Kemendukbangga: Pola asuh, Stimulasi, Serta Interaksi Sangat Menentukan Kualitas Generasi Mendatang

webinar “AI untuk Upgrade Belajar & Literasi Digital: Belajar Lebih Cepat, Cerdas, dan Efisien” yang digelar Kemendukbangga pada Selasa (7/4/2026).

Selain asupan makanan dan gizi, upaya percepatan penurunan stunting juga perlu diperkuat dengan aspek pengasuhan periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Di sinilah peran keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak menjadi sangat krusial.

Semarak.co – Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN Nopian Andusti menyatakan, pola asuh, stimulasi, serta interaksi sangat menentukan kualitas generasi mendatang.

Bacaan Lainnya

“Perubahan perilaku pengasuhan menjadi kunci dan tidak bisa terjadi instan, melainkan melalui proses edukasi, advokasi, dan pendampingan yang berkelanjutan,” ujarnya, pada acara Gerak Bersama untuk 1000 HPK secara daring, dirilis humas melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Rabu malam (8/4/2026).

Sebagai upaya meningkatkan kualitas pengasuhan, partisipasi aktif orang tua dan pengasuh dalam kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB), khususnya dalam implementasi pertemuan materi BKB-EMAS (Bina Keluarga Eliminasi Masalah Anak Stunting), didorong melalui program PARENTS (Peningkatan Kapasitas Kader Keluarga Berencana untuk Pencegahan Stunting).

Program PARENTS yang terselenggara atas kerja sama Kemendukbangga/BKKBN dengan Yayasan Plan International Indonesia ini bertujuan mendorong perubahan perilaku positif dalam pengasuhan anak untuk pencegahan masalah tumbuh kembang anak atau stunting melalui peningkatan kapasitas tenaga lapangan.

Selanjutnya, untuk memperkuat efektivitas intervensi, program ini mengembangkan Modul Advokasi Pengasuhan 1.000 HPK sebagai rujukan dalam memfasilitasi advokasi guna terselenggaranya kelas pengasuhan yang komunikatif, menarik, mudah dipahami, dan relevan dengan konteks lokal.

“Modul ini diharapkan dapat menjadi pedoman untuk meningkatkan partisipasi dan efektivitas kelas BKB dalam rangka penurunan angka stunting di Indonesia, mengingat peran orang tua menjadi vital dalam pengentasan stunting,” ujarnya.

Modul ini pun telah diujicobakan di 10 wilayah, yakni Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Sumedang, Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Kupang.

Hasilnya, terjadi peningkatan partisipasi atau kehadiran orang tua di kelas BKB hingga 60 persen, dan 40 persen untuk peningkatan partisipasi ayah atau pengasuh laki-laki.

Menurut Nopian, pencapaian ini berhasil diraih juga berkat kolaborasi berbagai lintas sektor, seperti pemerintah desa yang menyediakan dukungan dalam bentuk fasilitas, sumber daya manusia, dan operasional.

Selain itu, para kader pun menjadi penggerak yang membangun jejaring komunitas, memperkuat partisipasi, dan memastikan keberlanjutan program di lapangan. “Kita perlu memastikan setiap keluarga mendapatkan akses informasi  tepat, setiap kader memiliki kapasitas yang memadai, dan setiap daerah memiliki komitmen mendukung pengasuhan berkualitas,” pungkasnya.

Upgrade Cara Belajar di Era AI: Duta GenRe Siap Jadi Agen Perubahan Digital!

Direktur Bina Ketahanan Remaja Edi Setiawan,menyampaikan bahwa generasi Z merupakan kelompok pengguna AI yang dominan baik untuk belajar maupun aktivitas lainnya. Sehingga literasi AI di kalangan remaja masih perlu diperkuat.

“Ini yang masih menjadi PR kita bersama bagaimana tingkat literasi AI ini masih perlu kita tingkatkan karena pemahaman yang mendalam tentang penggunaan AI dengan bijak dan produktif belum sepenuhnya optimal” ungkapnya pada webinar “AI untuk Upgrade Belajar & Literasi Digital: Belajar Lebih Cepat, Cerdas, dan Efisien” pada Selasa (7/4/2026).

Co Founder Binar Academy Seto Lareno menyampaikan bahwa masyarakat khususnya generasi muda telah hidup di tengah perubahan besar yang dipengaruhi oleh perkembangan kecerdasan buatan atau AI.

“Kita sedang hidup di dalamnya, kecerdasan buatan sudah terjadi saat ini bukan nanti, bukan 5 tahun lagi, dan yang menarik teknologi ini bukan membuat kita lebih cepat tetapi juga mengubah peran kita sebagai manusia”, ujarnya.

Kecerdasan buatan dinilai telah mengubah cara manusia bekerja dan menjalankan perannya termasuk dengan mengambil alih berbagai pekerjaan yang bersifat repetitif, administratif, bahkan sebagian analitis.

Selain aspek pemanfaatan teknologi dan literasi digital webinar ini juga menekankan pentingnya etika dan integritas dalam penggunaan AI. Peserta didorong untuk memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi, memahami potensi bias teknologi, serta berperan aktif dalam mencegah penyebaran hoaks di ruang digital.

Sebagai agen perubahan di tingkat desa dan kelurahan, para Duta GenRe diharapkan mampu menjadi role model dalam pemanfaatan teknologi yang bijak, inovatif, dan inspiratif. Peran ini diharapkan memperkuat gerakan literasi digital sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi secara positif di kalangan remaja dan masyarakat. (hms/smr)

Pos terkait