Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka memantau hari terakhir Pelayanan KB Serentak Awal Tahun dalam program PANTAU KB di Yogyakarta. Kegiatan ini menargetkan 6.376 peserta KB baru di DIY.
Semarak.co – Wamen Isyana menegaskan, perluasan pelayanan menjadi bagian dari strategi pemerataan akses dan penguatan kualitas keluarga. Program ini tidak hanya dilaksanakan di kabupaten/kota prioritas, tetapi juga menjangkau wilayah non-prioritas.
“Perencanaan keluarga menjadi kunci dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045, karena pembangunan dimulai dari keluarga yang terencana,” ujarnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Rabu (18/2/2026).
Selain pelayanan reguler, PANTAU KB di DIY juga memprioritaskan pelayanan KB Pascapersalinan (KBPP) bagi ibu yang baru melahirkan. Layanan diberikan secara gratis guna memastikan keberlanjutan penggunaan kontrasepsi sejak masa pascamelahirkan serta memperkuat efektivitas pengaturan jarak kelahiran.
Kepala Perwakilan BKKBN DIY Mohamad Iqbal Apriansyah menegaskan, pelayanan KB tidak bersifat insidental, melainkan dilakukan secara berkelanjutan dalam empat momentum setiap tahun, yakni melalui PANTAU KB, Momentum Hari Keluarga Nasional, Bakti Ikatan Bidan Indonesia, dan Hari Kontrasepsi Sedunia.
Momentum PANTAU KB menjadi pembuka rangkaian pelayanan KB tahun 2026, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah dalam memperluas jangkauan layanan di wilayah prioritas maupun non-prioritas sebagai bagian dari penguatan program keluarga berencana secara konsisten dan berkelanjutan sepanjang tahun.
1.008 Dipa di Prambanan, Wamen Isyana Soroti Peran Keluarga Menuju Generasi Emas 2045
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menjadi narasumber pada acara puncak Prambanan Shiva Festival yang digelar di kawasan Candi Prambanan, Minggu (15/2/2026) malam.
Wamen Isyana menekankan bahwa penyalaan 1.008 Dipa tidak hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong dan pembelajaran nilai peradaban bagi keluarga Indonesia.
Menurut Wamen Isyana, festival ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan beragam. Ia menegaskan bahwa Prambanan Shiva Festival tidak hanya dihadiri umat Hindu, tetapi juga terbuka bagi masyarakat lintas agama dan wisatawan untuk bersama-sama menikmati kekayaan budaya Nusantara.
Ia juga menyampaikan bahwa pembelajaran sejarah dan spiritualitas dari peradaban masa lalu, termasuk pembangunan Candi Prambanan pada abad ke-9, perlu dikenalkan sejak dini di lingkungan keluarga.
“Pelajaran-pelajaran, nilai-nilai, spiritualitas, bagaimana kita belajar dari sejarah dan peradaban Nusantara yang sangat luar biasa, itu akan lebih maksimal jika bisa dimulai dikenalkan sejak dari unit terkecil yaitu keluarga,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan nilai tersebut penting dalam memanfaatkan bonus demografi menuju Generasi Emas 2045. “Ini juga salah satu bentuk gotong royong. Kolaborasi Kementerian Pariwisata, Kementerian Kebudayaan, kemudian juga dukungan berbagai pihak sehingga hari ini bisa terwujud rangkaian Prambanan Shiva Festival,” katanya.
Isyana juga menyinggung pentingnya menjaga kawasan cagar budaya dengan semangat ASRI—Aman, Sehat, Resik, dan Indah—agar lingkungan tetap terawat serta nyaman bagi seluruh pengunjung yang hadir.
Rangkaian puncak acara diawali pukul 18.00 WIB dengan Ritual Abhisekam kedua dan percikan air suci (water blessing), dilanjutkan pukul 20.00 WIB dengan bunyi sangkakala sebagai penanda penyalaan Deepa.
Sebanyak 35 pandita diiringi pinandita berjalan membawa air suci dan api suci menuju area utama, diikuti tamu VIP, wisatawan, dan umat. Sebanyak 1.008 Dipa kemudian dinyalakan secara bergotong royong hingga membentuk wajah Dewa Shiva, dilanjutkan doa lintas agama serta video mapping sebagai puncak visual dan spiritual festival. (hms/smr)




