Disinyalir keras bahwa militer Amerika Serikat (AS) dalam menggunakan senjata dan amunisi secara berlebihan dalam perang melawan Republik Islam Iran. Sejumlah laporan media internasional kembali memunculkan pertanyaan serius mengenai ketahanan stok persenjataan AS.
Semarak.co – Seberapa kuat ketahanan stok persenjataan Paman Sam di tengah meningkatnya intensitas operasi militer yang disebut berkaitan dengan konflik di Timur Tengah. Laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa keterlibatan militer AS dalam operasi berskala besar telah menyebabkan konsumsi amunisi dalam jumlah sangat besar.
Terutama pada sistem senjata presisi dan pertahanan udara. Dalam laporan tersebut, sumber di lingkungan pertahanan dan Kongres AS mengungkapkan, militer AS disebut telah menggunakan sekitar 5,6 miliar dolar AS persenjataan hanya dalam dua hari pertama operasi militer.
Selain itu, lebih dari 1.200 rudal Patriot dilaporkan telah ditembakkan, dengan biaya mencapai jutaan dolar AS per unitnya. Pentagon juga disebut menggunakan lebih dari 1.000 rudal serangan presisi serta sistem ATACMS dalam skala besar.
Akibatnya, sejumlah stok senjata strategis Amerika dilaporkan berada pada level yang dinilai “rendah secara mengkhawatirkan”. Kendati demikian, Gedung Putih dengan tegas membantah laporan yang seolah melemahkan kekuatan Paman Sam.
Pemerintah AS menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa kondisi militer Amerika Serikat sekarang ini tetap kuat dan senantiasa stabil dan memiliki persediaan senjata yang mencukupi untuk seluruh kebutuhan operasional.
“Laporan mengenai kekurangan amunisi tidak benar. Militer Amerika Serikat tetap berada dalam kondisi siap dan memiliki sumber daya yang memadai,” demikian pernyataan resmi Gedung Putih, seperti dilansir Arrahmah.id dari The New York Times (24/4/2026).
Laporan lembaga pertahanan AS menyebutkan, di sisi lain, sejumlah lembaga kajian pertahanan di AS menyebut adanya indikasi tekanan terhadap rantai pasokan militer akibat tingginya intensitas operasi militer.
Majalah Air & Space Forces melaporkan bahwa Pentagon bahkan harus mengalihkan sebagian aset militer dari kawasan Asia dan Eropa ke Timur Tengah untuk memenuhi kebutuhan operasional yang semakin meningkat.
Sementara itu, Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat bahwa penggunaan besar-besaran berbagai sistem rudal, di antaranya:
- Sekitar 1.000 rudal Tomahawk dari stok sekitar 3.100 unit
- Lebih dari 1.000 rudal JASSM dari total sekitar 4.400 unit
- Ratusan sistem pertahanan THAAD
- Lebih dari 1.000 rudal Patriot dalam operasi intersepsi.
CSIS menilai bahwa tingginya konsumsi senjata presisi dalam konflik atau perang melawan Republik Islam Iran ini sangat berpotensi dalam memberikan tekanan keras jangka panjang terhadap kemampuan logistik militer Amerika Serikat.
Di tengah bantahan resmi Washington, perdebatan mengenai kondisi sebenarnya stok persenjataan AS terus berlangsung. Sebagian analis menilai bahwa konflik berkepanjangan dengan intensitas tinggi dapat menguji batas kemampuan militer negara adidaya itu. (net/aid/afp/tnyt/kim/smr)





