Harga Minyak Dunia Bergejolak, Konflik AS-Iran dan Selat Hormuz Jadi Sorotan

Pasar minyak dunia kembali bergejolak di tengah konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang belum menemukan penyelesaian. Ketegangan Selat Hormuz membuat investor menghadapi risiko pasokan energi global besar dalam waktu dekat.

Semarak.co – Pada perdagangan yang berlangsung pada hari Kamis, 13 Agustus 2026, harga minyak Brent turun 1,91 dolar AS atau 2,15% menjadi 87,07 dolar AS per barel setelah enam sesi sebelumnya menguat cukup tajam di pasar global.

Bacaan Lainnya

Dilansir Kantor Berita Inggris, Reuters (13-14/8/2026), West Texas Intermediate atau WTI juga melemah 2,02 dolar AS atau 2,4% menjadi 81,25 dolar AS per barel, kendati ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian utama investor dunia sepanjang perdagangan terakhir global.

Penurunan harga terjadi setelah data Amerika menunjukkan persediaan minyak mentah komersial melonjak 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel selama pekan yang berakhir tujuh Agustus 2026 lalu di negeri Paman Sam terbaru.

Kenaikan stok tersebut merupakan peningkatan mingguan terbesar sejak Januari 2023. Data itu memerkuat kekhawatiran bahwa permintaan energi global melemah, sehingga menekan harga minyak internasional secara langsung pada pekan tersebut.

Reuters melaporkan, OPEC memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak 2026, sementara Badan Energi Internasional juga menurunkan proyeksi konsumsi karena harga tinggi dan gangguan pasokan akibat konflik berkepanjangan tersebut di kawasan regional.

Namun, risiko geopolitik tetap membayangi pasar. AS dan Iran saling mengklaim kendali atas Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap harinya sebelum konflik berkecamuk.

Arus kapal melalui Selat Hormuz juga menurun tajam. Kantor berita Britania Raya Reuters mencatat penyeberangan kapal, tidak termasuk kapal kontainer, hanya lima pada Rabu, jauh dibandingkan 125 hingga 140 kapal setiap hari sebelum konflik.

Ketidakpastian tersebut membuat perusahaan energi dan pedagang mencari jalur alternatif. TotalEnergies bahkan menawarkan minyak Irak untuk dimuat di luar Selat Hormuz guna mengurangi risiko pengiriman menuju pembeli pada kawasan Asia.

Situasi ini menunjukkan harga minyak tidak hanya ditentukan permintaan dan persediaan, tetapi juga keamanan jalur pelayaran. Jika gangguan berlanjut, tekanan terhadap biaya energi dapat meningkat secara signifikan dalam beberapa pekan.

Pasar negara-negara Teluk (Timur Tengah) turut merasakan dampaknya. Indeks Arab Saudi turun sekitar 0,2%, Dubai melemah 0,2%, sedangkan Abu Dhabi menguat 0,3% pada Kamis di tengah ketidakpastian pasar regional tersebut.

Perkembangan selanjutnya sangat bergantung pada hubungan Washington dan Teheran. Jika ketegangan mereda, risiko pasokan dapat berkurang, tetapi eskalasi baru berpotensi kembali mengangkat harga minyak dunia secara tajam dalam perdagangan berikutnya. (net/rts/kim/smr)

Pos terkait