Ratusan orang berkumpul di Tel Aviv dan beberapa kota Israel lainnya pada hari Sabtu (28/3/2026) untuk memrotes perang di Timur Tengah, dalam demonstrasi tidak resmi yang berusaha dibubarkan oleh pasukan keamanan.
Semarak.co – Protes mingguan menentang perang yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran pada 28 Februari telah berlangsung di Tel Aviv dan tempat lain, awalnya hanya diikuti oleh puluhan peserta.
Jumlah peserta unjuk rasa menentang perang Iran kini tampaknya semakin meningkat, meskipun masih jauh dari puluhan ribu orang yang memadati jalanan tahun lalu untuk memrotes perang di Gaza, dilansir Arrahmah.id dari AFP (29/3/2026).
Sejumlah mantan anggota parlemen dan organisasi sayap kiri terkemuka bergabung dalam demonstrasi yang digelar para demontran pada hari Sabtu (28/3/2026) termasuk Standing Together, Peace Now dan Women Wage Peace.
Rekaman Kantor Berita Prancis, AFP (Agence France-Presse), menunjukkan bahwa petugas penegak hukum telah membubarkan demonstran di ibukota Israel, Tel Aviv. Adegan serupa direkam oleh para aktivis di kota Haifa di utara.
Berdasarkan pedoman keamanan masa perang, pertemuan lebih dari 50 orang dilarang di Israel, saat negara tersebut menghadapi serangan rudal dan roket setiap hari dari Iran dan Lebanon. Seorang juru bicara dari salah satu kelompok penyelenggara mengatakan bahwa protes tersebut tidak diizinkan.
Di ibukota Tel Aviv, wartawan AFP melaporkan bahwa pasukan keamanan mendorong mundur beberapa demonstran dengan paksa, menjatuhkan beberapa orang ke tanah sementara setidaknya satu demonstran dicekik.
Polisi Israel mengatakan “demonstrasi ilegal” tersebut dibubarkan setelah perwakilan Komando Pertahanan Dalam Negeri negeri Zionis Israel mengklarifikasi bahwa pertemuan semacam itu dilarang berdasarkan peraturan darurat.
Polisi mengatakan bahwa sekitar 13 orang ditangkap di kota itu. Sementara lima orang lainnya ditahan di Haifa, di mana “Para perusuh mulai memblokir jalan dan tidak mematuhi instruksi petugas,” kata polisi Israel di ibukota Tel Aviv.
Para penyelenggara dari kelompok aktivis Yahudi-Arab Standing Together mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa polisi telah “diinstruksikan untuk melakukan penangkapan dan membungkam perbedaan pendapat.
“Pemerintah khawatir akan perluasan gerakan protes. Kita sudah empat minggu dalam perang ini dan tidak ada yang benar-benar tahu apa tujuannya,” kata Yoram, seorang pemandu wisata 52 tahun yang menolak menyebut nama belakangnya, di awal demonstrasi Tel Aviv.
“Tidak ada yang memikirkan bagaimana kita akan keluar dari situasi ini dan tidak ada tanda-tanda akan berakhir,” kata Joanne Levine (76), menambahkan bahwa menurutnya perang ini adalah bagian dari “rencana permainan” Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Dukungan publik untuk perang melawan Iran tetap tinggi di Israel. Sebuah jajak pendapat yang diterbitkan Jumat oleh Institut Demokrasi Israel menemukan bahwa 78% warga Israel Yahudi mendukung perang tersebut — dibandingkan dengan hanya 19% di antara minoritas Arab Israel.
Namun, persentase mereka yang menentang telah meningkat dari empat persen pada awal Maret menjadi 11,5% sekarang ini menurut temuan institut tersebut. Dan pemerintah Zionis pun terancam karena keabsahan serangan yang terancam terdegradasi. (net/aid/afp/kim/smr)





