Inovasi Bank Sampah Digital di Griya Luhu Bali. Foto: humas PANRB

Persoalan pengelolaan sampah di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar, baik bagi pemerintah maupun masyarakat. Alih-alih menjadi penonton, Ida Bagus Mandhara, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Pulau Dewata Bali turun tangan membangun Griya Luhu yang mengusung cara baru dalam pengolahan dan pemilahan sampah.

semarak.co-Sebagai founder Griya Luhu, Ida Bagus Mandhara mendirikan organisasi ini sejak 2017 setelah merampungkan pendidikan pascasarjana di Imperial College London, Inggris.

Tujuannya memberikan pemerataan terhadap akses pengelolaan sampah berbasis sumber yang berkelanjutan dengan bantuan digitalisasi, terutama untuk desa-desa. Dalam waktu singkat Griya Luhu berkembang pesat. Saat ini lebih dari 50 desa menggunakan sistem bank sampah digital Griya Luhu.

Dimana terdapat hampir 300 unit tersebar di desa-desa itu. Tercatat 15 ribu rumah tangga menjadi nasabah tetap di seluruh Bali dengan sampah terkelola mencapai 20 ton per bulan untuk satu kabupaten.

“Inovasi Bank Sampah Digital dimulai pada tahun 2017, pada saat itu saya menemukan bahwa ada masalah yang sangat signifikan yaitu pengelolaan sampah yang sangat semrawut pada masa itu,” jelas Nara, sapaan akrab Ida Bagus Mandhara seperti dirilis humas melalui WAGroup JURNALIS PANRB, Senin (10/1/2022).

Dosen Perubahan Iklim di Program Studi Ilmu Kelautan, Universitas Udayana menambahkan, permasalahan sampah pada dasarnya bersumber pada hulu. Masyarakat baru sekadar membuang sampah pada tempatnya tanpa dipilah sehingga pembuangan sampah hanyalah sebuah proses perpindahan lokasi sampah semata.

Griya Luhu mengajak masyarakat untuk memilah sampah dari rumah. Setelah dipilah, sampah ini kemudian dibawa ke cabang-cabang bank sampah yang di desa-desa untuk ditabung. Jika biasanya dalam menabung sampah ini masyarakat harus mengantre, namun dengan adanya Griya Luhu Apps, masyarakat tidak perlu lagi mengantri.