Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah gelombang serangan dalam beberapa malam terakhir menghantam sejumlah wilayah strategis di Iran bagian selatan. Serangan tersebut disebut sebagai yang paling intens sejak diumumkannya nota kesepahaman (MoU).
Semarak.co – Kesepakatan itu sebelumnya diharapkan menjadi jalan menuju gencatan senjata terbatas. Sejumlah kota dan kawasan penting dilaporkan menjadi sasaran, termasuk Sirik, Jask, Bandar Abbas, Kangan, Bandar-e Deyr, Asaluyeh, Konarak, hingga Chabahar.
Wilayah-wilayah tersebut, seperti dilansir SindoNews.com dari Al Jazeera pada hari Ahad 12 Juli 2026, memiliki nilai strategis karena berada di sepanjang pesisir Teluk Persia. Letaknya juga berdekatan dengan Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Selain fasilitas militer, laporan juga menyebut beberapa pusat ekonomi, kawasan komersial, serta dermaga ikut terdampak serangan. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan meluasnya dampak konflik terhadap aktivitas perdagangan. Distribusi energi di kawasan pun terancam terganggu.
Di tengah meningkatnya eskalasi, Iran menegaskan tetap siap memberikan respons terhadap setiap serangan yang diterimanya. Namun, Teheran juga menyatakan masih membuka peluang bagi jalur diplomatik. Langkah tersebut dinilai penting untuk meredakan ketegangan yang terus meningkat.
Ketua firma penasihat strategis The Killowen Group, Harlan Ullman, menilai posisi Iran secara strategis lebih menguntungkan dibanding AS. Menurut eks perwira AL AS itu, pengaruh Iran terhadap Selat Hormuz menjadi faktor utama. Kondisi itu membuat Washington menghadapi tantangan yang tidak mudah.
Ullman juga memertanyakan tujuan strategis AS dalam konflik yang sedang berlangsung. Menurutnya, meski AS memiliki keunggulan militer yang sangat besar, belum tentu kekuatannya mampu memaksa Iran mengubah kebijakannya. Ia menilai hasil yang diinginkan Washington sulit untuk dicapai.
Ia menambahkan, ancaman Iran untuk mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz dan meningkatkan tekanan terhadap negara-negara Teluk dapat memberikan dampak strategis yang besar. Langkah itu dinilai lebih efektif dibandingkan operasi udara yang terus dilakukan AS. Karena itu, posisi tawar Teheran dinilai tetap kuat.
Ullman mengingatkan konflik berpotensi menjadi perang regional lebih luas. Menurutnya, sekitar 20% pasokan energi dunia melewati Selat itu hingga gangguan terhadap jalur itu berdampak serius. Jika distribusi energi terhenti, perekonomian global diperkirakan akan merasakan dampaknya dalam waktu singkat. (net/snc/alz/kim/smr)





