AS Lanjutkan Serangan Hari Keenam ke Iran, Puluhan Tewas dan Ketegangan di Selat Hormuz Kian Memanas

Amerika Serikat (AS) kembali menggempur sejumlah wilayah Iran, Jumat (17/7/2026), menandai hari keenam operasi militernya. Serangan terbaru menyasar infrastruktur strategis dan memicu korban jiwa, sementara Iran membalas dengan serangan ke fasilitas militer AS di kawasan Teluk.

Semarak.co – Militer negeri Paman Sam kembali melancarkan gelombang serangan terbaru ke sejumlah wilayah Republik Islam Iran pada Jumat dini hari (17/7/2026) waktu setempat. Target serangan meliputi jembatan strategis, bandara, jalur logistik serta fasilitas yang disebut Washington memiliki nilai militer tinggi.

Bacaan Lainnya

Menurut Reuters, yang dilansir AntaraNews.com dan Detik.com pada hari Jumat, 17 Juli 2026, operasi militer yang dilancarkan Paman Sam tersebut merupakan bagian dari kampanye militer yang terus diperluas sejak enam hari terakhir.

Pemerintah Iran menyatakan sedikitnya 38 orang tewas dan lebih dari 400 orang mengalami luka-luka akibat serangan terbaru tersebut. Otoritas setempat menyebut sebagian besar korban merupakan warga sipil yang berada di sekitar lokasi sasaran, meski proses identifikasi masih berlangsung.

Informasi korban ini juga dikutip oleh Detik.com dari laporan resmi yang diterima media Iran. Selain korban jiwa, sejumlah infrastruktur dilaporkan mengalami kerusakan berat. Beberapa jembatan utama yang menghubungkan jalur distribusi logistik serta area bandara terkena dampak serangan.

Dampak dari serangan tersebut mengakibatkan mengganggu mobilitas masyarakat dan distribusi barang di kawasan tersebut. Reuters melaporkan kerusakan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu lama untuk dipulihkan.

Iran tidak tinggal diam dan langsung melancarkan serangan balasan ke sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk. Teheran menegaskan aksi tersebut merupakan respons terhadap serangan yang terus dilakukan Washington dan memeringatkan, pembalasan akan berlanjut jika agresi tidak dihentikan.

Pernyataan itu disampaikan sejumlah pejabat Iran sebagaimana dilaporkan Reuters. Di tengah meningkatnya eskalasi, komunitas internasional mulai menyuarakan keprihatinan. China dan Pakistan mendesak AS dan Iran segera menghentikan aksi militer.

Serta mereka, kata pernyataan China, harus kembali menempuh jalur diplomasi untuk mencegah konflik meluas di kawasan Timur Tengah. Seruan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi yang dikutip Antara.

Ketegangan yang terus meningkat juga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia kembali menjadi perhatian karena berpotensi mengalami gangguan apabila konflik semakin meluas.

Menurut laporan Kantor Berita Britania Raya/Inggris itu (Reuters), kondisi peperangan yang tak berkesudahan tersebut bisa membuat pelaku pasar terus memantau perkembangan situasi di kawasan Teluk. Situasi yang tak menguntungkan bagi laju ekonomi. (net/ant/dc/rts/kim/smr)

Pos terkait