Dari Dubai, ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah sejumlah kapal tanker dilaporkan terkena proyektil, mendorong perusahaan pelayaran mengurangi aktivitas melewati jalur energi strategis tersebut dalam beberapa hari terakhir ini hari.
Semarak.co – Tiga kapal tanker minyak berbendera Liberia terkena proyektil tak dikenal ketika melintasi jalur strategis Selat Hormuz pada Selasa, menurut layanan intelijen maritim Marisks dalam laporan insiden pelayaran di kawasan regional tersebut.
Ketiga kapal tersebut menggunakan transponder Sistem Identifikasi Otomatis atau AIS dalam kondisi mati, sehingga pergerakannya sulit dipantau dan informasi insiden menjadi terbatas bagi otoritas maritim internasional hingga kini.
Marisks menyebut sumber maupun jenis proyektil yang menghantam kapal belum diketahui, sementara penyelidikan diperlukan untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab atas serangkaian insiden tersebut secara pasti dan dampaknya terhadap stabilitas.
Situasi semakin mengkhawatirkan setelah sebuah tanker kembali terkena proyektil ketika meninggalkan Selat Hormuz pada Jumat, menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations kepada pelaku industri pelayaran di tengah ketegangan regional.
Insiden Jumat menyebabkan kebakaran kecil dan gangguan listrik di kapal. Api berhasil dipadamkan, sementara tidak terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan lingkungan dari kejadian tersebut bagi keselamatan awak kapal kini.
Dilansir UKMTO, AP, AFP, ANTARA, Al Arabiya dan Reuters (3/10/2026), rangkaian serangan itu berdampak langsung terhadap lalu lintas pelayaran. Data Kpler menunjukkan hanya lima kapal komoditas melintasi Hormuz pada Sabtu, sementara Minggu tidak tercatat sama sekali pada akhir pekan terakhir.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan akhir pekan sebelumnya, ketika sebanyak 31 kapal tercatat melewati jalur tersebut, menunjukkan meningkatnya kehati-hatian perusahaan pelayaran internasional menghadapi ancaman keamanan di tengah situasi regional.
Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi sangat penting. Sebelum perang berlangsung, kawasan tersebut menangani sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dunia setiap hari sepanjang jalur internasional itu.
Reuters juga melaporkan pengiriman gas alam cair melalui Hormuz meningkat selama September, mencapai tingkat bulanan tertinggi sejak perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai beberapa bulan lalu lalu tersebut.
Namun, peningkatan pengiriman tersebut belum berarti kondisi keamanan sepenuhnya pulih. Risiko serangan, ketidakpastian diplomatik, dan ancaman terhadap kapal tetap membayangi perusahaan pelayaran internasional serta investor energi global.
Ketegangan Hormuz juga terjadi bersamaan dengan memburuknya keamanan di kawasan Laut Merah, setelah Houthi Yaman menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi sebelumnya pada tahun ini meningkatkan risiko perdagangan regional.
Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar energi karena gangguan berkelanjutan di Hormuz maupun Laut Merah dapat memerpanjang waktu pengiriman dan meningkatkan biaya transportasi bagi perusahaan global di Timur Tengah itu.
Jika serangan terhadap kapal terus berlanjut, perusahaan energi kemungkinan akan semakin berhati-hati menentukan rute, sementara negara importir menghadapi risiko kenaikan biaya minyak serta gas dan gangguan pasokan terhadap perdagangan internasional.
Meski demikian, belum semua insiden dapat dipastikan pelakunya. Kantor berita Reuters mencatat proyektil yang menghantam tiga tanker tersebut masih belum teridentifikasi secara independen hingga kini oleh pihak berwenang secara terbuka.
Perkembangan di Selat Hormuz kini menjadi perhatian utama pasar energi dan industri pelayaran, terutama karena jalur tersebut menghubungkan kawasan penghasil energi dengan pasar internasional di berbagai benua secara langsung global.(net/ukmto/ap/afp/ant/aa/rts/kim/smr)





