Perdamaian di Ambang Kehancuran Menyusul Serangan Amerika ke Iran Dua Hari Beruntun

Baru beberapa hari saja kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dengan Republik Islam Iran ditandatangani di Swiss, bangunan perdamaian tersebut bakal runtuh kembali. Perdamaian di ambang kehancuran menyusul serangan tiba-tiba AS ke Iran selama dua hari beruntun.

Semarak.co – Untuk hari kedua berturut-turut, negara Paman Sam melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (27/6/2026). Sama seperti sebelumnya, serangan ini diklaim sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal dagang di Selat Hormuz.

Bacaan Lainnya

Ini merupakan indikasi terbaru bahwa gencatan senjata di Timur Tengah mungkin berada di ambang kehancuran. Diketahui, kedua negara telah menyepakati perjanjian damai dua pekan lalu dan ditandatangani oleh kedua pihak di Swiss.

Menargetkan lokasi militer di wilayah Republik Islam Iran dalam sebuah pernyataannys, Komando Pusat Amerika atau Centcom menjelaskan bahwa serangan terbaru Paman Sam tersebut terjadi atas arahan Presiden AS Donald Trump.

“Pasukan Centcom melancarkan serangan hari ini sebagai tanggapan langsung terhadap agresi Iran yang terus berlanjut terhadap pelayaran komersial,” tulis laporan Pusat Komando tersebut, seperti dilansir Kompas.com  dari Al Jazeera pada Minggu (28/6/2026).

“Pesawat militer Amerika Serikat menargetkan infrastruktur pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, lokasi pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone dan kemampuan penebar ranjau,” sambung Pusat Komando tersebut.

Ledakan dilaporkan terjadi di Iran selatan, di sekitar desa Tahrui, dekat pelabuhan Sirik, yang juga menjadi titik fokus serangan AS pada hari Jumat. Media pemerintah Iran juga mengindikasikan bahwa Pulau Qeshm telah terkena serangan.

Sementara itu, di tiga hari sebelumnya, proyektil hantam kapal Singapura, yakni pada hari Kamis (25/6/2026), sebuah kapal kargo mengalami kerusakan setelah dihantam oleh proyektil tak dikenal di lepas pantai Oman di Selat Hormuz.

Badan keamanan UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan, insiden terjadi 7,5 mil laut (14 kilometer) di sebelah tenggara Dahit, di wilayah eksklave Musandam, Oman. “Sebuah kapal kargo telah dihantam di sisi kanan oleh proyektil yang tidak diketahui, menyebabkan kerusakan pada anjungan,” kata UMKTO.

“Nakhoda melaporkan tidak ada korban jiwa dan tidak ada dampak lingkungan,” sambungnya. Perusahaan keamanan maritim Inggris, Vanguard Tech mengidentifikasi kapal tersebut sebagai kapal kontainer berbendera Singapura, Ever Lovely.

Situs web MarineTraffic.com menunjukkan, kapal tanker tersebut meninggalkan ladang minyak Al Shaheen pada hari Kamis (25/6/2026) dan dijadwalkan berlabuh di Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA), pada hari Minggu (28/6/2026).

Rangkaian peristiwa serupa memicu serangkaian serangan AS pada Jumat (27/6/2026). Sementara kapal harus lapor kepada Iran untuk melewati Selat Hormuz. Iran telah memeringatkan kapal-kapal untuk tidak memasuki atau meninggalkan Teluk melalui Selat Hormuz tanpa izin.

Akan tetapi, kapal-kapal terus bergerak, beberapa di antaranya menggunakan rute yang tidak diizinkan oleh Teheran. Menurut platform pelacakan Kpler, sekitar setengah dari 42 kapal yang melakukan pelayaran pada Kamis (25/6) menggunakan rute selatan yang tidak disetujui di sepanjang pantai Oman.

Badan maritim Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengatakan bahwa operasi evakuasi telah membebaskan 115 kapal dan 2.500 pelaut yang terjebak di Selat Hormuz. Akan tetapi, serangan tersebut memaksa penghentian semua operasi. (net/kpc/alz/kim/smr)

Pos terkait