Untuk akhiri perang, Republik Islam Iran berbagi “kerangka kerja yang dapat diterapkan” dengan Pakistan, yang bertujuan untuk mengakhiri perang Amerika Serikat (AS) secara permanen. Itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, seperti dilaporkan Anadolu.
Semarak.co – Dalam sebuah unggahan di perusahaan media sosial AS X setelah kunjungan ke Islamabad, Pakistan, Araghchi mengatakan diskusi difokuskan pada upaya untuk memulihkan stabilitas di kawasan dan mengakhiri konflik.
“Kami berbagi posisi Iran mengenai kerangka kerja yang dapat diterapkan untuk mengakhiri perang terhadap Iran secara permanen,” kata Menlu Iran Araghchi, tanpa memberikan detail kerangka kerja yang dimaksud lebih lanjut.
Araghchi menggambarkan perjalanan itu sebagai “sangat bermanfaat,” memuji peran Pakistan dalam memfasilitasi dialog dan “upaya persaudaraan” untuk membantu membawa perdamaian kembali ke kawasan konflik tersebut.
Ia juga menyatakan skeptisisme tentang niat Washington. “Belum melihat apakah AS benar-benar serius tentang diplomasi,” katanya. Pakistan telah bertindak sebagai perantara antara Teheran dan Washington di tengah ketegangan yang sedang berlangsung setelah eskalasi militer baru-baru ini.
Araghchi tiba di Pakistan pada Jumat malam dan bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di Islamabad pada hari Sabtu, di tengah upaya untuk menghidupkan kembali pembicaraan perdamaian yang terhenti antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang delapan minggu.
Ia juga akan melakukan perjalanan ke Muscat dan Moskow. Putaran pertama diadakan di Islamabad dua minggu lalu tetapi gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari dan melanda seluruh Timur Tengah.
Pembicaraan atau perundingan dengan apa yang disebut gencatan senjata tersebut dilakukan setelah Pakistan menengahi gencatan senjata selama dua minggu pada 8 April 2026 yang kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada hari Sabtu (25/4/2026) mengatakan bahwa ia telah membatalkan kunjungan yang direncanakan ke Pakistan oleh utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat Jared Kushner.
“Saya sudah memberi tahu orang-orang saya beberapa waktu lalu bahwa mereka akan segera pergi, dan saya berkata, ‘Tidak, kalian tidak akan melakukan penerbangan 18 jam untuk pergi ke sana. Kita punya semua kartu,” katanya.
“Mereka bisa menghubungi kita kapan saja, tetapi kalian tidak akan melakukan penerbangan 18 jam lagi hanya untuk duduk dan membicarakan hal-hal yang tidak penting’,” kata Trump kepada Fox News seperti dilansir SindoNews.com pada 26/4/2026 melalui telepon.
Pemerintah Republik Iran menolak untuk mengadakan pembicaraan langsung dengan AS dan mengatakan bahwa pengamatan akan disampaikan kepada Pakistan. Adapun 6 Poin Perbedaan Perundingan AS dan Iran Untuk Akhiri Perang, adalah, sbb:
Pertama, mengenai Program nuklir Iran, dimana AS ingin pemerintah Iran menghentikan program nuklirnya sepenuhnya, tetapi pihak Teheran mengatakan bahwa pembatasan semacam itu harus untuk jangka waktu terbatas.
Kedua, persediaan uranium Iran yang ada saat ini, Donald Trump mengatakan AS ingin mengambil alih persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran sebanyak 400 kg (880 lbs). Dan Teheran telah menolak permintaan tersebut.
Ketiga, soal Selat Hormuz, Iran bersikeras akan memertahankan pembatasan pengiriman di jalur air tersebut sampai AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Namun Trump mengatakan blokade akan tetap berlaku sampai kesepakatan tercapai.
Poin keempat, aset yang dibekukan para oleh para pejabat pemerintah Republik Islam Iran adalah menuntut pencabutan sanksi dan pencairan aset senilai 20 miliar dolar Amerika Serikat sebagai bagian dari kesepakatan yang langgeng.
Kelima, ganti rugi akibat kekacauan yang disebabkan oleh perang Iran melawan AS-Israel juga menuntut kompensasi atas kerusakan yang disebabkan oleh serangan Paman Sam dan Israel, yang berjumlah sekitar 270 miliar dolar AS. (net/snc/x/fn/kim/smr)





