Babak untuk kesepakatan damai dengan Republik Iran dan mengakhiri segera perang Timur Tengah, sudah mendekati final. Bahkan, Amerika Serikat (AS) sudah mengumandangkan kesepakatan itu yang disebut Presiden AS Donald Trump, sudah deal.
Semarak.co – Presiden negeri Paman Sam AS, Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan besar dengan pemerintah Republik Islam Iran telah tercapai untuk dengan secepatnya mengakhiri perang di Timur Tengah.
“Kita baru saja mencapai kesepakatan besar (big deal) dalam perang dengan Republik Iran,” kata Donald Trump kepada wartawan di Oval Office, pada hari Kamis (11/6/2026), seperti dilansir CnnIndonesia.com dari Kantor Berita AFP.
Presiden Donald Trump mengatakan bahwa dokumen kesepakatan itu saat ini sedang diselesaikan dan diperkirakan rampung dalam beberapa hari ke depan. Dokumen ini kemungkinan akan diteken di salah satu negara benua biru Eropa.
“Kedua pihak, tergantung pada penyelesaian dokumen yang seharusnya selesai dalam beberapa hari ke depan, mungkin akan melakukan penandatanganan, kemungkinan di Eropa. Ini adalah hal yang luar biasa,” ucap Trump, seperti dikutip AFP.
Pengumuman ini disampaikan hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump berjanji akan melancarkan serangan baru ke kamp Republik Islam Iran usai kedua negara kembali panas dalam sepekan terakhir.
Trump mengatakan bahwa pihak penandatangan dari AS nantinya akan diwakili oleh Wakil Presiden AS JD Vance. Trump pada kesempatan itu juga meyakini bahwa kesepakatan ini telah disetujui oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Sebab, negara Persia Republik Iran, menurut Trump, sudah “mengalami kekalahan telak” sehingga akan setuju untuk tidak pernah memiliki atau memproduksi lagi senjata nuklir, syarat negosiasi yang selama ini didorong Paman Sam.
Trump juga mengatakan bahwa Selat Hormuz, jalur air vital yang baru-baru ini diklaim ditutup lagi oleh penguasa Iran, akan dibuka setelah kesepakatan ditandatangani. “Ini adalah nota kesepahaman yang sangat kuat, meskipun agak konseptual,” ucap Trump.
AS dan Iran kembali panas setelah helikopter Apache Washington ditembak jatuh di Selat Hormuz pada awal pekan ini. Pasukan militer kedua negara saling tembak dan membuat rentan nasib gencatan senjata yang berlaku efektif sejak April 2026.
Pada hari Kamis pagi, 11 Juni 2026, Presiden Paman Sam Donald Trump sempat mengobral sumpah akan menggempur negara Persia itu dengan “sangat keras” dan merebut Pulau Kharg, infrastruktur minyak utama Teheran.
Namun, beberapa jam kemudian, Presiden AS Donald Trump menarik kembali pernyataannya dengan mengatakan bahwa “poin-poin terakhir” telah disetujui oleh semua pihak yang terlibat — untuk segera diimplementasikan.
“Berdasarkan fakta bahwa diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya … membatalkan serangan dan pemboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam ini,” kata Trump. (net/cnn/afp/kim/smr)





