Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, meninjau proses pembelajaran di SDN 6 Sumerta, Denpasar, Bali. Dia menekankan pentingnya pembelajaran mendalam (deep learning) melalui penguatan literasi dan kebiasaan menulis sejak dini.
Semarak.co – Menteri Mu’ti berinteraksi langsung dengan murid-murid kelas 4 melalui pembelajaran Bahasa Indonesia. Para murid diajak memahami penggunaan kata hubung serta menyusun kalimat sederhana secara aktif dan kontekstual.
“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Supaya ilmu kita tidak lupa, maka kita tulis sehingga ilmunya menjadi kita ikat dengan baik,” pesan Menteri Mu’ti kepada murid-murid SDN 6 Sumerta, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Sabtu (9/5/2026).
Ia menambahkan bahwa aktivitas menulis tidak hanya membantu memperkuat pemahaman dan daya ingat peserta didik, tetapi juga melatih koordinasi motorik serta membangun kebiasaan belajar yang aktif.
Kepala SDN 6 Sumerta, Luh Made Wardyaningsih, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Menteri Mu’ti dan perhatian pemerintah terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di sekolahnya.
“Terima kasih kami ucapkan atas kunjungan serta pesan penuh makna dari Bapak Menteri. Semoga bantuan revitalisasi yang diberikan pemerintah kepada sekolah kami memberikan manfaat yang besar dalam menunjang sekolah yang aman dan nyaman bagi siswa-siswi kami ke depannya,” tutupnya.
Kemendikdasmen Latih Guru SD Mengajar Bahasa Inggris untuk Wujudkan Pembelajaran Bermutu
Kemendikdasmen meluncurkan program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI) yaitu pelatihan bagi guru SD dalam mengajar Bahasa Inggris di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat, Jumat (8/5).
Peluncuran ini menjadi tanda arah baru transformasi pendidikan Indonesia menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran (Mapel) wajib di tingkat Sekolah Dasar mulai tahun ajaran baru 2027/2028.
Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menyampaikan program peningkatan kapasitas ini merupakan respons atas masih rendahnya peringkat Indonesia dalam Indeks Kecakapan Bahasa Inggris global.
Berdasarkan hasil pemeringkatan yang dilakukan oleh Education First EPI (English Proficiency Index, 2024), Indonesia menempati ranking 80 dari 116 negara di dunia, dan ranking 12 dari 23 negara di Asia.
“Saya ingin menekankan agar bahasa Inggris ini jangan berhenti sebagai mata pelajaran yang diajarkan karena tidak akan menjadikan anak didik kita itu mahir berbahasa kalau hanya berhenti sebagai pelajaran tapi harus betul-betul sebagai alat untuk berkomunikasi,” ungkapnya.
Atip memberikan penguatan kepada para guru peserta pelatihan agar mulai menggunakan Bahasa Inggris saat memberikan pembelajaran Bahasa Inggris agar para murid menjadi terbiasa. Ia optimistis pelatihan ini mampu meningkatkan kecakapan guru Indonesia dalam memberikan pembelajaran berbahasa Inggris di kelas.
“Belajar Bahasa Inggris di SD jangan berhenti sebagai pelajaran. Oleh karena itu, berdialoglah dalam Bahasa Inggris saat menyampaikan pelajaran dan jangan takut untuk belajar Bahasa Inggris,” ungkapnya.
Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, mengungkapkan program PKGSD-MBI merupakan sebuah upaya akselerasi dalam meningkatkan kemahiran murid dalam berbahasa Inggris.
Sebanyak 5.777 guru dari 34 provinsi dan 177 Kabupaten/Kota dipastikan berpartisipasi dalam pelatihan tahap pertama ini. Jabar dengan peserta terbanyak mencapai peserta 609. Provinsi lain Jawa Tengah dengan 588 peserta, Jawa Timur 383 peserta, Riau 321 peserta, dan 278 peserta di Sulawesi Selatan.
Guru peserta PKG SD MBI asal Kabupaten Biak, Papua, Ima, mengaku program pelatihan tersebut membantunya membangun kepercayaan diri untuk mulai mengajar bahasa Inggris di sekolah dasar meski bukan berlatar belakang guru bahasa Inggris.
Selama mengikuti pelatihan daring hingga in-service training, ia merasa mendapatkan kesempatan baru untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan mengajar demi mendukung pembelajaran siswa di daerahnya.
“Saya awalnya takut, malu, dan tidak berani karena saya bukan guru bahasa Inggris dan saya adalah guru PGSD. Namun lewat program ini saya bersyukur boleh mendapatkan kesempatan belajar lagi dan saya ingin menunjukkan kepada peserta didik saya bahwa bahasa Inggris tidak susah, bahasa Inggris is easy,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang Eka Ganjar Kurniawan mengatakan, program ini sangat positif terutama di era pendidikan abad 21. Pemkab Sumedang akan meningkatkan kompetensi guru kelas yang sudah ada dengan melakukan pelatihan secara mandiri.
“Dasar pendidikan bahasa Inggris sangat dibutuhkan agar murid mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif, baik itu di dalam maupun di luar negeri,” ujar Eka. (hms/smr)





