Di sudut Desa Mahalona, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, pagi datang bersama aroma tanah basah dan barisan tanaman lada yang tumbuh rapi. Tauri Saputra, transmigran asal Solo, memulai harinya menyusuri kebun yang kini jadi sumber harapan dan bukti perjalanan hidupnya.
Semarak.co – Tidak banyak yang tahu, Tauri pernah menghabiskan hari-harinya sebagai pengemudi ojek online dan pekerja serabutan tanpa kepastian penghasilan. Hidup berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, tanpa kepastian.
Hingga sebuah keputusan mengubah arah hidupnya dengan mengikuti Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) di Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BBPPMT) Yogyakarta.
“Saya mantan ojek online dan pekerja serabutan yang sedang berjuang di tanah transmigrasi. Hidup adalah perjalanan, dan Sulawesi adalah pelabuhan berikutnya,” tutur Tauri, dirilis humas usai acara melalui WAGroup ForWaTrans, Kamis (9/4/2026).
Dari ruang kelas pelatihan, ia membawa pulang lebih dari sekadar pengetahuan. Ada keyakinan baru, juga keberanian untuk memulai kembali di tanah yang belum sepenuhnya dia kenal. Luwu Timur menjadi lembaran berikutnya tempat menanam harapan di atas sebidang lahan transmigrasi.
Pilihan Tauri jatuh pada lada, komoditas yang dikenal sebagai “emas hitam” di Sulawesi Selatan. Berbekal ilmu selama pelatihan, ia mulai mengolah lahan. Satu per satu bibit ditanam, dirawat dengan telaten, mengikuti teknik budidaya yang telah dipelajarinya dari penanaman hingga perawatan intensif.
Hari-harinya kini diisi dengan rutinitas yang berbeda di Kawasan Transmigrasi Mahalona. Bukan lagi mengaspal di jalanan kota, melainkan menjalani berbagai pekerjaan di kebun lada, mulai dari memetik merica, menyemprot hama, membersihkan rumput, hingga menanam tiang penyangga tanaman.
Ia menjadi bagian dari program transmigrasi sejak tahun 2023 dan kini mulai merasakan peluang ekonomi dari komoditas lada yang harganya mencapai sekitar 125 ribu per kilogram. Dalam sekali panen, ia bisa mengantongi jutaan rupiah.
Hasilnya belum hanya soal panen, tetapi juga tentang kestabilan hidup yang mulai ia rasakan. Dari kerja keras yang konsisten, kebun lada itu tumbuh menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.
Kisah Tauri Saputra menjadi potret program transmigrasi berjalan lebih dari sekadar perpindahan penduduk. Ada proses pembelajaran, adaptasi, hingga keberanian untuk mengubah nasib. Melalui pelatihan dan pendampingan, para transmigran didorong mengenali dan mengelola potensi daerah secara produktif.
Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara selalu mengingatkan kawasan transmigrasi hari ini menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru apabila dirancang dengan baik, termasuk melalui pengembangan industri, investasi, serta konektivitas distribusi.
“Kawasan transmigrasi dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru apabila dirancang dengan baik, termasuk melalui pengembangan industri, investasi, serta konektivitas distribusi,” katanya dalam rapat koordinasi bersama perguruan tinggi mitra, Kamis (26/2).
Di Kawasan Transmigrasi Mahalona, gagasan itu menemukan wujud nyatanya. Pada sosok Tauri, pada kebun lada yang ia rawat setiap hari, dan pada keyakinan bahwa perubahan hidup bisa tumbuh dari tanah yang digarap dengan ilmu dan ketekunan. (HLV/SMR)





