Amerika Serikat (AS) mengklaim telah menyerang sejumlah situs militer Iran pada akhir pekan, sementara Teheran melaporkan pihaknya membalas dengan menargetkan sebuah pangkalan AS. Ini menandai eskalasi besar ketiga dalam sepekan di sekitar Selat Hormuz.
Semarak.co – Komando Pusat AS (Centcom) menyebut serangan itu sebagai “serangan untuk membela diri” sebagai respons atas “tindakan agresif Iran”, yang menurut mereka termasuk penembakan jatuh sebuah drone Paman Sam di atas perairan internasional.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan, mereka menargetkan sebuah pangkalan udara yang digunakan oleh pasukan AS untuk melancarkan serangan ke wilayah selatan Iran, tanpa merinci lokasi spesifiknya, lansir Bbc.com dan CBS News (2/6/2026).
Sementara itu, Kuwait — yang menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer AS –mengatakan sistem pertahanan udaranya “menghadapi serangan rudal dan drone yang bersifat permusuhan”, katanya tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Presiden AS Donald Trump pun mendesak para pengkritiknya untuk “duduk santai dan tenang” dalam unggahan di media sosial Truth Social pada Senin pagi (1/6/2026), seraya mengatakan bahwa semuanya “akan berakhir dengan baik pada akhirnya”.
Presiden dari Partai Republik AS itu juga menyatakan bahwa Republik Iran “sangat ingin mencapai kesepakatan, dan itu akan menjadi kesepakatan yang baik bagi AS”. Serangan terbaru ini menjadi rangkaian saling balas antara kedua pihak.
Terutama setelah negosiasi dengan Iran untuk secara cepat untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan gagal mencapai kemajuan pada akhir pekan lalu. Media-media AS melaporkan bahwa Presiden Trump meminta perubahan terhadap syarat-syarat kesepakatan tersebut.
Perubahan yang dimaksud terkait dengan jalur pelayaran di Selat Hormuz serta penghapusan uranium yang telah diperkaya pada tingkat tinggi, menurut laporan CBS News, mitra BBC di AS. Gedung Putih tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar tersebut.
Kepala perunding Iran mengatakan pada hari Ahad (31/5/2026) bahwa Teheran tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun kecuali hak-hak Iran sepenuhnya dijamin. Militer AS menyatakan bahwa pada Sabtu dan Minggu mereka melancarkan “serangan untuk membela diri terhadap radar Iran serta fasilitas komando dan kendali drone.
Alasan melancarkan serangan yang dilakukan AS demi membela diri terhadap radar Iran serta fasilitas komando dan kendali drone di kota Goruk, dekat pantai selatan Republik Islam Iran, serta di Qeshm, sebuah pulau di Selat Hormuz.
Dalam unggahan di platform media sosial X, Centcom mengatakan jet tempur AS menyerang sistem pertahanan udara militer Iran, sebuah stasiun kendali darat dan dua drone yang disebut “menimbulkan ancaman nyata bagi kapal-kapal yang melintas di perairan kawasan”.
Tidak ada personel AS yang terluka dalam serangan, menurut militer. Sementara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan pihaknya menargetkan pangkalan udara yang digunakan AS untuk melancarkan serangan terhadap menara komunikasinya di Pulau Sirri di Teluk, sekitar 65km dari garis pantai selatan Iran.
Militer Republik Islam Iran juga menyatakan respons mereka akan “sepenuhnya berbeda” jika “agresi” Paman Sam kembali terjadi, menurut pernyataan IRGC yang dilaporkan kantor berita semi-resmi Iran, Fars di Teheran.
Militer Kuwait pada Senin mengatakan pihaknya “menghadapi serangan rudal dan drone yang bersifat permusuhan”, namun tidak merinci lokasi pencegatan itu. Kantor berita negara KUNA melaporkan sirene peringatan serangan udara terdengar di seluruh negeri.
Teheran sebelumnya menargetkan sebuah pangkalan udara di Kuwait pekan lalu sebagai respons atas serangan udara AS sebelumnya, yang menurut Washington dilakukan untuk mencegah kapal-kapal Iran dan serangan rudal menebar ranjau di jalur pelayaran tersebut.
Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April, Trump berulang kali menyatakan, AS dan Iran semakin dekat untuk mencapai kesepakatan permanen dan bahwa negosiasi terus mengalami kemajuan, namun hingga kini belum ada kesepakatan resmi yang tercapai.
Trump dan para penasihat seniornya bertemu Jumat untuk mengambil “keputusan akhir” terkait kerangka kerja perpanjangan gencatan senjata. Namun, pertemuan berakhir tanpa kejelasan, sebelum kemudian muncul laporan presiden meminta perubahan terhadap naskah kesepakatan.
Syarat terbaru mencakup penghentian kekerasan selama 60 hari, seruan untuk membuka kembali Selat Hormuz, serta kerangka untuk memulai kembali negosiasi mengenai program nuklir Iran, demikian laporan yang dibuat CBS News.
Sekitar seperlima dari pengiriman minyak global dan gas alam cair (LNG) biasanya melintasi jalur pelayaran di Teluk tersebut, sehingga embargo perdagangan de facto yang terjadi saat ini mendorong naiknya harga bahan bakar di seluruh dunia. (net/bc/cn/kna/frs/ts/x/kim/smr)





