Gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,4 magnitudo yang mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin, 10 Agustus 2026, berubah menjadi salah satu bencana alam paling mematikan yang melanda negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Semarak.co – Hingga perkembangan terbaru pada hari Kamis 13 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 265 orang, sementara 496 orang masih dinyatakan hilang. Ribuan lainnya mengalami luka-luka dan membutuhkan perawatan medis.
Gempa menyebabkan kerusakan besar di sejumlah wilayah, terutama Cali, Pereira, Manizales, Quibdó serta kawasan lain di bagian barat Kolombia. Banyak bangunan runtuh dan infrastruktur penting mengalami kerusakan berat.
Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella mengatakan, operasi pencarian dan penyelamatan masih menjadi prioritas pemerintah. Tim penyelamat terus menyisir bangunan yang runtuh untuk menemukan korban yang mungkin masih hidup.
Data pemerintah, seperti dilansir Reuters, Associated Press/AP dan Al Jazeera (13/8/2026), mencatat 257 bangunan mengalami keruntuhan, sementara rumah, sekolah, jalan, bandara dan fasilitas penting lainnya turut mengalami kerusakan akibat guncangan hebat tersebut.
Situasi semakin sulit karena sebagian wilayah terdampak mengalami kerusakan akses transportasi. Tim penyelamat harus bekerja di antara puing-puing bangunan dengan memertimbangkan kemungkinan runtuhan susulan dan gempa susulan.
Di sejumlah lokasi, warga bersama petugas penyelamat ikut menggali reruntuhan menggunakan peralatan sederhana. Suasana semakin emosional ketika keluarga korban menunggu kabar mengenai kerabat mereka yang masih belum ditemukan.
Operasi penyelamatan berlangsung siang dan malam. Para petugas menggunakan alat berat, anjing pelacak, kamera pencari korban dan peralatan khusus untuk mendeteksi kemungkinan keberadaan manusia di bawah puing-puing.
Laporan Kantor Berita Inggris, Reuters menyebut pemerintah sebelumnya menghadapi periode kritis pencarian korban, ketika peluang menemukan korban selamat masih menjadi perhatian utama. Tim internasional juga membantu upaya tanggap darurat.
Sementara itu, terdapat perbedaan antara data resmi dan laporan dari basis data masyarakat mengenai jumlah orang yang hilang. Data pemerintah mencatat 496 orang, sedangkan sejumlah sumber sipil sebelumnya memperkirakan jumlahnya jauh lebih besar.
Pemerintah Kolombia juga mulai memikirkan tahap pemulihan jangka panjang. Presiden menjanjikan pembentukan dana rekonstruksi darurat untuk membantu membangun kembali rumah, rumah sakit, sekolah dan infrastruktur yang hancur.
Bencana itu memberikan tekanan besar terhadap pemerintahan baru Kolombia. Pemerintah harus menangani operasi penyelamatan sekaligus memastikan bantuan makanan, tempat tinggal sementara dan layanan kesehatan tersedia bagi masyarakat terdampak.
Sejumlah negara telah memberikan dukungan kepada Kolombia. Bantuan internasional mencakup personel penyelamat, kebutuhan darurat, makanan dan perlengkapan kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang kehilangan tempat tinggal.
Salah satu kisah penyelamatan yang menggugah perhatian terjadi ketika seorang perempuan ditemukan hidup setelah hampir 38 jam tertimbun reruntuhan sebuah bangunan di Pereira. Tim penyelamat membutuhkan waktu berjam-jam untuk membebaskannya.
Kisah tersebut memberikan harapan bagi keluarga korban yang masih menunggu. Para penyelamat tetap bekerja meskipun peluang menemukan korban hidup semakin menurun seiring berjalannya waktu setelah gempa terjadi.
Gempa dahsyat ini juga menimbulkan dampak ekonomi. Kerusakan infrastruktur mengganggu aktivitas perdagangan dan transportasi, sementara sejumlah pengiriman komoditas seperti kopi harus dialihkan melalui jalur pelabuhan lain.
Bagi Kolombia, tantangan terbesar kini bukan hanya dapat menyelesaikan pencarian korban, tetapi juga wajib menyediakan tempat tinggal bagi warga terdampak bencana dan memulihkan fasilitas publik yang rusak akibat bencana dahsyat. (net/rts/ap/alz/kim/smr)





