Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menggelar perayaan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN), ke-30 bertema “Lansia Tangguh, Indonesia Tumbuh” pada Selasa (9/6/2026).
Semarak.co – Mendukbangga/Kepala BKBBN Wihaji menyatakan, ini adalah bagian dari program Kemendukbangga supaya lansia diberikan aktivitas supaya tidak melamun sepanjang hari.
“Kalau melamun, yang dipikirkan penyakit. Karena tidak ada aktivitas sehingga yang sekarang tidak perlu dipikirkan, jadi dipikirkan,” ujar Wihaji, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Selasa malam (9/6/2026).
Wihaji menekankan Kemendukbangga/BKKBN memiliki program lansia berdaya karena terdapat 11,97 % aging population di Indonesia dengan rentang usia 60-74 tahun yang memerlukan aktivitas, seperti lansia entrepreneur dan Sekolah Lansia, sehingga para lansia tidak kesepian.
Untuk Sekolah Lansia, terdapat tiga standar (Standar 1, Standar 2, dan Standar 3) dengan kurikulum yang berisi, antara lain tujuh dimensi lansia tangguh, kesehatan mental, pencegahan dan penanganan berbagai penyakit, senam dan gizi lansia, serta kewirausahaan lansia.
Peserta Sekolah Lansia yang sudah selesai 12 kali pertemuan di setiap standar Sekolah Lansia akan dinyatakan lulus dan wisuda. Di kesempatan ini, diselenggarakan wisuda Sekolah Lansia dan dihadiri oleh 387 wisudawan yang tersebar di berbagai Sekolah Lansia di Provinsi DKI Jakarta dan Provinisi Jawa Barat.
Perayaan HLUN ke-30 juga melibatkan beberapa mitra kerja Kemendukbangga, salah satunya dengan penandatanganan Kesepahaman Bersama Kemendukbangga dan Ikatan Ahli Urologi Indonesia tentang Sinergitas Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana dengan Program Ikatan Ahli Urologi Indonesia.
Selain penandatanganan kerja sama, mitra kerja Kemendukbangga/BKKBN juga dilibatkan dalam pelayanan kesehatan di kesempatan yang sama. Para lansia yang hadir mendapatkan pelayanan kesehatan gratis, seperti pemeriksaan tekanan darah dan laboratorium sederhana (asam urat, kolesterol dan gula darah).
Lansia berdaya juga tampak pada keterlibatan para lansia yang menampilkan pertunjukan kesenian di kegiatan ini, antara lain pertunjukan kesenian angklung dari Swastisvarna, pertunjukan gerak tari dan lagu dari Senior Club Indonesia, serta pertunjukan dari beberapa Sekolah Lansia.
Sekolah Lansia, Lebih Dari Sekadar Pengisi Waktu di Usia Senja
Karena aging population di Indonesia hampir 12 persen, yang terpenting adalah membuat para lansia tersebut tetap memiliki aktivitas yang produktif, salah satunya adalah melalui program Sekolah Lansia.
Hal ini disampaikan Mendukbangga Wihaji pada perayaan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 bertema “Lansia Tangguh, Indonesia Tumbuh” di Ballroom Kemendukbangga/BKKBN pada Selasa (9/6/2026).
Dalam bonus demografi kedua, lansia berperan sebagai sumber daya yang tetap produktif melalui konsep silver economy, yaitu aktivitas ekonomi yang memanfaatkan potensi dan kebutuhan penduduk lanjut usia.
Lansia dapat terus bekerja, menjadi konsultan atau mentor, serta menjalankan usaha berdasarkan pengalaman dan jaringan yang dimiliki. Selain itu, lansia juga dapat berkontribusi sebagai investor melalui tabungan dan aset yang telah terkumpul selama masa produktif.
Silver economy juga mendorong pertumbuhan berbagai sektor, seperti layanan kesehatan, teknologi ramah lansia, pariwisata, dan jasa keuangan. Di samping kontribusi ekonomi langsung, lansia berperan dalam mentransfer pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai sosial kepada generasi muda.
Dengan dukungan kesehatan, pendidikan, dan kebijakan yang inklusif, lansia dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan membantu mewujudkan bonus demografi kedua yang berkelanjutan.
Dengan harapan agar lansia dapat bermanfaat bagi diri sendiri, menemukan kebahagiaan, berbagai aktivitas yang produktif turut diajarkan di Sekolah Lansia, seperti tujuh dimensi lansia tangguh, pencegahan risiko jatuh, manajemen kegawatdaruratan, pendampingan pasca-stroke, kewirausahaan lansia, serta motivasi pemberdayaan lansia.
“Saya bangga sekali mengikuti kegiatan di Sekolah Lansia, saya mendapatkan pengetahuan kesehatan, bertemu dengan teman-teman, pikiran kita jadi nggak beku, menjadi kegembiraan bagi saya,” tutur Ema Amina (64), wisudawan Sekolah Lansia Wijaya Kusuma Bogor.
Hal yang sama pun dirasakan oleh Nyimas Aliah (65), wisudawan Sekolah Lansia Ratu Sinuhun, yang menyatakan bahwa para peserta di Sekolah Lansia merasa lebih senang bertemu dengan sesama komunitas, serta mendapatkan program-program yang ramah lansia. (hms/smr)





