AS dan Iran Berebut Pengaruh di Selat Hormuz, Pakar Sebut Jalur Energi Dunia Jadi Medan Pertarungan Utama

Persaingan antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Iran memasuki babak baru dengan Selat Hormuz menjadi titik utama perebutan pengaruh. Jalur pelayaran strategis itu kini dinilai sebagai medan pertarungan yang menentukan keseimbangan militer sekaligus ekonomi di kawasan Teluk.

Semarak.co – Mehran Kamrava, profesor pemerintahan-militer di Universitas Georgetown Qatar, menilai Iran menyadari keterbatasannya kontra kekuatan militer AS-Israel secara langsung. Karena itu, Iran berupaya mengalihkan konflik ke ranah ekonomi via kendali atas jalur pelayaran strategis.

Bacaan Lainnya

Menurut Kamrava, Selat Hormuz merupakan salah satu instrumen terpenting yang dimiliki Iran untuk mempertahankan daya tawarnya. Sementara itu, AS berupaya mengurangi kemampuan Iran memanfaatkan jalur tersebut sebagai alat tekanan terhadap negara-negara lain.

Ia menjelaskan bahwa fokus utama konflik saat ini bukan lagi sekadar serangan militer, melainkan perebutan pengaruh atas Selat Hormuz. Siapa pun yang mampu mengendalikan stabilitas di kawasan itu akan memiliki posisi strategis terhadap perdagangan energi dunia.

Pemerintah Paman Sam menyatakan operasi militernya bertujuan melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz. Washington menegaskan kebebasan navigasi harus tetap terjaga mengingat pentingnya jalur itu bagi perdagangan internasional.

Di sisi lain, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data perusahaan pemantau pelayaran Kpler, jumlah kapal yang melintas turun ke level terendah dalam lima pekan seiring meningkatnya kembali ketegangan antara AS dan Iran.

Data tersebut menunjukkan hanya enam kapal yang melintasi selat pada Minggu. Di antaranya terdapat kapal tanker Very Large Crude Carrier (VLCC) Humanity yang membawa sekitar dua juta barel minyak Iran serta Capetan Andreas yang mengangkut sekitar 500 ribu barel produk minyak asal Kuwait.

Selain itu, tiga kapal tanker kosong juga tercatat memasuki kawasan Teluk untuk memuat minyak. Kondisi itu, dilansir SindoNews.com dari Al Jazeera dan CNN (13/7/2026), mencerminkan pelaku industri energi masih berupaya menjaga distribusi pasokan meski risiko keamanan di kawasan terus meningkat.

Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran komersial. Namun, sebelumnya Iran mengklaim telah menutup jalur itu setelah sebuah kapal disebut menggunakan rute yang tidak memeroleh persetujuan dari otoritas setempat.

Pada Senin (13/7/2026), seperti dilansir media barat, CNN dan media Arab berpengaruh, Al Jazeera, Garda Revolusi Iran mengumumkan telah menghentikan dua kapal di Selat Hormuz. Meski demikian, pihak Iran tidak mengungkap identitas maupun kebangsaan kapal-kapal yang diperiksa itu.

Selat Hormuz memiliki peran vital bagi negara-negara Teluk karena menjadi jalur utama ekspor minyak dan gas menuju pasar internasional. Gangguan sekecil apa pun di wilayah itu berpotensi memengaruhi pendapatan negara-negara produsen energi di kawasan.

Dampaknya juga dirasakan secara global karena sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz sebelum dikirim ke Asia, Eropa dan Afrika. Setiap pembatasan atau penutupan jalur ini hampir selalu memicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi dunia.

Ketegangan yang terus meningkat turut memengaruhi negara-negara kawasan. Oman dilaporkan memanggil Duta Besar Iran untuk menyampaikan protes terkait serangan yang terjadi, sementara Qatar menilai eskalasi konflik hanya akan menghambat berbagai upaya diplomasi dan mediasi yang sedang berlangsung. (net/snc/alz/cnn/kim/smr)

Pos terkait