Bertemu Pengurus GMKI, Menag Nasaruddin Beber Ide Kurikulum Cinta untuk Cegah Intoleransi

Menag) Nasaruddin Umar menerima kunjungan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menerima kunjungan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), membahas isu-isu intoleransi, serta menggagas langkah menuju Indonesia yang lebih toleran.

Semarak.co – Menag menjelaskan gagasan besarnya mengenai kurikulum cinta. Hal itu dikatakannya sebagai respons terhadap maraknya penyebaran kebencian berbasis agama. Menag menekankan pentingnya pembaruan kurikulum pendidikan agama di Indonesia.

Bacaan Lainnya

 

“Dulu saya juga aktivis demo. Tapi sekarang saya ingin kita berpikir lebih fundamental. Yang harus kita bidik sekarang adalah generasi di bawah usia 30 tahun. Kurikulum cinta harus dimulai dari sini,” ujar Nasaruddin, dirilis humas melalui laman resmi pemerintah kemenag.go.id di WAGroup Jurnalis Kemenag, Jumat (1/8/2025).

Dia menyatakan, banyak guru agama, sadar atau tidak, justru mengajarkan kebencian. Nasaruddin ingin semua agama diajarkan dengan pendekatan cinta. “Kita perlu menyisir ulang kurikulum kita,” lanjutnya.

Menag mengajak GMKI bersama-sama menyusun dan mendorong implementasi kurikulum cinta. “Persoalan seperti di Padang sudah selesai dengan baik. Tapi gagasan besar ini juga sangat penting. Mari kita bicarakan dalam bentuk konsep konkret. Dan bantu kami mewujudkannya,” tambahnya.

“Kalau kurikulum cinta sudah diimplementasikan, saya yakin Indonesia akan hidup saling menyayangi. Tapi ini tidak instan. Perlu sampai sampai tiga tahun agar doktrin cinta ini tertanam,” jelasnya.

 

Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan GMKI, Combyan Lombongbitung, menyampaikan dukungan penuh terhadap gagasan kurikulum cinta. Ia juga menyatakan kesiapan GMKI untuk menjadi mitra aktif Kementerian Agama dalam memerangi intoleransi.

“GMKI siap membackup dan mendukung Bapak Menteri Agama dalam melawan segala bentuk tindakan intoleransi. GMKI hadir untuk melawan tindakan intoleransi dan kami siap mendampingi Pak Menteri dalam perjuangan ini,” ujar Combyan.

GMKI juga mengusulkan pembentukan Satgas Reaksi Cepat sebagai mekanisme pencegahan dan penanganan dini terhadap berbagai tindakan intoleransi di masyarakat. “Selama ini, banyak kasus intoleransi baru mendapat perhatian setelah viral di media sosial. Satgas ini dibutuhkan agar bisa mendeteksi dan merespons lebih cepat,” terang Combyan.

GMKI juga meminta dukungan Menag agar dapat menjembatani koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah, khususnya terkait perizinan pendirian rumah ibadah yang kerap menghadapi hambatan di tingkat lokal. (hms/smr)

 

Pos terkait