Kementerian PANRB: Inovasi Kelola Sampah dari Rumah ala Lurah Antapani Tengah

Sampah kerap dilabeli sebagai sesuatu yang sia-sia. Sebagai akhir dari sebuah benda yang tak lagi digunakan, sampah dipandang sebagai hal yang dibuang begitu saja. Namun, jika tidak dikelola dengan baik apalagi dibuang sembarangan, sampah yang menumpuk tentu berpotensi menjadi bencana.

semarak.co-Lurah Antapani Tengah Teguh Haris Pathon mengatakan, lewat inovasi Abah Timi, saya berhasil merangkul masyarakat untuk mengelola sampah dari sumber pertamanya, rumah tangga. Program Abah Timi merupakan singkatan dari Abdi Milah Sampah ti Bumi.

Bacaan Lainnya

Sebuah kalimat tersebut berasal dari Bahasa Sunda yang artinya Saya Memilah Sampah dari Rumah. Program ini diluncurkan sebagai langkah bijak untuk mengajak warga Antapani Tengah memilah sampah yang dihasilkan oleh rumah mereka sendiri.

Penggunaan Bahasa Sunda diakuinya sebagai langkah untuk memudahkan sosialisasi kepada masyarakat. Program ini hadir sebagai respons untuk mendukung Gerakan Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan (Kang Pisman) telah digaungkan Pemeritah Kota Bandung sejak 2019.

“Meski ini namanya dari Bahasa Sunda, tapi saya yakin bisa menjadi satu trigger nasional untuk melakukan hal yang sama. Diakuinya, sejak program ini diluncurkan awal 2020, program ini tak selalu mendapat dukungan,” ujar Teguh Haris dirilis humas melalui WAGroup JURNALIS PANRB, Rabu (15/1/2025).

Persoalan sampah bukan hal yang mudah karena ternyata yang harus diubah dimulai dari mindset masyarakat. Tak hanya dari pikiran, tapi kesadaran ini juga harus digerakkan dari hati. Namun dibalik setiap permasalahan yang ditemuinya, ia kerap dibantu pihak-pihak terkait seperti Ketua RT dan RW setempat.

Hal ini bertujuan untuk meyakinkan warganya agar aktif mengelola sampah yang dihasilkan rumah tangganya. Karena baginya, perannya dalam memimpin merupakan kunci keberhasilan sebuah program pemberdayaan masyarakat.

“Kalau pemimpinnya serius, yang lain ikut. Kalau tidak, yang lain juga pasti akan meninggalkan. Jadi jangan sampai yang sudah semangat itu ditinggalkan, tapi harus diperkuat. Sehingga yang belum ikut serta akan kita terus dorong. Jadi itu yang terus saya pepet,” jelas Teguh.

Melalui Abah Timi, masyarakat Antapani Tengah khususnya RW 19, tidak hanya diajak untuk memilah sampah, tapi juga dibekali dengan pemahaman bahwa pengelolaan sampah yang baik dapat berdampak besar bagi lingkungan dan generasi mendatang.

Warga di Kawasan ini diberikan pelatihan khusus tentang pemilahan sampah organic dan anorganik, hingga memanfaatkannya kembali dalam aktivitas sehari-hari. Tak hanya itu, inovasi ini juga dikembangkan menjadi Jasmine Integrated Farming (JIF RW 19).

“Ternyata Abah Timi dan Jasmine Integrated Farming ini daya tariknya luar biasa. Akhirnya itu membawa dampak positif bagi warga kami. Karena setiap minggu hampir ada kunjungan dari TK sampai SMA bahkan yang disertasi,” ucap Teguh.

Pihak BUMN dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD juga demikian. Mereka tertarik mengetahui alasan kenapa warga mau mengelola sampah. Tak berhenti sampai disitu, ke depannya Teguh ingin agar pihaknya dapat menuntaskan masalah sampah residu.

Ditambahkan Teguh bahwa sampah residu jika dimanfaatkan dan dikelola dengan benar, dapat memberikan manfaat lainnya. Sampah residu itu tidak hanya dibakar lalu jadi abu, tapi harus ada manfaatnya.

“Bukan hal mudah, tapi minimal saya sudah membuat legacy atau peninggalan untuk warga ini. Jadi kalaupun nanti saya pindah, bisa dilanjutkan (oleh pemimpin selanjutnya),”tutup Teguh. (nan/hms/ken/smr)

Pos terkait