Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengajukan lima syarat untuk mencapai kesepakatan dengan pemerintah Republik Islam Iran. Salah satunya, negara Persia itu harus menyerahkan 400 kg uranium yang diperkaya kepada pemerintah Paman Sam.
Semarak.co – Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah menguraikan lima syarat utama untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Sedangkan Teheran juga masih tetap dengan syarat-syarat utama yang sudah mereka ajukan sebelumnya kepada Washington.
Untuk itu, Presiden AS Donald Trump mengancam Iran untuk segera membuat kesepakatan, dengan menyatakan “waktu terus berjalan. “Mereka sebaiknya segera bergerak, cepat, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka,” tulisnya di akun Truth Social-nya, @realDonaldTrump.
“Waktu sangat penting!” tegas Trump. 5 syarat AS untuk Iran, lapor Kantor berita Fars yang berbasis di Iran seperti dilansir Sindonews.com (18/5/2026), telah menguraikan lima syarat yang diajukan AS untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran. Apa saja lima syarat itu?
Pertama, Iran hanya boleh mengoperasikan satu fasilitas nuklir. Kedua, AS menolak untuk membayar kompensasi atau ganti rugi apa pun kepada Iran. Ketiga, Iran harus menyerahkan 400 kilogram uranium yang diperkaya kepada AS
Keempat, Paman Sam menolak melepaskan bahkan, (lebih dari) 25% dari aset Republik Iran yang dibekukan. Dan kelima, Amerika juga mensyaratkan penghentian perang di semua lini bergantung pada hasil negosiasi (yang disetujui kedua belah pihak).
Sementara itu, syarat-syarat utama yang diajukan Iran belum berubah. Yakni, perang harus diakhiri di semua front — termasuk di Lebanon, mencabut sanksi, melepaskan aset Iran yang dibekukan, memberikan kompensasi atas kerusakan perang, dan pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
Laporan lain dari Ynet menyebutkan, ancaman agresi dari AS dan Israel akan tetap ada bahkan jika Iran memenuhi syarat-syarat Amerika. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei menuduh AS menggunakan diplomasi sebagai kedok untuk tujuan militer.
Esmail menuduh bahwa AS dan Israel secara keliru mengklaim bahwa mereka bertindak untuk melindungi perdamaian dan stabilitas di pasar energi global, tetapi pada kenyataannya, mereka bertanggung jawab atas terciptanya ketidakstabilan dan konflik.
“Ini adalah taktik sinis mereka yang sudah biasa: menciptakan krisis dan perang, kemudian meningkatkannya lebih lanjut di bawah panji mulia ‘memulihkan stabilitas’ dan ‘membela perdamaian’. Mereka menciptakan kehancuran dan menyebutnya perdamaian,” tulisnya di X, Senin.
“Kebohongan besar berikutnya yang diluncurkan (AS) untuk membenarkan ‘perang pilihan’ ilegal mereka adalah klaim bahwa mereka ‘melestarikan perdamaian dan stabilitas di pasar energi global’,” lanjut dia, dalam unggahannya di media sosial X.
Selanjutnya, Jubir Kemenlu Iran itu menyebut dalam unggahannya di medsos yang dulunya bernama Twitter. “Namun kenyataannya, justru tindakan provokasi perang yang gegabah dari rezim AS dan Israel-lah yang menghancurkan harapan yang ada.”
Trump baru-baru ini menolak proposal perdamaian 14 poin Iran. Sebagai tanggapan, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memeringatkan bahwa jika AS tidak menerima proposal Iran, para wajib pajak AS dapat menanggung konsekuensi yang berat.
Ketegangan meningkat setelah serangan militer gabungan AS-Israel menghantam Iran pada 28 Februari 2026 lalu. Setelah serangan tersebut, Iran melakukan serangan balasan yang mengganggu jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Gencatan senjata kemudian disepakati pada 8 April, dengan mediasi dari Pakistan. Namun, pembicaraan lanjutan tidak menghasilkan kesepakatan perdamaian akhir. Gencatan senjata diperpanjang, tetapi tidak ada kesepakatan permanen yang tercapai. (net/snc/kbf/x/kim/smr)





