Tanker diserang di Selat Hormuz, Serangan Houthi Perbesar Ancaman Energi Dunia

Jalur energi dunia kembali terancam setelah sebuah kapal tanker dihantam proyektil tak dikenal di Selat Hormuz, sementara serangan Houthi memperluas tekanan terhadap Arab Saudi dan kawasan sekitarnya dalam eskalasi terbaru.

Semarak.co – Insiden tanker tersebut dilaporkan terjadi ketika kapal berlayar keluar melalui Selat Hormuz. Otoritas maritim Inggris menyebut proyektil menyebabkan kerusakan, tetapi awak kapal sejauh ini dilaporkan selamat tanpa korban jiwa serius.

Bacaan Lainnya

Marketscreener.com, Apnews.com dan Reuters (7/10/2026), melaporkan kapal tanker berbendera Panama bernama On Peace terkena proyektil ketika melintasi Hormuz. Dua belas awak terluka, termasuk 11 warga negara India dalam insiden itu dan langsung dievakuasi.

Serangan itu menambah kekhawatiran perusahaan pelayaran yang menghadapi risiko keamanan lebih tinggi. Gangguan lalu lintas di Hormuz berpotensi memperlambat pengiriman minyak menuju pasar Asia utama dan meningkatkan ongkos angkutan internasional.

Di saat bersamaan, kelompok Syiah Houthi yang didukung Iran meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi. Dua bandara di Najran dan Jizan dilaporkan terkena serangan rudal serta drone pada Senin, menurut laporan terbaru itu.

Associated Press melaporkan tiga orang mengalami luka ringan akibat serangan terhadap kedua bandara tersebut. Arab Saudi bersama sekutunya juga meningkatkan operasi militer melawan Houthi di wilayah strategis selatan negara tersebut.

Rangkaian serangan tersebut memerbesar risiko terhadap dua jalur perdagangan strategis, Hormuz dan Laut Merah. Keduanya sangat penting bagi distribusi energi dan perdagangan global setiap hari, terutama bagi Asia dan Eropa.

Pasar minyak langsung merespons meningkatnya ketegangan. Reuters melaporkan harga Brent naik menjadi sekitar 101,51 dolar AS per barel, sementara kekhawatiran pasokan terus membayangi pasar energi dunia secara luas hingga kini.

Arab Saudi berupaya memertahankan ekspor melalui jalur alternatif. Reuters melaporkan East-West Pipeline digunakan untuk mengalihkan sebagian minyak menuju pelabuhan Yanbu, mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz dan menjaga pengiriman tetap berjalan lancar.

Namun, kemampuan jalur alternatif belum sepenuhnya menghilangkan risiko. Jika serangan terhadap kapal dan infrastruktur energi berlanjut, biaya pengiriman, asuransi, serta harga bahan bakar dapat meningkat bagi konsumen global secara langsung.

Situasi ini membuat investor dan negara pengimpor energi memantau perkembangan Timur Tengah dengan ketat. Setiap gangguan tambahan dapat memengaruhi harga minyak dan inflasi global dalam waktu dekat secara signifikan pula. (net/msc/anc/rts/kim/smr)

Pos terkait