Meski masih dirundung konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, namun pemerintah Republik Iran sudah menerima pendapatan pertama dari pungutan tarif yang dikenakannya bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz yang sampai kini masih tengah diperebutkan AS.
Semarak.co – Pengakuan itu dikatakan oleh seorang pejabat senior parlemen Iran yang menyebut bahwa pemerintahnya telah menerima pendapatan pertama dari pungutan tarif yang dikenakannya bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
“Pendapatan pertama yang diterima dari tol Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral,” kata Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, menurut kantor berita Iran, Tasnim, seperti dilansir Detik.com dari Kantor Berita AFP, pada Kamis (23/4/2026).
Tak cuma media pemerintah Iran (Tasnim dan kantor berita AFP), bahkan sejumlah media yang beredar di Republik Islam Iran lainnya pun juga menyampaikan pernyataan yang sama, meski tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Selat Hormuz, jalur perdagangan energi utama, telah menjadi titik konflik utama sejak pecahnya perang antara negara Paman Sam dan Zionis Israel melawan Republik Islam Iran semenjak pertama kali berkobar pada 28 Februari 2026 lalu.
Otoritas Iran hanya mengizinkan sedikit kapal untuk melewati jalur air strategis tersebut. Di masa damai, selat tersebut merupakan rute yang menyumbang seperlima dari aliran minyak dan gas dunia, bersama dengan komoditas vital lainnya.
Sebelum pengumuman mengenai pendapatan dari bea masuk ini, parlemen Republik Islam Iran telah bersidang untuk memutuskan apakah akan mengenakan bea masuk pada pelayaran melalui selat Hormuz tersebut.
Para pejabat di Republik Islam Iran telah memeringatkan (kepada negara-negara agresor) bahwa lalu lintas maritim melalui selat tersebut “tidak akan kembali ke status sebelum perang”. Meski kemungkinan akan berubah status. (net/dc/tn/afp/rts/kim/smr)





