Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menyalurkan 17 paket bantuan, mulai tenda darurat hingga alat kebersihan, kepada masyarakat di kawasan transmigrasi dan eks lokasi transmigrasi yang terdampak bencana di Provinsi Aceh.
Semarak.co – Direktur Jenderal Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi (PPKTrans) M Sigit Mustofa Nurudin mengatakan Kementerian Transmigrasi terus melakukan pemantauan dan pembaruan data pascabencana di wilayah terdampak.
“Bantuan ini bentuk kepedulian Kementerian Transmigrasi. Semoga masyarakat di kawasan transmigrasi tetap semangat dan dapat segera kembali beraktivitas seperti semula. Kami komitmen terus memberikan dukungan,” kata Dirjen Sigit, dirilis humas usai acara melalui WAGroup ForWaTrans, Selasa (27/1/2026).
Kondisi masyarakat di sejumlah wilayah Aceh dan Kabupaten Bener Meriah hingga kini masih dalam tahap pemulihan pascabencana banjir dan longsor. Di beberapa kawasan transmigrasi dan eks lokasi transmigrasi, warga belum dapat beraktivitas normal karena kerusakan permukiman serta keterbatasan.
Di Kabupaten Aceh Utara, khususnya kawasan Cot Girek dan sekitarnya, banyak keluarga masih membutuhkan tempat berteduh sementara dan fasilitas memasak untuk memenuhi kebutuhan pangan harian. Aktivitas ekonomi warga terhenti, sementara sebagian permukiman belum sepenuhnya aman untuk dihuni.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Bener Meriah, terutama di kawasan Pintu Rime Gayo dan Samar Kilang, di mana warga terdampak masih sangat bergantung pada bantuan logistik dan dapur umum.
Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Aceh per 23 Januari 2026, tercatat sekitar 5.700 kepala keluarga (KK) atau 9.453 jiwa terdampak bencana di kawasan transmigrasi dan eks lokasi transmigrasi.
Dampak bencana terjadi di sembilan kabupaten, meliputi enam kawasan transmigrasi dengan total 94 eks lokasi transmigrasi, terutama di wilayah dataran rendah dan rawan genangan.
“Kementerian Transmigrasi terus melakukan koordinasi, pemantauan, dan pembaruan data pascabencana banjir dan longsor di Provinsi Aceh, termasuk di kawasan transmigrasi dan eks lokasi transmigrasi,” tambah Dirjen Sigit.
Sebelumnya, pada Desember 2025, Kementerian Transmigrasi telah menyalurkan bantuan tahap kedua berupa sembako, obat-obatan, dan perlengkapan dapur umum melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai bagian dari penanganan darurat bencana.
“Kementerian Transmigrasi tetap berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat transmigrasi terdampak bencana serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dalam rangka pemulihan kawasan transmigrasi secara berkelanjutan,” pungkas Dirjen Sigit. (rdp/smr)





