkat.

Sementara itu, dari Istana Gedung Putih, Washington DC, AS, Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan keras: mengancam bom Iran habis-habisan jika perundingan lanjutan tidak terjadi setelah masa gencatan senjata berakhir pada Rabu (22/4/2026).

AS dan Iran dikabarkan akan menggelar perundingan kedua yang berlangsung di Pakistan pada hari Rabu (22/4). Wakil Presiden AS, JD Vance, disebut akan terbang ke Islamabad, Pakistan, Selasa (21/4), untuk menghadiri negosiasi lanjutan.

Namun, Iran menunjukkan sinyal enggan melanjutkan negosiasi dengan AS. Kementerian Luar Negeri Republik Iran sebelumnya menyebut belum ada rencana untuk mengirim negosiator ke Islamabad untuk melanjutkan perundingan dengan AS.

Presiden AS Donald Trump memerpanjang gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada Senin (21/4/2026) malam waktu AS, dengan dalih ingin memberi lebih banyak waktu bagi proses perundingan gencatan senjata tersebut.

Keputusan Trump ini keluar setelah dirinya mengancam akan menyerang Iran habis-habisan jika Teheran kekeh enggan melanjutkan perundingan di Islamabad setelah gencatan dua pekan berakhir. Pengumuman ini juga keluar hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata Iran-AS sejak 8 April berakhir hari ini, Rabu (22/4).

Seperti diketahui, Presiden Donald Trump kekeuh memperpanjang gencatan senjata sampai waktu yang belum ditentukan, seraya menyebut keputusan ini juga datang atas permintaan dari negara Pakistan selaku mediator perundingan.

Sementara militer Zionis Israel untuk pertama kalinya mempublikasikan peta garis penempatan baru pasukannya di Lebanon selatan, wilayah yang dikuasai milisi Syiah Hizbullah dan menempatkan puluhan desa di bawah kendalinya. Demikian dilansir CnnIndonesia.com (22/4/2026).

Perilisan peta wilayah Lebanon Selatan itu berlangsung hanya beberapa hari setelah gencatan senjata dengan Hizbullah mulai berlaku. Belum ada komentar langsung dari pejabat Lebanon maupun Hizbullah yang didukung Iran dalam hal ini. (net/cic/afp/kim/smr)

Pos terkait