Iran menegaskan kesiapan menghadapi kemungkinan serangan Amerika Serikat (AS) namun tetap membuka jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik. Teheran menyatakan solusi militer tidak akan menyelesaikan persoalan berkepanjangan secara permanen dan menyeluruh.
Semarak.co – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan sikap itu pada Minggu (4/10/2026), ketika ketegangan dengan Washington kembali meningkat. Ia menegaskan Iran akan memertahankan diri jika diserang AS kembali secara langsung.
Araghchi mengatakan Iran kini lebih siap menghadapi konfrontasi dibanding sebelumnya. Namun, pemerintahnya berharap AS memilih kebijaksanaan dan alasan, bukan kembali menggunakan kekuatan militer terhadap Teheran dalam situasi terkini.
Menurut Iran, sanksi ekonomi tambahan juga tidak akan menyelesaikan konflik. Teheran menilai penyelesaian hanya mungkin dicapai melalui perundingan yang dianggap adil, seimbang dan menghormati kepentingan konstruktif kedua pihak secara serius.
Di tengah ketegangan tersebut, seperti dilansir AFP dan Reuters (5/10/2026), Iran menyatakan siap membuka kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari apabila sejumlah persyaratan dipenuh Paman Sam termasuk penghentian blokade dan permusuhan secara menyeluruh untuk jalur pelayaran.
Selat Hormuz menjadi pusat perselisihan karena jalur strategis tersebut sangat penting bagi perdagangan energi dunia. Ketegangan di kawasan itu telah meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran internasional secara signifikan belakangan ini.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan selat tersebut belum akan dibuka sebelum tujuh syarat dalam kesepakatan sementara Juni 2026 dipenuhi. Washington telah menerima proposal itu melalui mediator dalam pembahasan terbaru.
Meski jalur diplomasi masih terbuka, kedua negara menghadapi perbedaan besar mengenai sanksi, keamanan maritim, program nuklir serta urutan langkah yang harus dilakukan untuk mencapai kesepakatan politik yang stabil dan berkelanjutan. (net/afp/rts/kim/smr)





