Untuk memperkuat ekosistem perencanaan berbasis bukti dalam mendukung pembangunan ramah lansia, Kementerian PPN/Bappenas bersama Asian Development Bank (ADB), Lembaga Demografi FEB UI, dan SurveyMeter mendiseminasikan Hasil Laporan Studi Bahasa Indonesia dan Data Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS).
Semarak.co – Deputi Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas Maliki mengatakan, melalui ILAS, kita dapat mengakselerasi capaian pembangunan, terutama pembangunan inklusif lansia.
ILAS memberikan penajaman data eksisting, sambung Maliki, sehingga mendorong kebijakan berbasis bukti untuk menghadapi penuaan penduduk di Indonesia. ILAS juga dapat mendukung akademisi dan masyarakat untuk menyusun analisis kelanjutusiaan yang lebih baik.
ILAS merupakan survei panel longitudinal pertama di Indonesia yang menyasar kelompok usia 45 tahun ke atas, mencakup lebih dari 4.000 responden di sembilan provinsi, yaitu Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Maluku.
“Survei panel ini berupaya untuk memotret berbagai aspek penting dalam kehidupan lansia di Indonesia, mulai dari situasi sosial, ekonomi, kesehatan, hingga kondisi lingkungan hidup,” kata Maliki di Webinar Peluncuran Laporan Studi dan Data Indonesia Longitudinal Survey untuk Lansia Indonesia Mandiri, Sejahtera, dan Bermartabat melalui link zoom dari Jakarta, Senin (7/7/2025).
Sejak gelombang pertamanya dilakukan pada 2023, sambung Maliki, ILAS telah menjadi sumber data yang krusial dalam menjawab tantangan dan peluang dalam era bonus demografi dan penuaan penduduk.
Studi ILAS diharapkan dapat kita manfaatkan bersama menjadi sumber data dalam perumusan kebijakan ramah lansia oleh kementerian/lembaga/daerah, serta dapat memberikan dukungan dalam pelaksanaan riset yang dilaksanakan oleh para akademisi dan masyarakat.
Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Kementerian PPN/Bappenas Tirta Sutedjo mengatakan, narasi besar dalam RPJPN 2025-2045 selaras dengan arah kebijakan dan strategi dalam RPJMN 2025-2029 dan Strategi Nasional Kelanjutusiaan yang menempatkan perlindungan lansia sebagai bagian dari prioritas nasional.
Diskusi strategis dalam webinar ini menyoroti arah kebijakan, praktik baik, dan peluang penguatan program lansia berbasis keluarga dan komunitas (ageing-in-place), serta pentingnya pemanfaatan data ILAS dalam menyusun kebijakan inklusif dan tepat sasaran.
Senior Economist ADB Aiko Kikkawa menambahkan ILAS memiliki nilai strategis yang tinggi karena pendekatan yang digunakan adalah longitudinal. “Dengan ILAS, kita bisa mengikuti kehidupan responden dari waktu ke waktu. Ini memberi kita pemahaman lebih dalam tentang proses penuaan dan bagaimana intervensi bisa dirancang secara dinamis,” jelas Aiko.
Wakil Gubernur Jawa Timur (Wagub Jatim) Emil E. Dardak juga menjelaskan praktik baik provinsi Jawa Timur dalam membangun sistem layanan ramah lansia berbasis kabupaten/kota. “Kami menjadikan data sebagai dasar intervensi,” ujarnya.
“ILAS penting membantu kami memahami di mana celah dan potensi itu berada. Provinsi Jawa Timur siap untuk berkolaborasi dengan semua pihak untuk menyukseskan pemanfaatan data ILAS untuk mempersiapkan Jawa Timur menghadapi tantangan aged society,” demikian Wagub Emil. (hms/smr)





