Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan Tes Kemampuan Akademik (TKA) hari keempat Gelombang 2 berlangsung lancar. Hal ini menunjukkan kesiapan sistem serta dukungan berbagai pihak dalam menyelenggarakan kegiatan ini.
Semarak.co – Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Toni Toharudin menyatakan, pelaksanaan TKA yang berjalan lancar hingga saat ini merupakan hasil dari perencanaan yang matang serta kesiapan teknis yang telah dipersiapkan secara komprehensif.
“TKA yang berjalan lancar mencerminkan kesiapan teknis dan perencanaan matang. Fleksibilitas moda pelaksanaan yang diberikan juga menjadi kunci menjawab beragam kondisi di lapangan, sehingga asesmen berlangsung optimal,” ujarnya, dirilis humas melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Jumat (10/4/2026)
Berdasarkan laporan, hari keempat Gelombang 2, pelaksanaan TKA hari keempat dimulai serentak pukul 07.00 WIB hingga 15.30 WIB dan terbagi dalam 4 sesi. Sesi pertama diikuti 574.234 peserta, sesi kedua 563.632 peserta, sesi ketiga 318.985 peserta dan sesi terakhir diikuti oleh 73.139 peserta.
Pelaksanaan TKA mengacu pada petunjuk teknis yang memberikan fleksibilitas kepada satuan pendidikan memilih moda pelaksanaan, baik daring maupun semi daring. Kebijakan ini dirancang untuk mengakomodasi variasi kondisi infrastruktur serta tantangan geografis wilayah Indonesia.
Secara teknis, moda daring memerlukan koneksi internet yang stabil. Sementara itu, moda semi daring memberikan alternatif pelaksanaan tanpa koneksi internet pada komputer peserta, dengan kebutuhan jaringan hanya pada tahap sinkronisasi, aktivasi sistem, rilis token, serta unggah hasil jawaban.
Selain fleksibilitas moda, satuan pendidikan juga diberikan keleluasaan menentukan skema pelaksanaan, baik mandiri maupun menumpang pada satuan pendidikan lain. Setiap pilihan yang diambil telah melalui pertimbangan matang, termasuk kesiapan sarana prasarana, sumber daya manusia, serta dukungan teknis yang tersedia.
Toni Toharudin juga menyoroti peran aktif dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga satuan pendidikan. “Sinergi yang terbangun menjadi fondasi penting dalam memastikan setiap tahapan pelaksanaan TKA berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan,” ujarnya.
TKA di Riau Berjalan Lancar, Partisipasi Tinggi Perkuat Pemetaan Kemampuan Siswa
Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP/MTs/Sederajat di Provinsi Riau, menunjukkan situasi stabil. Di berbagai satuan pendidikan, pelaksanaan berlangsung tertib. Siswa hadir sesuai jadwal, perangkat berjalan normal, dan proses pengerjaan soal berlangsung tanpa hambatan berarti.
Kini, asesmen tidak lagi dipahami semata sebagai penilaian capaian akademik yang lekat dengan momen menegangkan, tetapi telah secara sadar dimaknai sebagai sarana untuk menelaah dan membenahi proses pembelajaran.
Di Kota Pekanbaru, sekitar 14 ribu siswa jenjang SMP baik negeri maupun swasta dan 725 peserta dari jalur pendidikan nonformal telah mengikuti TKA. Tingkat kehadiran tercatat tinggi sejak hari pertama.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Syafrian Tommy, menyampaikan bahwa kelancaran ini tidak terlepas dari persiapan yang dilakukan secara bertahap dan terukur. Koordinasi dengan sekolah, penguatan dukungan teknis, hingga simulasi pelaksanaan telah dilakukan sebelum hari pertama asesmen.
“Secara keseluruhan, pelaksanaan TKA di Kota Pekanbaru berjalan aman dan lancar. Kami melihat antusiasme tinggi pihak sekolah, guru, maupun siswa. Persiapan matang dilakukan sejak jauh hari, baik secara teknis maupun administratif, terbukti efektif dalam meminimalisir hambatan di lapangan,” tuturnya.
Di Kabupaten Pelalawan, partisipasi tercatat merata di seluruh satuan pendidikan. Sebanyak 6.368 siswa dari 114 SMP dan MTs, baik negeri maupun swasta, mengikuti TKA. Tingkat kehadiran mendekati penuh, dan hingga hari keempat tidak ditemukan kendala yang bersifat signifikan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pelalawan, Leonardo, menilai kelancaran ini didukung oleh kesiapan sekolah serta pendekatan yang tidak membebani siswa.
“Kami sampaikan kepada siswa bahwa TKA bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Mereka cukup mengerjakan dengan jujur dan tenang. Sejauh ini pelaksanaannya berjalan baik, baik dari sisi listrik maupun jaringan,” ungkapnya.
Di Pelalawan, data yang terkumpul dari TKA mulai dipandang berbeda. Bukan sekadar angka hasil tes, tetapi sebagai peta awal. Melainkan menunjukkan pemetaan data tentang siswa mampu secara akademi dan mana yang masih perlu perhatian lebih.
Sementara, di tingkat provinsi, hasil ini akan dibaca untuk melihat pola yang lebih luas seperti sekolah mana yang perlu pendampingan dan kompetensi apa yang masih lemah. Guna menentukan strategi yang ditempuh guru dalam menyesuaikan pendekatan mengajarnya.
Pada kesempatan berbeda, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, sebelumnya menegaskan bahwa TKA dirancang bukan sebagai penentu kelulusan, melainkan sebagai alat untuk memahami kemampuan siswa secara lebih akurat.
“TKA bukan ujian akhir. Ini bagian dari upaya memetakan kemampuan akademik siswa agar perbaikan pembelajaran dapat dilakukan secara lebih terarah,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Ia juga menambahkan bahwa pelaksanaan TKA membawa dimensi yang lebih luas, tidak hanya terkait capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, terutama kejujuran dalam proses belajar. (hms/smr)




