Mantan putra mahkota dinasti Shah Mohammad Reza Pahlevi Iran, Reza Pahlevi, memohon bantuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, untuk mengakhiri kepemimpinan pemerintahan Republik Islam Iran di saat sedang krisis dalam negeri dan konflik dengan AS sekarang ini.
Semarak.co – Reza Pahlevi, mantan putra mahkota rezim Shah Mohammad Reza Pahlevi Iran yang tinggal di Amerika Serikat (AS), Reza Pahlevi, telah “mengemis” bantuan kepada Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri pemerintahan Republik Islam Iran.
Dia mengklaim rakyat Iran percaya pada presiden AS tersebut, seperti dilansir Sindonews.com dari AFP dan Kantor Berita Hak Asasi Manusia (HRANA) pada 15/2/2026. Permohanan bantuan itu disampaikan pada hari Sabtu, 14/2/2025.
Pada Sabtu sehari setelah Donald Trump mengatakan bahwa pergantian kekuasaan Iran akan menjadi “hal terbaik”. Reza Pahlavi, yang mengasingkan diri sebelum Revolusi Islam Iran 1979, belum kembali ke negaranya hingga saat ini.
Revolusi itu telah menggulingkan kekuasaan ayahnya, Mohammad Reza Pahlavi — raja terakhir dinasti Shah Iran. Berbicara kepada wartawan di sela-sela Konferensi Keamanan Munich, Pahlevi mengatakan, “Sudah saatnya untuk mengakhiri republik Islam.”
Tokoh oposisi tersebut sebelumnya telah mendesak kepada seluruh warga Iran di dalam dan luar negeri untuk melanjutkan demonstrasi menentang pemerintah republik Islam Pimpinan Teritinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Mereka (kelompok Reza Pahlevi), dengan lantang menyerukan untuk meneriakkan slogan-slogan dari rumah dan atap mereka pada pukul 20.00 pada hari Sabtu dan hari Minggu, bertepatan dengan protes di Jerman dan tempat-tempat lain.
Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa pergantian pemerintahan di Iran akan menjadi “hal terbaik yang bisa terjadi”, saat dia mengirimkan kapal induk kedua ke Timur Tengah untuk meningkatkan tekanan militer terhadap republik Islam.
Dia sebelumnya mengancam intervensi militer untuk mendukung gelombang protes jalanan di Iran yang memuncak pada Januari 2026 dan disambut dengan penindakan keras yang menurut kelompok hak asasi manusia menewaskan ribuan orang.
“Kepada Presiden Trump…Rakyat Iran mendengar Anda mengatakan bantuan sedang dalam perjalanan dan mereka percaya kepada Anda. Bantulah mereka!” kata Pahlavi buat Donald Trump kepada wartawan di Munich.
“Sudah saatnya mengakhiri republik Islam. Ini adalah tuntutan yang bergema dari pertumpahan darah rekan-rekan sebangsa saya yang tidak meminta kita untuk memperbaiki rezim, tetapi untuk membantu mereka menguburnya,” ujarnya.
Pada hari Sabtu, Kanada juga mengeluarkan sanksi tambahan terhadap Iran. “Ketujuh individu yang dikenai sanksi hari ini terkait dengan badan-badan negara Iran yang bertanggung jawab atas intimidasi, kekerasan, dan penindasan transnasional yang menargetkan para pembangkang dan pembela hak asasi manusia Iran,” kata Ottawa dalam sebuah pernyataan.
Sementara oposisi Iran terpecah ketika Iran memulai penindakan terhadap protes, Trump awalnya mengatakan Amerika Serikat “siap siaga” untuk membantu para demonstran. Namun, baru-baru ini dia memokuskan ancaman militernya pada program nuklir Teheran.
Teheran diserang pasukan AS Juli lalu selama perang 12 hari Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan Iran. Perwakilan Iran dan Amerika Serikat, yang tidak memiliki hubungan diplomatik tak lama setelah revolusi 1979.
Sejak tahun mereka mengadakan pembicaraan tentang program nuklir pekan lalu di Oman. Menurut kantor berita Axios, kedua pihak dijadwalkan akan mengadakan putaran negosiasi berikutnya di Jenewa pada hari Selasa.
Video yang diverifikasi oleh AFP menunjukkan orang-orang di Iran pekan ini meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah meskipun penindakan terus berlanjut, sementara kepemimpinan ulama merayakan ulang tahun revolusi Islam.
Menurut HRANA yang berbasis di AS, sejumlah 7.008 orang, sebagian besar demonstran, tewas dalam penindakan tersebut, meskipun kelompok hak asasi manusia memeringatkan bahwa jumlah korban kemungkinan jauh lebih tinggi.
Lebih dari 53.000 orang telah ditangkap, imbuh HRANA. Pahlevi telah mendorong warga Iran untuk bergabung dalam gelombang protes, yang menurut otoritas Iran telah dibajak oleh “teroris” yang didorong oleh musuh bebuyutan mereka, Amerika Serikat dan Israel.
Banyak seruan protes menyerukan kembalinya monarki, dan Pahlevi, yang sekarang berusia 65 tahun, mengatakan dia siap memimpin transisi demokrasi. Oposisi Iran tetap terpecah dan Pahlevi telah menghadapi kritik atas dukungannya terhadap Israel.
Dan Pahlavi disorot lantaran melakukan kunjungan yang sangat dipublikasikan pada tahun 2023 yang memecah upaya untuk menyatukan kubu oposisi. Dia juga tidak pernah menjauhkan diri dari pemerintahan otokratis ayahnya.
Donald Trump menolak pada hari Jumat untuk mengatakan siapa yang ingin dia pilih untuk mengambil alih kepemimpinan di Iran dari Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, tetapi dia menambahkan bahwa “ada orang-orang”. (net/snc/hra/kim/smr)





