PM Israel Benjamin Netanyahu di Poster kan Jadi Buronan di London

Para aktivis politik menempelkan poster buronan atau “Dicari” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di bus, jalanan, dan tempat-tempat penting di London sebagai bentuk protes yang menyoroti perannya dalam kejahatan perang dan genosida yang terkait dengan konflik Gaza.

Semarak.co – Kampanye yang dilakukan oleh para aktivis pro-Palestina ini menampilkan gambar Netanyahu bersama teks yang merujuk pada surat perintah penangkapan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) yang dikeluarkan pada November 2024.

Surat perintah penangkapan ICC tersebut memerintahkan penangkapan PM Israel Benjamin Netanyahu dan menuduhnya melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan  di Jalur Gaza sejak bulan Oktober 2023.

Selain di London, ratusan demonstran turun ke jalan-jalan di Stockholm, Swedia, untuk memrotes serangan Zionis Israel yang terus berlanjut terhadap Gaza, Palestina, meskipun ada perjanjian gencatan senjata pada 10 Oktober 2025.

Aksi protes yang diorganisir oleh berbagai kelompok masyarakat sipil ini berlangsung di Lapangan Odenplan, di mana para peserta membawa spanduk bertuliskan “Anak-anak dibunuh di Gaza,” “Sekolah dan rumah sakit dibom,” dan “Akhiri kekurangan pangan.”

Banyak yang mengibarkan bendera Palestina dan menyerukan agar Swedia menghentikan penjualan senjata ke Israel. Berbicara kepada Anadolu, dilansir sindonews.com pada 29/12/2025, aktivis Swedia Robin Nillson mengatakan, protes akan berlanjut hingga perdamaian abadi tercapai.

Ia mengkritik kebijakan Netanyahu dan menyoroti dampak kemanusiaan dari konflik yang sedang berlangsung. “Meskipun terjadi krisis kemanusiaan yang parah dan kematian massal, kita belum melihat perubahan nyata,” kata Nillson.

Ia menambahkan bahwa Benjamin Netanyahu hanya menyetujui gencatan senjata di bawah tekanan internasional. “Klaim di beberapa media bahwa perang dapat berlanjut hingga akhir tahun 2026 sangat menakutkan,” katanya.

“Jika situasinya tidak membaik, kami akan terus melakukan protes massal dan tindakan pembangkangan sipil tahun depan.” Tentara Israel membunuh lebih dari 71.200 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 171.200 lainnya dalam serangan di Gaza sejak Oktober 2023.

Kendati gencatan senjata berlaku  10/12/2025, kondisi kehidupan belum membaik signifikan, karena Israel gagal memenuhi komitmen berdasar perjanjian, termasuk mengizinkan jumlah makanan, bantuan, perlengkapan medis, dan perumahan bergerak yang telah disepakati ke Gaza. (net/snc/and/kim/smr)

Pos terkait