Mentrans Iftitah Sebut Pala dan Cengkeh Bisa Jadi Penggerak Ekonomi Baru Halmahera Utara

enteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara bersama Dubes Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong saat kunjungan ke Halmahera Utara.

Transformasi kawasan transmigrasi di Halmahera Utara mulai menunjukkan dampak nyata. Pengembangan industri hilirisasi kelapa tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas daerah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dalam skala besar bagi masyarakat setempat.

Semarak.co – Hal tersebut disampaikan Bupati Halmahera Utara, Piet Hein Babua, saat mendampingi kunjungan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara bersama Dubes Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, Rabu (3/6).

Bacaan Lainnya

Dia menyatakan, setahun terakhir, PT Natural Indococonut Organik (NICO) telah menyerap 4.000 tenaga kerja,  85% di antaranya masyarakat lokal. Angka tersebut menjadikan perusahaan tersebut sebagai salah satu kontributor terbesar penciptaan lapangan kerja di  Halmahera Utara.

“Menurut saya angka ini sangat besar bagi ukuran masyarakat Halmahera Utara. Kehadiran industri seperti ini memberikan kontribusi nyata terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar dirilis humas usai acara melalui WAGroup ForWaTrans, Selasa malam (9/6/2026).

Halmahera Utara memiliki sekitar 47 ribu hektare perkebunan kelapa dengan lebih dari 6,9 juta pohon dan produksi mencapai sekitar 109 ribu ton per tahun. Potensi tersebut diperkuat melalui kebijakan hilirisasi yang memastikan lebih banyak hasil kelapa diolah di daerah sehingga nilai tambahnya dinikmati masyarakat setempat.

Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman menegaskan bahwa masa depan Halmahera Utara tidak hanya bertumpu pada kelapa. Daerah ini juga memiliki komoditas unggulan lain seperti pala, cengkeh, dan kakao yang berpotensi menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi berikutnya.

“Kelapa Halmahera Utara merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia. Tetapi selain kelapa, daerah ini juga memiliki pala, cengkeh, kakao, dan berbagai komoditas lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta pasar yang besar,” ujarnya.

Menurut Mentrans, perhatian terhadap potensi tersebut juga terlihat dari ketertarikan Duta Besar Tiongkok saat melihat langsung komoditas pala di lapangan. “Tadi ketika melihat pohon pala, Pak Dubes langsung meminta berhenti untuk melihat lebih dekat. Ini menunjukkan rempah-rempah  memiliki daya tarik tersendiri,” katanya.

Selain membuka akses pasar, pemerintah juga tengah menyiapkan sejumlah lahan HPL transmigrasi yang berstatus clean and clear guna mendukung masuknya investasi baru.

“Sudah ada investor yang mencari lahan untuk membangun industri di sini. Kami sedang memastikan beberapa HPL transmigrasi yang clean and clear agar dapat dimanfaatkan untuk pembangunan pabrik-pabrik baru,” ujar Mentrans.

Wakil Gubernur Maluku Utara, Sabrin Sehe, menambahkan bahwa selain kelapa, daerahnya memiliki potensi besar pada komoditas pala, kakao, dan cengkeh yang layak dikembangkan bersama mitra internasional.

Ke depan, Kementerian Transmigrasi menargetkan kawasan transmigrasi tidak hanya menjadi lokasi produksi komoditas, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, memperkuat industri pengolahan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“PT NICO menunjukkan bahwa ketika masyarakat lokal dilibatkan dan diberikan kesempatan untuk berkembang, industri dapat tumbuh dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Model seperti inilah yang ingin terus kita dorong dalam Transformasi Transmigrasi,” pungkas Menteri Iftitah. (hms/smr)

Pos terkait